
Alvin berjalan menelusuri lorong kampus, dengan cepat menuju ke dekat aula sekolah. Sebelumnya, Dave meminta Alvin untuk menunggunya disana saat jam pulang kampus karena Dave harus pergi ke ruang dosen lebih dahulu.
"Dimana Dave?" Alvin terus berjalan mondar-mandir menunggu Dave. Ia melihat jam di tangannya untuk yang kesekian kalinya.
Sudah hampir tiga puluh menit ia menunggu, tapi sahabatnya itu sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
"Apa sudah lama menungguku?" tanya Dave.
"Pertanyaan bodoh, Dave!" jawab Alvin ketus. "Kau akan membuang waktu istirahatku kalau begini.
Dave tertawa, "Ayolah Alvin, kau hanya menungguku beberapa menit saja tapi sudah mengomel seperti ini."
"Tiga puluh menit."
"Ya, tiga puluh menit. Terima kasih karena sudah menungguku selama tiga puluh menit." ralat Dave santai. "Tapi kurasa kau akan baik-baik saja sekalipun menungguku lebih lama dari ini."
"Apa maksudmu?"
Dave menatap jam di tangannya dan menatap ke area sekitar kampus. "Sepertinya kampus sudah sangat sepi. Ayo, kita pulang sekarang."
Setelah mengatakan hal random itu, Dave langsung melangkahkan kakinya, meninggalkan Alvin yang masih cengo di posisinya.
"Apa sih maksudnya." gerutu Alvin kemudian turut melangkahkan kakinya mengikuti Dave.
Namun saat itu juga ponselnya berbunyi, tanda notifikasi pesan masuk. Sembari melangkah, Alvin membuka ponselnya. Ekspresi pemuda itu seketika saja berubah, penuh curiga saat mendapati nama Karina terpampang di layar.
Alvin membaca pesan dari Karina. 'Aku ingin bicara denganmu.'
Alvin menghela napas setelah membaca pesan isi pesan itu. Nada suaranya terdengar begitu lelah. Sikap menyebalkan Karina padanya dirasa amat berlebihan.
Tak berniat membalas pesan dari Karina itu, Alvin lebih memilih untuk memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celana dengan gerakan malas.
"Kekasih barumu?" tanya Dave yang berada di sebelah Alvin, tampak penasaran.
"Siapa?"
"Yang baru saja mengirimimu pesan. Apa dia kekasih barumu?"
"Kekasih apa? Jangan melantur."
"Aku hanya bertanya. Tak perlu marah." balas Dave melirik sinis. "Aku hanya sedang berharap kalau kau bisa move on dari Karina dengan memiliki kekasih baru."
"Aku bisa melupakannya tanpa memiliki kekasih baru."
"Benarkah?"
"Ya, jadi jangan harap kalau aku akan mendapat kekasih baru untuk saat ini."
Dave mengangkat kedua bahunya santai, "Sudah ku katakan barusan. Itu hanya harapanku sebagai sahabatmu."
Alvin menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecut. Sebagai sahabat, tak ada yang salah dengan harapan Dave. Tapi, harapan hanya akan menjadi harapan. Pasalnya dalam waktu dekat ini Alvin belum berpikir untuk mencari kekasih baru.
Bicara tentang kekasih baru, Alvin tiba-tiba saja teringat saat Evelyn mengaku sebagai kekasihnya di hadapan Karina.
__ADS_1
Alvin tersenyum simpul.
Sejujurnya, di dalam lubuk hati terdalam, Alvin merasa begitu bahagia menyaksikan Evelyn membelanya dengan mengaku sebagai kekasihnya.
Saat itu Evelyn benar-benar bersikap sebagai kekasih sungguhan untuknya. Tampak begitu nyata. Entah karena Evelyn yang terlalu mendalami peran atau Alvin yang terbawa perasaan.
Dan hal yang lebih konyol lagi adalah tawaran yang Evelyn berikan tentang membalas perbuatan Karina. Alvin akui kalau ide itu terdengar menarik, tapi Alvin bukan orang yang bisa melakukan hal semacam itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dave, membuyarkan lamunan Alvin.
"Hah?"
Dave memutar bola matanya malas. Pemuda itu menghela napas panjang dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau tidak dengar perkataanku barusan?" gerutunya.
"Maaf, aku sedang tidak fokus."
"Tidak fokus? Jadi kau sama sekali tak mendengar perkataanku?"
Alvin menggaruk tengkuknya canggung, "Maaf, Dave."
"Ya ampun, sejak tadi aku bicara panjang lebar tapi kau bahkan tak mendengarku. Aku seperti bicara dengan angin saja." ujar Dave berpura-pura menepuk angin dan memberikannya pada Alvin. "Aku bicara dengan ini dari tadi."
"Aku kan sudah minta maaf." gerutu Alvin langsung menepis tangan Dave yang hendak memberikan angin itu, membuat Dave terkekeh geli.
"Aku pikir hari ini kau banyak sekali melamun, ya." ujar Dave sembari memperlambat langkahnya agar sejajar dengan Alvin.
Kedua alis Alvin berkerut, "hm?"
"Lihat ini, kau bahkan tak mengerti tentang apa yang sedang aku bicarakan. Kau sedang memikirkan hal lain, ya? Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Dave penasaran.
"Sebenarnya ini tentang Karina." ujar Alvin, pada akhirnya memilih untuk bercerita.
Dave menaikkan satu alisnya tinggi saat mendengar nama Karina disebut. "Siapa? Karina?"
"Benar."
"Kali ini ada apa lagi dengan nenek sihir menyebalkan itu?"
"Yang baru saja mengirimi aku pesan adalah Karina."
Dave sontak menghentikkan langkahnya dengan tiba-tiba dan berbalik untuk menghadap ke arah Alvin.
Langkah Alvin pun terhenti saat mengetahui Dave dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahnya.
"Apa kau bilang?" tanya Dave. "Untuk apa kau masih berhubungan dengan penyihir itu? Kau belum menghapus nomornya?"
"Karina yang lebih dulu menghubungiku." jawab Alvin.
Wajah Dave tampak mengeras, tapi ia tak mengatakan apapun.
"Sebenarnya sudah beberapa kali ini dia datang untuk menemuiku." lanjut Alvin.
"Untuk apa lagi dia datang menemuimu?"
__ADS_1
"Aku juga bertanya-tanya hal yang sama. Dia agak aneh. Dia bilang aku harus jauh-jauh dari seseorang yang tak dia suka."
Dave mendengus, "Aku pikir dia gilā karena masih berani meminta hal konyol itu padamu. Memangnya siapa yang harus kau jauhi?"
"Seorang kenalan."
"Kenalan? Apa perempuan?"
"Hm. Dia adalah seorang gadis yang aku yakini pernah punya konflik dengan Karina sebelumnya. Mereka tak sengaja bertemu saat aku sedang bersama gadis itu, ternyata kenal dan saling melontarkan hinaan. Itulah sebabnya Karina menyuruhku untuk menjauhi gadis itu."
"Karina sungguh tak waras. Apa dia pikir kau masih kekasihnya sehingga bisa mengatur dengan siapa kau berteman?"
"Itu juga yang aku pikirkan. Kau tau? Sudah beberapa kali Karina mencariku hanya untuk memastikan aku bersedia menjauhi gadis itu."
Dave menatap Alvin lurus, tampak senyuman penuh kemenangan terpampang jelas di wajahnya dan menatap Alvin dengan ekspresi puas.
"Selamat Alvin. Kupikir kau-lah pemenang sebenarnya di sini." ujar Dave menepuk-nepuk bahu Alvin.
"Pemenang apa maksudmu?"
"Aku rasa kau-lah pemenangnya. Karina… tampaknya dia mulai menyesal atas perbuatannya sendiri karena sudah mencampakanmu. Dan saat ini pasti dia sedang merasakan kecemburuan di hatinya"
Alvin mendecih, "Menyesal apanya."
"Dia menyesal, Alvin. Karina pasti menyesal. Aku yakin dia hanya sedang mencoba mencari cara untuk berbaikan denganmu."
"Dibanding memikirkan hal positif aku lebih percaya hal negatifnya."
"Hal negatif?"
"Ya, aku justru berpikir kalau ada yang tak beres. Aku yakin ini hanya akal-akalan Karina saja untuk membuatku tak punya pacar baru agar dia bisa lebih menghinaku.." Alvin tersenyum hambar sembari mengangkat bahu acuh.
"Tapi kalau dipikir-pikir ini memang aneh. Karina. Dia menghubungimu lagi hanya karena kau dekat dengan seseorang yang tak dia suka. Ya, itu memang agak aneh."
"Benar, kan?"
"Ya. Kalau begitu kau harus mengambil tindakan." ujar Dave. "Aku rasa kau harusnya tidak bertemu dengan Karina lagi. Maksudku, kau jauh-jauhlah dari gadis ular itu." ujar Dave
Alvin terkekeh setelah mendengar perkataan Dave terhadap Karina.
"Aku sudah berusaha menjauh darinya."
"Tapi dia tetap mengganggumu, kan?"
"Ini bukan masalah besar, tak perlu kau pikirkan lagi."
"Aku hanya tak ingin kau kembali dengan nenek sihir berhati ular itu." ujar Dave.
"Aku tak akan kembali dengannya. Lagipula semua tentang dia hanya bagian dari masa laluku saja."
Dave tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Baguslah."
__ADS_1
***
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian. Jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.