
Evelyn kembali diam di posisinya setelah mendengar perkataan Alvin itu. Gadis itu tampak menimbang-nimbang kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya setelah ini.
Tapi tak ada. Tak ada yang bisa Evelyn katakan lagi. Sebab itulah kebenarannya. Itulah salah satu dari banyak alasan umum bagi seseorang mencampakan kekasihnya.
Uang.
Segalanya akan kembali pada uang. Beberapa orang memang akan mencari pasangan lain yang memiliki lebih banyak uang.
Evelyn menghela napasnya perlahan. Jujur saja, sebagai wanita Evelyn juga bisa mengatakan alasan itu-lah yang paling masuk akal.
Banyak sekali wanita akan lebih mengincar uang dibandingkan cinta. Bagi mereka, orang harus hidup dengan uang, bukan dengan cinta.
Evelyn akui, sejak kecil hidupnya memanglah sudah sangat berkecukupan. Itu sebabnya dia tak memikirkan hal-hal seperti itu lagi.
Uang mudah untuknya. Sehingga dirinya tak akan pernah mencampakan seseorang hanya kerena hartanya saja. Untuk saat ini ia hanya perlu mencari seseorang yang akan memberinya rasa nyaman.
Evelyn memejamkan matanya dan menunduk, ia miris. Uang benar-benar bisa menghancurkan banyak orang.
Evelyn masih diam, berpikir untuk beberapa detik sebelum kembali bicara.
"Sebenarnya, aku melihatnya." ujar Evelyn pelan.
Alvin menoleh pada Evelyn. "Anda melihat apa?"
"Pertemuanmu dan Karina di klub malam waktu itu. Segala yang Karina katakan padamu di klub malam, aku mendengarnya." ujar Evelyn sembari menatap Alvin dalam.
Evelyn kemudian melanjutkan. "Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri saat dia menghina dirimu. Aku juga mendengar hal buruk yang dia katakan padamu."
"Anda di sana?" mata Alvin membulat.
"Ya, apa kau tidak ingat kita bertemu di balkon di malam yang sama? Kau lupa lagi?"
Alvin mengerjap lalu mengangguk setelah mengingat segalanya. "Ah, benar juga. Itu malam yang sama, ya…"
"Dan aku tau penyebab kau menangis di balkon waktu itu adalah karena wanita itu."
"Aku tidak menangis nona." protes Alvin.
"Baiklah, kau tidak menangis."
Alvin menunduk malu. Sejujurnya ia memang menangis saat itu. Ia hanya menolak dipandang sebagai lelaki lemah dan cengeng.
"Menurutku apa yang dia lakukan padamu saat itu memanglah sangat keterlaluan. Kau bahkan tidak melawan. Itulah yang membuatku amat kesal."
"Ya, aku memang tidak berniat membalas apapun ucapannya saat itu. Lagipula kenapa aku harus membalasnya?"
"Kenapa tidak?"
"Nona, karena yang dia katakan tentangku, semua itu benar. Jadi tak mungkin aku marah."
Evelyn mendecih kesal. "Mau benar atau tidak yang dia katakan. Itu tetaplah perbuatan salah ketika kau menghina orang lain."
Alvin diam saja.
Ia akui kalau perbuatan Karina padanya memang salah. Tapi ia bisa apa. Sekali lagi. Semua yang dikatakan Karina tentang dirinya memang benar.
"Aku heran, kenapa kau tidak membalasnya saja sih? Jika aku jadi kau, aku pasti sudah memberinya pelajaran."
__ADS_1
"Membalasnya?"
"Benar." Evelyn menganggukkan kepalanya antusias. "Kupikir kau harusnya membalas semua perbuatannya padamu."
"Kenapa aku harus membalasnya?"
Evelyn memutar bola matanya malas.
"Memangnya kau tidak ingin membalas perbuatannya? Bagiku, apa yang dia lakukan itu kejam."
Alvin terdiam.
Membalas Karina? Bagaimana dia bisa melakukan hal itu? Bahkan tak pernah terlintas sedikipun di benaknya untuk melakukan hal semacam itu.
"Kau tahu, selama aku hidup, aku tak pernah terima saat orang lain menginjak-injak harga diriku seperti yang Karina lakukan padamu."
Alvin hanya diam mendengarkan. Ia juga tak tahu harus menanggapi apa terhadap perkataan itu.
"Dan sekarang aku juga ingin kau kuat, Alvin. Aku berharap kau bisa lebih kuat dari sebelumnya." Evelyn menatap Alvin beberapa saat lalu kembali menatap ke depan, "Aku ingin kau membuktikan pada orang-orang macam Karina kalau kau ini berharga."
Mendengar saran dari Evelyn itu, Alvin tampak mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.
Sejujurnya, Alvin juga sangat muak dengan perlakuan kejam Karina padanya tapi Alvin tak punya cukup keberanian untuk melakukan itu. Hatinya mana sanggup.
"Aku bisa membantumu untuk membalasnya, itupun kalau kau mau melakukannya." ujar Evelyn lagi.
"Membantu membalas Karina?"
"Ya! Aku bisa membantumu untuk membalas Karina, ya sekali lagi, itu pun kalau kau mau. Kau bisa membuatnya menyesal karena sudah berani menyia-nyiakan dirimu."
Alvin tersenyum bingung. "Tapi kenapa aku harus melakukan itu?"
Evelyn kembali melanjutkan perkataannya.
"Kau lihat tidak reaksinya saat mengetahui kalau kau dan aku menjalin hubungan?"
"Lihat."
"Dia kesal, bukan?"
"Benar."
"Itu karena dia masih memiliki perasaan padamu."
"Apa?" Alvin tertawa miris, "Itu tidak mungkin."
"Aku bicara yang sebenarnya, Alvin. Dia memang masih menyukaimu. Aku ini seorang wanita. Hanya wanita yang bisa melihat hal semacam itu dari wanita lain. Jadi aku tau jelas bagaimana perasaannya padamu."
Evelyn memegang bahu Alvin.
"Dengar! Karina itu masih menyukaimu." jelas Evelyn. "Kita bisa membalas Karina dengan membuatnya merasa lebih kesal lagi dan aku yakin kalau pada akhirnya dia akan menyesal karena sudah mencampakkan dirimu."
Alvin terdiam untuk yang kesekian kali. Apa benar Karina masih menyukainya? Dan apa dia bisa membuat Karina menyesal seperti yang Evelyn katakan?
Ah, itu jelas tidak mungkin. Karina tidak akan merasa menyesal karena sudah menghianati dirinya.
Gadis itu bahkan sudah sangat bahagia dengan pria pilihannya yang lain sekarang. Bukannya menyesal, Alvin merasa Karina justru akan sangat bersyukur pada dirinya sendiri karena sudah meninggalkan Alvin waktu itu.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Evelyn memastikan, memecahkan lamunan Alvin.
Alvin mendongak, menatap Evelyn lekat-lekat kemudian menggeleng dengan ragu. "Itu tidak mungkin."
"Apa yang tidak mungkin?"
"Karina, dia tidak mungkin menyesali apapun tentang perpisahan kami. Maksudku, dia-"
"Dia akan menyesal!" Evelyn berujar mantap.
Alvin terdiam, kemudian tertawa kecil.
"Mungkin anda tidak tahu. Tapi saat itu Karina meninggalkan aku demi lelaki yang jauh lebih kaya. Jadi mana mungkin dia akan menyesal."
Evelyn tersenyum.
"Baiklah, aku terima pendapatmu itu. Sekarang aku ingin bertanya, bagaimana kalau aku berhasil membuatnya menyesal?"
"Bagaimana kalau tidak berhasil?"
"Kita bahkan belum mencoba apapun, kan?" Evelyn menatap Alvin penuh harap. "Hal ini bahkan tidak akan merugikan dirimu jika mencobanya. Bagaimana?"
Alvin kembali terdiam.
Membuat mantan menyesal?
Tawaran macam apa yang baru ia dengar ini. Alvin menatap Evelyn. Diam-diam hatinya mulai merasa tertarik. Tapi dengan cepat Alvin menggelengkan kepalanya. Setelah dipikir lagi sejujurnya Alvin tidak begitu suka dengan ide ini.
"Aku rasa aku tidak ingin membalas apapun, nona" jawab Alvin pada akhirnya.
Evelyn menatap Alvin beberapa detik kemudian berdehem. "Ya, kau memang terlalu baik untuk urusan seperti ini." kata Evelyn menggedikkan bahunya malas.
"Dengar, Alvin! Kau tidak perlu memutuskan ini sekarang, oke? Kau punya banyak waktu untuk memutuskan. Menurutku, lebih baik kau pikirkan saja tawaranku ini lebih dahulu, setelah itu kau bisa menghubungi aku lagi, barulah kita bahas hal ini lagi nanti. Aku akan menunggu saat-saat kau menghubungiku."
"Ya," Alvin mengangguk.
Evelyn mendekat untuk berbisik pada Alvin, "Dan, jika kau ingin menghubungiku, ini kartu namaku. Semua kontakku ada di sini. Nomor ponsel. Nomor telepon rumah. Alamatku. Dan lain sebagainya."
Alvin menatap kartu nama itu lekat kemudian kembali menatap Evelyn.
"Tapi aku tidak perlu ini, nona. Jika aku ingin bertemu, aku sudah mengetahui alamat dan juga nomor ponsel nona, kan?."
"Ya, memang benar. Tapi tak apa. Lebih baik kau simpan saja."
"Baiklah."
"Oh ya, bisakah nona menurunkan aku di halte yang ada di depan sana. Aku akan pulang naik bis saja."
"Kau tidak kembali ke kampus? Bagaimana dengan tugas kuliahmu?"
Alvin menggeleng. "Lebih baik aku pulang saja. Aku akan memberitahu teman-temanku kalau aku ada urusan mendadak."
"Lalu motormu?"
"Tak masalah nona, motorku akan aman karena berada di parkiran kampus."
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
***