
Mata Alvin membulat saat mendengar pertanyaan Evelyn itu.
"A-apa?"
"Kau tertarik padaku atau tidak?"
"Kenapa anda bertanya begitu?"
"Yah, aku hanya penasaran tentang itu. Aku penasaran, kenapa kau langsung bersedia untuk menemaniku makan siang sekarang?" Evelyn semakin mendekatkan wajahnya pada Alvin.
Alvin memundurkan tubuhnya lalu menundukkan kepalanya gugup. Rasanya malu setengah mati saat ditatap gadis secantik Evelyn dengan jarak sedekat ini.
Evelyn tersenyum melihat Alvin tak tampak malu ditatap dari jarak dekat.
"Yah, aku berterimakasih sekali karena kau sudah bersedia menemaniku. Tapi aku penasaran apa alasanmu menerima ajakanku makan siang hari ini."
"Itu karena nona yang memintaku secara langsung. Anda terlihat berniat mengajakku. Lagipula, kebetulan aku juga punya waktu untuk menemani. Tentu aku tak punya alasan untuk menolaknya, kan?"
Evelyn berdecak. "Itu bukan jawaban yang aku harapkan darimu."
"Hah?"
Evelyn menyilangkan tangannya di atas meja tampak ingin bicara serius dengan Alvin.
"Begini, untuk seseorang yang tampak cerdas, kau tidak ragu-ragu untuk pergi dengan orang yang bahkan baru kau kenal selama beberapa hari." Evelyn mengutarakan pikirannya.
Alvin mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti apa maksud perkataan Evelyn saat ini.
"Aku tak mengerti. Apa maksud anda, Nona?" tanya Alvin bingung.
"Jadi maksudku, kita ini bahkan baru bertemu beberapa kali. Lalu bagaimana kau bisa dengan mudahnya ikut denganku sekarang. Apa alasanmu. Kau percaya padaku? Atau kau sedang tertarik padaku?"
Pertanyaan Evelyn itu mampu membuat Alvin mengerjapkan matanya lalu mengalihkan pandangannya pada mangkuk bubur ayam kosong di hadapannya. Seketika ia jadi salah tingkah sendiri karena jujur saja, ia tidak tau harus menjawab apa.
Tiba-tiba saja, sebuah realita memukul Alvin dengan keras.
Evelyn memang benar.
__ADS_1
Mereka bahkan baru saja saling mengenal, kan? Lantas bagaimana ia bisa menyukai Evelyn seperti ini? Memangnya siapa yang memberi Alvin hak untuk merasa tertarik dengan gadis cantik itu. Jika di pikir, ia bahkan sama sekali tak memiliki hak untuk menyukai gadis sesempurna Evelyn.
"Ya, anda memang benar. Sebenarnya aku hanya ingin bersikap sopan atas ajakan anda tadi." jawab Alvin seadanya.
Evelyn mengangguk. "Benar juga. Sejauh aku mengenalmu, kau ini memang terlampau sopan."
Alvin mengerutkan dahinya bingung. Entah barusan itu sebuah pujian untuk Alvin atau bukan.
"Lagipula, aku-lah yang memang sudah memaksamu untuk makan siang bersamaku tadi." Evelyn terkekeh sendiri.
"Tidak masalah, nona. Disini, aku juga yang bersedia untuk menemani anda, kan?!" Alvin berujar sopan.
Ya, Evelyn akui kalau Alvin memang terlampau baik. Ia menyadari betapa luar biasanya hati pemuda ini setelah melihat kejadian dimana Alvin direndahkan oleh mantan kekasihnya di klub malam itu namun ia bahkan tidak marah sama sekali.
Sifat Evelyn jauh berbeda dengan Alvin yang penyabar. Evelyn jadi membayangkan jika salah satu dari mantan kekasihnya berani merendahkan dirinya seperti itu Evelyn tak akan bisa menerimanya. Ia pasti akan menghabisinya saat itu juga.
Menurut Evelyn, mantan kekasih Alvin itu harus mendapatkan balasan setimpal atas kelakuan buruknya itu.
Ah, bukankah gadis bodoh itu memang sudah mendapatkan ganjarannya malam itu?
Jangan lupakan kalau Evelyn diam-diam sudah membantu membalas perbuatan mantan kekasih Alvin itu dengan menyiramkan minuman padanya.
"Sebenarnya aku tau alasanmu tidak menolak ajakan makan siangku dan setuju begitu saja."
"Ya?" Alvin tersenyum bingung.
"Tentu saja karena aku cantik dan kaya, ya kan?" ujar Evelyn dengan bangga.
Alvin terhenyak. Ia sedikit terkejut saat mendengar kalimat percaya diri yang keluar dari mulut Evelyn itu.
"Itu alasannya bukan?"
"h-hah?"
Alvin tidak berani menjawab. Sejujurnya apa yang Evelyn katakan itu memanglah benar. Evelyn memang cantik dan kaya raya.
Itu fakta.
__ADS_1
Tak ada yang bisa menyanggah hal itu.
"Sepertinya dugaanku, memang benar itu alasannya. Kau tidak menolak ajakanku karena aku ini cantik dan juga kaya. Jadi tidak mungkin kalau aku ingin menipu apalagi berbuat macam-macam denganmu. Kau mempercayaiku. Ya, kan?" ujar Evelyn panjang lebar.
Alvin mengangguk canggung, "Kurang lebih begitu. Selain itu, kita juga sudah bertemu beberapa hari sebelumnya, kan? Setidaknya kita sudah saling kenal."
Evelyn hanya tersenyum melihat tingkah Alvin yang menurutnya sangatlah lucu.
"Tapi dengar! Jika yang mengajakmu pergi itu orang lain. Selain aku. Maka kau tidak boleh langsung menerimanya begitu saja. Itu sangat berbahaya. Kau tau? Jadi jangan sampai percaya sembarangan pada orang asing seperti yang kau lakukan saat ini, apalagi pada perempuan."
"Kenapa dengan itu, nona?"
"Kau akan celaka jika bertemu perempuan lain." bisik Evelyn. Evelyn tak ingin Alvin bertemu dengan buaya betina. Seperti teman-temannya yang merupakan buaya betina pemangsa pria.
"Begitu rupanya, baiklah, nona. Saya akan lebih berhati-hati lain kali." Alvin hanya mengangguk mengiyakan.
Sejujurnya, Alvin juga tak tau harus menjawab apa karena toh nyatanya selama ini dia memang selalu percaya pada orang lain. Dan sejauh ini tak pernah ada orang yang sampai berbuat jahat padanya.
Sementara Evelyn diam-diam tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Ini memanglah rencananya sejak awal. Berteman dengan Alvin, lalu menjelek-jelekkan perempuan lain. Itu karena ia tak ingin nantinya Alvin dekat dengan gadis manapun. Evelyn berencana untuk terus menjauhkan Alvin dari para gadis yang akan mencoba menggodanya.
Baginya ini adalah satu-satunya jalan. Tak ada jalan lain untuk berada dekat dengan Alvin tanpa harus terganggu oleh para gadis penggoda.
"Apa kita sudah selesai?" tanya Evelyn pada Alvin beberapa saat kemudian.
"Ah, i-iya." Alvin mengangguk kemudian ikut bangkit saat melihat gadis itu bangkit.
Alvin mengerutkan dahinya saat melihat Evelyn melangkah menuju pemilik warung.
"Tunggu dulu, nona! Nona mau apa?"
Evelyn menoleh dan mengangkat dompetnya, memperlihatkannya pada Alvin. "Mau bayar. Apalagi memangnya?"
"Jangan, nona. Aku saja yang bayar." ujar Alvin melangkah menyusul Evelyn namun terlambat karena gadis itu sudah lebih dahulu membayar.
"Bapak ambil saja kembaliannya." ujar Evelyn ramah pada pemilik warung bubur itu setelah memberikan selembar uang seratus ribu.
"Sudah ku bayar. Oke, ayo kita pergi!" ajak Evelyn sambil merogoh tasnya mencari kunci mobil, mengabaikan Alvin yang masih melongo sambil memegang dompetnya.
__ADS_1
***