Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
38


__ADS_3

Alvin turun dari mobil sambil menatap bangunan rumah mewah di hadapannya dengan tatapan kagum. Seumur hidup belum pernah Alvin masuk apalagi sampai menginjakkan kakinya di dalam area rumah semewah ini.


Lihatlah! Saking besarnya rumah ini, satpam yang berjaga di pos dekat pintu gerbang tadi bahkan lebih dari lima orang. Tentu saja, mana mungkin seorang atau dua orang satpam saja mampu menjaga rumah sebesar ini.


"Hei, kenapa kau malah melamun di situ."


Ziva menatap heran pada Alvin yang saat ini tengah berdiri diam, menatap takjub ke arah rumah mewah di hadapannya.


"Hei!" seru Ziva lagi.


Alvin segera tersadar dari kekagumannya. "Y-ya?"


"Apalagi yang kau tunggu? Ayo, cepat bantu aku untuk membawanya masuk kedalam!" ujar Ziva sambil membuka pintu bagian belakang mobilnya.


Alvin mengangguk dan langsung melangkah mendekat ke sisi lain mobil.


"Bagaimana aku… membawanya?" Alvin bertanya ragu.


"Dengan menggendongnya, tentu saja." jawab Ziva.


"Menggendongnya?"


Ziva menganggukkan kepala. "Ya kau menggendongnya. Bagaimana lagi memangnya? Kalau aku bisa melakukannya aku tidak mungkin memintamu?"


"Menggendong di depan atau di belakang?"

__ADS_1


"Kenapa kau banyak sekali bertanya sih?" Ziva berujar ketus. Ia mulai kesal karena Alvin malah membuang waktu dengan banyak bertanya.


"Masalah itu..." Alvin menggosok belakang lehernya canggung.


Sebenarnya bukan tanpa sebab Alvin bertanya. Bagi Alvin memegang sembarangan orang tanpa izin dari pemilik tubuh adalah hal yang kurang sopan. Meskipun saat ini ia tengah membantu orang itu. Ia tak ingin di sebut sebagai seseorang yang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan.


Ziva menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kau malu? Belum pernah menggendong wanita ya?"


"Bu-bukan, saya hanya-"


Ziva mengibaskan tangannya acuh, membuat kalimat Alvin terpotong.


"Kalau begitu, kau tidak perlu menggendongnya di depan kalau kau tak bisa. Kau gendong dia di belakang punggungmu saja."


Alvin dengan cepat merengkuh tubuh Evelyn, menggendong gadis itu di depan tubuhnya dengan dibantu oleh Ziva. Setelah itu barulah ia mulai melangkah untuk mengikuti Ziva memasuki rumah mewah itu.


Begitu menyusuri teras rumah mewah itu, sekali lagi Alvin harus terkejut setelah menyadari banyak sekali pelayan yang terlihat melintas di dekatnya.


'Rumah semewah ini bahkan tidak di kunci? Apa tidak takut maling masuk.' batin Alvin saat melihat dengan mudahnya Ziva mendorong pintu itu hingga terbuka.


Detik selanjutnya, Alvin mengingat sesuatu. Bukankah ada banyak sekali pelayan di rumah ini. Jadi, tidak mungkin akan ada maling yang berani masuk apalagi sampai mencuri barang.


Bagaimana ia bahkan bisa melupakan seberapa banyaknya satpam di pintu gerbang tadi.

__ADS_1


"Dasar bodoh." gumam Alvin kemudian terkekeh pada dirinya sendiri.


"Apa?" Ziva yang berada di depan menghentikan langkahnya dan menoleh. Tangan gadis itu masih menyentuh gagang pintu. "Siapa yang bodoh?"


"Ti-tidak." buru-buru Alvin menggeleng dengan senyum canggung.


Ziva menatap Alvin dengan tatapan heran selama beberapa saat barulah kemudian ia menganggukkan kepalanya acuh dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Ayo, cepat! Kita langsung antar dia masuk ke dalam kamar saja." ujar Ziva setelah membuka pintu masuk utama.


Sementara Alvin terus mengikuti langkah gadis itu sambil sesekali memperbaiki posisi Evelyn yang tengah ia gendong.


Dan akhirnya setibanya mereka di kamar Evelyn, Alvin segera membaringkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidurnya.


"Bisa tolong ambilkan handuk bersih. Ada di sana, di dalam lemari di sebelah meja rias." pinta Ziva. "Jangan lupa di basahi lebih dahulu."


"Baik." jawab Alvin, mengangguk.


Alvin kemudian mulai bergerak menuju lemari untuk mencari handuk yang dimaksud. Ia membasahi handuk itu dengan air yang ada di wastafel dekat kamar mandi kemudian memerásnya.


Alvin lalu berlari kembali menuju Ziva untuk menyerahkan apa yang diminta oleh gadis itu.


"Kau keluarlah dulu. Aku akan membereskan semuanya di sini. Tapi jangan pergi dulu. Aku akan menemuimu di luar sebentar lagi, oke." ujar Ziva.


Alvin mengangguk dan segera meninggalkan Ziva di kamar itu, membiarkan gadis itu membereskan segalanya.

__ADS_1


Ziva mulai melepas sepatu hak tinggi milik Evelyn dan membersihkan tangan dan lehernya dengan handuk. Ia lalu menyelimuti sahabatnya itu dengan selimut tebal milik gadis itu. Setelah itu barulah ia beranjak keluar kamar untuk menemui Alvin.


***


__ADS_2