
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Itu artinya sudah hampir setengah jam Alvin berada di balkon bangunan klub, namun Alvin belum juga kembali masuk ke dalam klub untuk melayani pengunjung. Ia yakin kalau rekan kerjanya yang lain pasti sedang mencarinya sekarang.
Beberapa saat lalu Alvin memang memutuskan meninggalkan keramaian pengunjung klub malam untuk beristirahat. Ia pergi menuju balkon yang ada di belakang gedung untuk menghirup udara segar malam itu. Bukan apa, Alvin harus menenangkan suasana hatinya yang berubah buruk sejak tadi.
Kejadian beberapa saat lalu, tepatnya saat Karina mengejek dan menghinanya masih membekas jelas di kepalanya.
Alvin menghela lelah. Entah kenapa, dari luasnya kota ini ia dan Karina harus bertemu di tempat ini, tempatnya bekerja.
Sekali lagi, kenapa mereka harus bertemu di tempat yang bahkan tidak pernah Alvin pikirkan sebelumnya. Karina pasti punya alasan untuk kembali mengejek dirinya sekarang.
Alvin menghembuskan nafasnya perlahan.
Kenapa semua hal buruk dan tidak mengenakkan harus terus menerus terjadi padanya seperti ini? Ia lelah pada dirinya sendiri. Ia lelah pada hidupnya dan pada keadaan yang ada. Bukankah terlihat seolah-olah takdir baik memang membencinya.
Alvin memperhatikan lampu-lampu kendaraan yang terlihat indah jika di lihat dari tempat ia berdiri saat ini.
__ADS_1
Alvin kini tersenyum. Diam-diam ia tenggelam dalam pikirannya sendiri saat menatap pemandangan dari cahaya kendaraan itu. Ah, bahkan cahaya-cahaya itu terlihat lebih indah daripada hidupnya?
Semenit kemudian Alvin tersadar dari lamunannya sendiri. Apa yang baru saja ia lakukan? Hal semacam ini adalah hal kecil yang harusnya tak perlu ia pikirkan.
Bukankah justru normal jika Karina menghinanya lagi. Ia sudah berkali-kali mendengar hinaan gadis itu dan Alvin harusnya baik-baik saja dan tak terganggu dengan kata-kata Karina.
Ia jelas tak punya cukup waktu untuk meratapi nasibnya saat ini karena ia harus kembali bekerja.
Alvin mengusap wajahnya kasar sambil menghembuskan nafasnya pelan. Benar. Tak ada waktu untuk hal konyol ini. Pada akhirnya, Alvin memutuskan untuk bersiap dan kembali masuk ke dalam klub untuk lanjut bekerja.
Alvin kaget karena ia tak memperhatikan sejak kapan gadis itu ada di sini.
Dia gadis yang sangat Alvin kenal. Dia adalah gadis cantik yang beberapa hari lalu ia temui di klub malam ini. Dan dia juga merupakan gadis yang sama dengan gadis yang Alvin antarkan pulang malam itu.
Gadis cantik bernama Evelyn.
__ADS_1
Evelyn berdiri di ambang pintu balkon dengan tangan terlipat di dada, sementara kedua matanya terus menatap lekat pada Alvin.
Mata mereka kini bertatapan.
Melihat wajah gadis itu Alvin seketika teringat kembali tentang ciuman mereka. Ah, bukan tepatnya saat gadis itu mabuk dan mencium bibirnya.
Keadaan hening untuk beberapa saat. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun saat ini. Mereka hanya diam, saling menatap, saling mengunci mata satu sama lain dan terus saja seperti itu, tidak bergerak atau berbicara apapun.
Alvin berpikir untuk mencoba menyapa lebih dulu namun ia tak ingin di anggap sebagai orang yang sok kenal dan membuatnya mengurungkan niat, emilih untuk terus diam.
"Apakah kau sedang menangis?"
Dan akhirnya itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut gadis itu.
***
__ADS_1