Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
82


__ADS_3

Bagi Ziva, Evelyn bukanlah wanita biasa yang pernah ia temui. Sahabatnya itu selalu saja berbuat sesuatu hal aneh yang berada di luar nalarnya. Selama ini Ziva selalu saja dikejutkan oleh ulah konyol Evelyn.


Salah satunya seperti saat ini, Ziva dan Evelyn sedang berada di sebuah restoran. Evelyn meminta Ziva agar cepat-cepat datang ke tempat ini karena gadis itu ingin menceritakan kejadian yang ia alami bersama Alvin beberapa waktu lalu.


Dan apa yang Evelyn ceritakan padanya begitu mengejutkan. Hal itu bahkan membuat Ziva tak pernah merasa kalau otak Evelyn begitu bermasalah sebelum apa yang ia dengar hari ini.


"Kau mengaku sebagai kekasih Alvin tepat di hadapan si jaláng itu?" Ziva melotot.


Evelyn mengangguk, membenarkan.


"Lalu kau juga menawarkan padanya untuk membantu membalas perbuatan mantannya itu?"


Sekali lagi, Evelyn mengangguk.


Hal itu membuat Ziva terhenyak. Kepalanya terasa seperti baru dihantam sesuatu hingga membuatnya jadi terasa begitu berat. Seketika ia jadi pusing sendiri.


Cerita Evelyn barusan juga membuat Ziva kebingungan sekaligus tak percaya. Bukankah terakhir kali Evelyn mengatakan kalau ia punya ide. Lantas, inikah ide yang Evelyn katakan sebelumnya?


"Tapi Alvin menolak tawaranku itu."


"Dia menolaknya?"


"Ya, sayang sekali, kan?"


Evelyn menghela napasnya lelah sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Aku sungguh heran padanya. Kenapa dia harus menolak rencana balas dendam itu. Itu bahkan bukan hal sulit untuk dilakukan. Dan juga, ada aku yang bersedia membantunya. Apa dia tak tega pada untuk melakukan itu?" tebak Evelyn.


Ziva mendengus. "Tentu saja dia akan menolaknya, Eve."


"Hah?"


"Pikirkan saja. Bagi orang baik seperti Alvin, melakukan hal semacam itu hanya akan membuang waktunya saja." jelas Ziva.


"Yah, aku pikir dia hanya terlalu baik untuk menjadi manusia. Tapi bukankah akan terasa menyenangkan kalau bisa membalas orang yang menyakitimu. Ya, kan?"


"Benar, tapi tampaknya hal itu tak berlaku untuk Alvin. Aku rasa dia bukan tipe orang yang akan tertawa di atas penderitaan orang lain. Dia terlihat seperti pria yang naif."

__ADS_1


"Aku setuju. Itulah sebabnya aku bilang dia terlalu baik. Huft, jujur saja itu adalah sifat yang amat menyebalkan darinya." ujar Evelyn sembari menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Jadi, bagaimana?" tanya Ziva.


"Bagaimana apanya?"


"Maksudku, wajahmu tampak begitu kecewa karena dia menolak tawaranmu itu."


"Tentu saja aku kecewa." ujar Evelyn menunjukkan ekspresi wajah yang lesu dan juga kesal di saat yang bersamaan.


"Kau tahu Ziva, aku kecewa sekali. Padahal aku berharap dia akan menerima tawaranku ini. Setidaknya aku bisa merasakan bagaimana dia akan menjadi kekasihku untuk beberapa waktu."


Ziva langsung mendecih sinis saat melihat ekspresi wajah Evelyn yang menurutnya entah kenapa tampak begitu menyebalkan.


Ia tak tahu sejak kapan Evelyn bisa merasakan perasaan kecewa terhadap pria seperti ini.


Bukankah selama ini Evelyn tidak pernah memakai hati dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Dan seingat Ziva, selama ini Evelyn-lah yang selalu membuat kecewa banyak pria.


Apa gadis ini sedang membuat drama? Tapi Evelyn bukan tipe gadis seperti itu.


Ziva menggedikkan bahunya, "Mungkin saja."


"Ck, kalau memang benar dia masih memiliki perasaan pada Karina itu artinya dia sungguh bodóh. Gadis itu bahkan sudah menghina dirinya habis-habisan." Evelyn bicara sembari menggelengkan kepalanya. "Alvin yang malang. Kebaikannya harus disia-siakan begitu saja. Ah, sayang sekali dia menolak menerima tawaranku."


"Yah, benar. Sayang sekali dia menolakmu, ya..." sindir Ziva dengan nada sinis.


Evelyn sontak terdiam. Ia menaikkan sebelah alisnya saat melihat tanggapan Ziva. Ekspresi sahabatnya itu seperti sedang mengejek dirinya.


"Tunggu dulu. Apa ini?" ujar Evelyn sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Ziva. Ia melipat tangannya di depan dada dan menatap sahabatnya itu dengan datar.


Ziva mendongak dan memasang ekspresi pura-pura bodoh. "Apanya?"


"Ekspresi wajahmu, kenapa seperti itu."


"Seperti apa?"


"Ekspresimu itu seakan sedang mengatai dan menyindir diriku."

__ADS_1


Ziva langsung menjentikkan jarinya di depan wajah Evelyn. "Ya, itu dia. Kau benar. Aku memang sedang mengataimu dalam hati. Bagus kalau kau tau."


"Sudah ku duga."


Ziva terkekeh,


"Hebat, kau bisa mengerti arti tatapanku dengan baik." ujar Ziva santai.


"Memangnya kenapa denganku. Kenapa kau harus menatapku begitu?" Evelyn masih penasaran. "Apa ada yang salah dengan yang aku lakukan?"


"Kau masih bertanya apa yang salah setelah apa yang kau lakukan ini?"


"Tentu saja. Aku bahkan tidak tahu kau terganggu di bagian yang mana."


Ziva menghela napasnya panjang sembari menggelengkan kepala, ia tak menyangka Evelyn bisa jadi sebodoh ini.


"Disemua bagian, Eve!" ujar Ziva. "Salah satunya kau yang menawari Alvin membalas dendam. Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu, Eve. Kau bahkan mengajak Alvin masuk dalam permainan konyolmu ini."


"Permainan konyol."


"Ya, konyol."


"Memangnya salahku dimana, Ziva?"


"Evelyn, hal itu jelas salah. Perbuatanmu itu sudah terlalu jauh. Kau terlalu mencampuri urusan orang lain." Ziva berujar frustasi. Ia benar-benar tak menyangka kalau Evelyn separah ini terobsesi tentang Alvin.


"Aku bukannya mencampuri urusan orang lain. Tapi aku sedang menolong orang yang aku sukai, Ziva. Lantas dimana salahnya?"


Kedua mata Ziva tiba-tiba membesar, menatap Evelyn dengan antusias.


"Jadi sekarang kau sedang mengakui kalau kau memang menyukainya? Bukankah terakhir kali kau bilang kau hanya tertarik padanya. Bukan menyukainya."


Evelyn terhenyak.


'Ah, sial.' batin Evelyn.


***

__ADS_1


__ADS_2