
Saat ini Alvin tengah berdiri dengan perasaan gelisah di posisinya. Sementara kedua matanya tampak fokus menatap bangunan di hadapannya.
Alvin menghela napasnya. Sejujurnya Alvin ragu dengan keputusan apa yang akan ia ambil. Haruskah ia mendatangi tempat seperti itu juga untuk mencari pekerjaan.
Lowongan pekerjaan. Sangat jelas kalau Alvin begitu membutuhkannya saat ini. Dan lowongan pekerjaan di klub malam itu adalah salah satu kesempatan emas bagi dirinya untuk mendapat pekerjaan baru.
Namun yang membuat Alvin harus berpikir dua kali adalah karena itu adalah sebuah klub malam.
Pasalnya selama hidup Alvin tak pernah satu kali pun menginjakkan kakinya di tempat seperti itu. Jadi, itulah sebabnya kenapa Alvin merasa bingung.
Haruskah ia melamar kerja di klub malam ini?
Jujur saja, selama ini, jangankan untuk memasuki klub malam seperti ini, sekedar berpikir untuk datang saja Alvin tak pernah.
Alvin adalah orang yang sangat anti untuk pergi ke tempat hiburan malam. Dan hal itu juga yang sangat sering membuat mantan kekasihnya, Karina merasa kesal padanya.
Gadis itu bahkan menyebut Alvin terlalu kuper karena Alvin selalu saja menolak untuk pergi ke klub malam.
Tapi entah kenapa saat ini Alvin merasa tak punya pilihan lagi selain mencoba untuk melamar di tempat itu. Dan akhirnya setelah berusaha menurunkan ego nya, Alvin memutuskan untuk mencoba melamar pekerjaan di tempat itu.
Alvin akhirnya melangkahkan kakinya menuju gedung mewah itu. Ia dengan ragu mendorong pintu utama yang terbuat dari kaca itu dan segera masuk ke dalam klub.
__ADS_1
Hal pertama yang ia dapati saat memasuki gedung itu adalah suhu ruangan dingin yang berasal dari AC yang menyala.
Perlahan Alvin mengedarkan pandangan, menatap ke seluruh area ruangan. Sambil melangkahkan kakinya perlahan, ia terus menatap kagum pada aula ruangan yang menurutnya sangat mewah itu.
'Pasti hanya orang-orang kaya saja yang bisa masuk ke dalam tempat semewah ini.' batin Alvin sambil terus menatap kagum pada seisi bangunan klub.
"Selamat siang? Ada yang bisa saya bantu?" ujar seseorang dengan nada sopan.
Alvin menoleh dan mendapati seorang wanita cantik berambut pendek dengan tubuh tinggi semampai tengah tersenyum manis padanya dari arah meja bartender.
"Maaf, tapi tempat kami belum buka pada jam segini. Pelayanan siang hari hanya untuk pelanggan VIP saja. Apa anda pelanggan VIP?"
"Bukan, saya hanya-"
"Ah, maaf nona, tapi itu-" Alvin menggaruk tengkuk belakangnya, tersenyum canggung pada gadis cantik itu. "Tadi pintunya tidak di kunci jadi saya-"
"Tidak masalah, pintunya memang tak dikunci untuk menerima tamu VIP." jawab gadis itu.
Alvin perlahan melangkahkan kakinya, mencoba untuk lebih mendekat pada gadis cantik itu. "Begini nona, sebenarnya saya datang kemari karena saya ingin bertanya tentang sesuatu."
"Oh ya, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya gadis cantik itu menatap Alvin dengan raut bertanya-tanya.
__ADS_1
"Eum, itu, tadi saya lewat di depan dan tidak sengaja membaca informasi tentang lowongan pekerjaan."
"Lalu?"
"Sebenarnya saya sedang butuh pekerjaan sekarang. Dan saya ingin mencoba untuk melamar bekerja di sini. Apakah lowongan pekerjaannya masih berlaku?" tanya Alvin dengan nada suara yang terdengar canggung.
Wanita cantik itu kembali tersenyum kemudian ia mengangguk paham, "Tentu saja. Beberapa pegawai kami memang baru berhenti beberapa waktu lalu." jawabnya.
"Jadi, apakah masih ada, nona?" Alvin mencoba memastikan. "Maksud saya, lowongan pekerjaanya."
"Ya, masih ada. Brosurnya sengaja di tempel di depan karena kami butuh karyawan baru untuk bekerja malam ini juga. Kebetulan manajer kami sedang berada di sini sekarang. Kalau begitu mari saya antar ke kantor manajer untuk bertanya lebih lanjut."
Alvin mengangguk dan mulai melangkah untuk mengikuti wanita cantik itu dari belakang.
Mereka kini berjalan menuju sebuah lift yang ada di sudut kanan aula. Alvin terus mengikuti wanita itu memasuki lift.
Wanita cantik itu membawa Alvin menaiki lift menuju ke lantai paling atas klub.
Begitu keluar dari lift, Alvin terus berjalan mengikuti wanita itu, melewati lorong-lorong hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu yang berada di bagian paling ujung dari lorong itu.
Wanita itu mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya ia mendengar seruan "masuk" dari dalam ruangan.
__ADS_1
Pintu itu akhirnya terbuka.
***