Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
26


__ADS_3

Menyadari apa yang baru ia lakukan ini adalah kesalahan fatal, Alvin seketika saja menjadi ketakutan. Ia bahkan tak berani menatap orang di hadapannya yang ternyata seorang perempuan.


Alvin semakin terkejut saat menyadari tas yang di pegang perempuan itu tampak jatuh ke atas lantai beserta beberapa isinya terhambur keluar.


Meskipun dalam posisi menunduk, Alvin tahu kalau gadis itu tengah menatap padanya. Apa gadis ini marah?


"Kau ini kan pe-"


"Maaf nona. Saya tidak sengaja menabrak anda. Saya tadi buru-buru!" potong Alvin dengan cepat membungkuk untuk membantu mengambil isi tas gadis itu yang berceceran


Tak ada jawaban.


Gadis itu hanya diam, masih memperhatikan Alvin yang tengah mengambil barang-barang miliknya.


"Ini tas anda." Alvin masih menunduk sembari menyerahkan tas milik gadis itu.


"Sekali lagi saya minta maaf, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja." ujar Alvin meminta maaf untuk yang kesekian kali sebagai tanda penyesalan.


Masih tak ada tanggapan.


Hal itu membuat Alvin mendongak untuk menatap wajah gadis itu. Namun ia malah tercengang saat melihat wajah gadis itu.


Mata Alvin tak berkedip dan terus menatap wajah gadis cantik itu. Ia benar-benar terpana. Gadis di hadapannya ini benar-benar definisi dari seorang bidadari.


'Cantik sekali!' batin Alvin terpesona.


Tapi tunggu dulu. Kenapa wajah gadis ini tampak tak asing? Apakah Alvin pernah melihatnya di suatu tempat?


Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya kencang. Ini jelas bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu, kan?

__ADS_1


"Adna tidak apa-apa?" tanya Alvin gugup sementara tangannya masih terulur, menyerahkan tas milik gadis itu. "Oh ya, ini tas milik anda."


Gadis itu menatap uluran Alvin itu.


"Terima kasih." ujar gadis itu sambil meraih tas miliknya dari tangan Alvin.


"Saya minta maaf, karena sudah menabrak anda. Saya tadi-"


"Tidak masalah!" ujar gadis itu.


Gadis itu diam selama beberapa detik. Ia lalu menatap penampilan Alvin dari atas ke bawah, membuat Alvin sedikit heran.


Tubuh Alvin membeku saat tiba-tiba saja gadis itu memamerkan senyum termanisnya.


"Apa kau ini pelayan baru sini?" kata gadis itu.


"Maksudku, aku tak pernah melihatmu di klub ini sebelumnya."


"Ah itu… anda benar, saya memang pelayan baru di sini."


Gadis cantik itu mengangguk. "Sudah kuduga. Ngomong-ngomong apa kau tak ingat aku?"


Alvin mengerutkan alisnya, bingung atas pertanyaan itu "Mengingat anda? Kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Ya."


"Benarkah? Dimana?"


"Waktu itu, kau-"

__ADS_1


"Pelayan!" seru pelanggan yang tadi, kembali memanggil Alvin, membuat ucapan gadis itu terpotong. "Di sebelah sini!"


"Ya," balas Alvin mengangguk.


"Tidak. Lebih baik lupakan saja. Kau urus saja pelanggannya." gadis itu mengibaskan tangannya lalu melanjutkan kembali langkahnya, menuju ke arah lift, sepertinya menuju ruang VIP di lantai dua.


"Dia cantik sekali!" gumam Alvin tersenyum.


Namun detik itu juga Alvin teringat sesuatu. Ia mengerutkan dahinya sembari menatap punggung gadis itu. Apa maksud dari pertanyaannya tadi. Kenapa dia bertanya apakah Alvin mengingatnya atau tidak?


"Memangnya kami pernah bertemu sebelumnya?" gumam Alvin heran.


Yah, seperti yang Alvin pikirkan beberapa saat tadi. Wajah gadis itu memang tak asing bagi Alvin. Sepertinya ia memang pernah melihatnya, tapi entah dimana.


"Dimana aku pernah bertemu dengannya, ya?" batin Alvin.


Alvin mencoba untuk mengingat dimana kiranya ia bertemu dengan gadis itu. Namun saat berusaha untuk mengingat ia harus terganggu saat mendengar seruan dari pengunjung.


"Hei, pelayan!"


Itu adalah pengunjung pria yang sempat memanggil Alvin tadi. Ia kembali memanggil Alvin untuk yang kesekian kalinya.


"Hei, aku memanggilmu sejak tadi. Kau tidak dengar?!" omel pengunjung itu.


Alvin tersadar dari lamunannya.


"Saya datang!" ujar Alvin dan segera mendatangi pengunjung pria itu untuk mengurus pesanannya.


***

__ADS_1


__ADS_2