
Selepas jam pertama kuliah Alvin tampak memutuskan untuk pergi ke toilet.
Pemuda itu terus melangkahkan kakinya, menyusuri koridor yang menuju ke toilet umum yang ada di belakang gedung fakultasnya.
Ia melewati gudang kampus yang memang berada di dekat toilet.
Saat iti juga Alvin melihat sekelompok laki-laki duduk di dekat gudang itu. Tapi Alvin tak masalah dan tetap melangkah maju untuk melewati orang-orang itu.
"Oh wow, lihatlah siapa ini. Lelaki paling populer di kampus kita." ujar salah satu dari orang-orang itu saat melihat Alvin.
Alvin sama sekali tak merasa terganggu dengan seruan itu dan terus melangkah.
"Tampan, tapi miskin dan bodoh. Tidak mungkin ada yang mau." seru pria yang lain lagi.
Alvin menghentikan langkah dan menyadari kalau yang baru saja bicara adalah Steve.
Alvin mengerutkan alisnya. Tunggu dulu, bukankah fakultas mereka berbeda. Lantas kenapa Steve bisa berada jauh dari fakultasnya sendiri.
"Aku sudah menunggu untuk hari ini. Aku bahkan rela tak masuk kuliah agar dapat bertemu denganmu." ujar Steve lagi.
Ucapan Steve itu berhasil menjawab pertanyaan Alvin barusan. Alvin memilih acuh saja atas kata-kata Steve padanya barusan.
__ADS_1
"Apa ada masalah jika aku lewat?" tanya Alvin pada seorang pria yang menghalangi jalannya.
Dengan senyum sinis Steve mendekati Alvin yang saat ini tengah berdiri kaku.
Pemuda itu menatap Alvin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menaikkan sebelah alisnya saat melihat sepatu yang Arvin gunakan saat ini.
Detik selanjutnya, Steve mendecih sinis. "Kau ini benar-benar lelaki miskin rupanya. Lihat ini sepatumu sobbek." ejek Steve.
Kelompok itu kemudian tertawa-tawa setelah mengejek Alvin.
Alvin tampak tersenyum kecut. Apalagi mau Steve padanya sekarang. Apakah pemuda ini belum puas juga menghina dirinya selama ini?
Alvin menghela napasnya pasrah dan menatap teman Steve yang masih menutupi jalannya, "Aku ingin lewat." ucapnya.
"Aku penasaran denganmu. Yah, aku ingin tahu mampukah kau membiayai kekasihmu nanti dengan keadaanmu yang seperti ini."
"Permisi, aku tidak ada urusan apapun denganmu." ujar Alvin melangkahkan kakinya meninggalkan Steve.
"Kau berupaya mendekati Karina lagi?"
Alvin menghentikkan langkahnya dan berbalik. "Apa?"
__ADS_1
"Aku tahu kau masih menyukai Karina. Aku tahu kalau kalian beberapa kali bertemu di belakangku."
"Bukan aku." Alvin tersenyum miring. "Tapi Karina-lah yang mencoba mendekatiku lagi."
"Kau bercanda?" Steve tertawa. "Mungkin kau lupa atau kau hanya bodoh. Tapi biar aku ingatkan lagi. Disini, Karina sendiri yang sudah mencampakkan dirimu. Lantas bagaimana mungkin dia yang mendekatimu."
"Aku tidak berbohong. Memang Karina yang-"
Steve tiba-tiba saja menarik kerah kaos yang Alvin kenakan.
"Dengar! Aku tak peduli siapa yang lebih dahulu mendakatimu disini. Yang jelas ini adalah peringatan pertama dan terakhir untukmu. Karina sangat berharga untukku. Jadi, kau tidak boleh coba-coba mendekati dirinya lagi."
Setelah mengatakan itu, Steve mendorong tubuh Alvin hingga punggung pemuda kurus itu menabrak dinding di belakangnya.
"Sekarang pergilah dan lakukan hal yang lebih berguna."
Alvin menatap kelompok yang saat ini tampak tertawa mengejeknya. Ia menghela napas dan melangkahkan kakinya, tak jadi pergi ke toilet.
mengejeknya. Ia menghela napas dan melangkahkan kakinya, tak jadi pergi ke toilet.
***
__ADS_1
Update langsung 10 chapter, karena merasa bersalah atas revisi kmrin. :)