Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
50


__ADS_3

Alvin menatap area kampus yang sudah tampak sepi mengingat ini sudah jam pulang kuliah.


Di tangannya tampak dua bungkus coklat yang siap untuk dimakan juga ada sebotol kopi yang siap untuk diminum.


Entah ini adalah botol kopi yang keberapa yang ia minum, tapi tak ada reaksi apa-apa. Ia masih tetap merasa mengantuk.


Jujur saja, ia begitu mengantuk saat ini karena jam istirahatnya yang berkurang dari hari sebelumnya akibat bekerja sampai malam.


Selain itu ia juga masih terus teringat dengan apa yang Evelyn lakukan padanya di parkiran klub malam. Semua hal itu membuat Alvin sama sekali tak bisa fokus pada apa yang dosen jelaskan.


Ya, jika bicara tentang ciuman semalam. Alvin akui itu memang begitu membekas di ingatannya.


Sambil melangkah santai, ia merobek salah satu dari dua bungkus coklat di tangannya dan menggigit ujungnya.


"Kau lapar, tidak?" tanya Dave tanpa menoleh pada Alvin, tampak sibuk memainkan ponsel di tangannya.


Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Dave itu, Alvin yang sedang fokus menatap area sekitarnya sontak menolehkan pandangannya untuk menatap pada sahabatnya itu. Dave berada satu setengah meter di depannya, melangkahkan kakinya lebih dahulu.


Alvin mengangguk pelan dan kembali menggigit coklat di tangannya. "Lumayan lapar."


"Mau makan?" tanya Dave tiba-tiba saja berbalik untuk menatap pada Alvin, melemparkan senyum pada sahabatnya itu.


Alvin menaikkan sebelah alisnya, heran.


"Makan?"


"Iya, makan siang. Kau mau makan siang dulu?" tanya Dave. "Sebenarnya aku tau tempat makan enak. Baru buka. Tapi aku berani jamin enak dan bakal nagih."


"Kau mengajakku makan siang bersama?"

__ADS_1


"Benar."


Alvin tak langsung menjawab. Pemuda tampan itu tampak berpikir sedikit lebih lama kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


Senyum Dave langsung memudar, tak menyangka akan ditolak sahabatnya sendiri. "Kenapa?"


"Sepertinya aku makan di rumah saja." jawab Alvin pada akhirnya sembari melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku rasa aku akan terlambat datang ke tempat bekerja jika ikut pergi makan denganmu."


"Tapi aku lapar."


Alvin mengerutkan kening sambil menatap Dave setelah mendengar penyataan itu. Apa maksudnya?


"Lalu kenapa?"


"Bagaimana kalau kita makan. Berdua."


"Besok, Alvin." jawab Dave malas. "Tentu saja sekarang."


"Tidak. Sudah ku bilang kan. Tidak!"


"Kenapa?"


"Sudah kubilang, aku mau makan di rumah."


"Jadi maksudmu, kau tidak mau menemani sahabat baikmu ini? Kau akan membiarkan aku makan sendirian. Begitu?"


Alvin terkekeh melihat sikap Dave. "Jangan berlebihan begitu. Ini hanya tentang makan siang."

__ADS_1


"Itu dia, Alvin. Makan siang akan terasa lebih baik jika kau bersama seseorang untuk mengobrol."


Alvin tersenyum, tapi tetap menggeleng. "Kau pergilah sendiri. Aku tak punya waktu untuk hal seperti ini."


"Ayolah Alvin, aku yang traktir. Kau temani aku makan siang. Aku tidak mau makan sendirian. Kadang aku akan merasa seperti orang bodoh saat makan sendirian."


Alvin menghela napasnya malas.


"Sudah ku katakan aku tak punya waktu untuk hal ini. Aku sibuk, Dave. Lagipula, aku butuh istirahat. Kau lupa, pekerjaanku-'


"Ini hanya makan, Alvin." potong Dave. "Makan siang. Ini tak akan mengubah hal-hal kecil dalam hidupmu. Hiduplah dengan santai sahabatku."


"Tapi-"


"Kau tega sekali menolak permintaan dari sahabatmu ini."


Alvin tampak berpikir untuk beberapa saat, sebelum kemudian menghela napasnya pasrah.


"Oke! Oke! Kita akan makan."


"Kau mau menemaniku?" Mata Dave tampak berbinar-binar.


"Ya tentu saja."


"Serius?"


"Hm."


"Kau memang sahabat yang baik." puji Dave merangkul pundak Alvin lalu menariknya untuk berjalan.

__ADS_1


***


__ADS_2