Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
127


__ADS_3

"Kita sudah sampai." kata Karina memberhentikan mobilnya di area parkir kampus.


"Ya, terimakasih tumpangannya." ujar Alvin buru-buru membuka mobilnya namun di tahan oleh Karina.


"Aku bisa mengantarkanmu pulang nanti siang." ujar Karina.


Alvin menyentak tangan Karina, "Aku ucapkan terima kasih padamu. Tapi kurasa aku akan ikut Dave saja."


Setelah itu Alvin dan Karina turun bersamaan dari mobil milik Karina. Alvin bisa melihat banyak mahasiswa melihat ke arah mereka dengan tatapan heran.


Alvin paham.


Semua orang tahu kalau Alvin dan Karina sudah putus beberapa waktu lalu. Itu sebabnya mereka pasti terkejut melihat kebersamaan mereka. Tapi Alvin kan tak punya kewajiban untuk mengklarifikasi apa-apa pada mereka.


Dan tepat saat itu juga, Alvin melihat Steve yang awalnya tengah mengobrol dengan beberapa temannya di dekat area parkir,juga tengah melihat pada mereka.


Ah, bukan mereka, lebih tepatnya adalah Steve tengah menatap padanya dengan tatapan tajamnya.


"Steve pasti salah paham." gumam Alvin memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin bertemu pandang dengan lelaki itu.


Steve pasti berpikir kalau ia tengah menggoda Karina sekarang. Pemuda itu selalu saja salah paham mengenai dirinya.


Alvin bisa melihat Steve yang tengah bangkit dari posisinya dan dengan cepat melangkah, mendekat pada Karina.


"Sayang?"


Karina tersenyum, "Hai, Steve."


"Kenapa kau bisa datang bersama dengan pemuda bodòh ini?" kata Steve merangkul pundak Karina.

__ADS_1


Karina menatap Steve lalu beralih lagi pada Alvin yang tengah berdiri dengan kepala menunduk, pemuda itu tampak canggung di posisinya.


"Aku harus pergi. Terima kasih atas tumpangannya." ujar Alvin dengan cepat melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.


Mengingat jika beberapa waktu lalu Steve juga meminta pada dirinya untuk menjauh dari Karina, membuatnya tak ingin berurusan lebih lama dengan pria berbadan besar seperti Steve.


Alvin tak ingin cari gara-gara.


Steve mendengar perkataan Alvin itu tapi ia hanya diam sembari mengangkat alisnya. Steve seolah tak ingin menanggapi apapun setelah mendengar Alvin bicara. Ia tak peduli dengan itu sekarang. Ia lebih tertarik melihat raut wajah Karina.


Kekasihnya itu hanya diam sambil menatap kepergian Alvin. Dan jujur saja, tatapan Karina itu membuat hati Steve terbakar cemburu.


Karina sendiri masih menatap kepergian Alvin dalam diam. Gadis itu seolah tak mendengar pertanyaan yang Steve lontarkan kepadanya beberapa saat lalu.


Steve menghela napas, mencoba mengontrol emosinya saat ini. Meskipun sejujurnya hatinya begitu panas.


"Sayang?"


"Kenapa tak dijawab?"


"Menjawab apa?" Karina memandang Steve dengan tatapan bingung.


"Aku sedang bicara padamu sejak tadi, kau tak dengar pertanyaanku?"


Karina mengusap wajahnya, "Ya ampun, maaf, sayang. Aku tak fokus tadi."


Steve tersenyum miris. Ia tahu alasan Karina sampai tak fokus dengan dirinya adalah karena ia tengah Alvin. Ini sungguh menjengkelkan bagi Steve, melihat kekasihnya masih memiliki rasa pada mantan kekasihnya.


"Aku bertanya, kenapa Alvin bisa datang ke kampus bersamamu?"

__ADS_1


"Ah masalah itu. Aku, maksudku Alvin, ban motornya tadi bocor, jadi aku-"


"Kau memberinya tumpangan, begitu?" tebak Steve.


Karina menganggukkan kepalanya perlahan.


"Ya, semacam itu." Karina lalu menoleh pada Steve, menatap tak enak pada kekasihnya. "Aku hanya berniat membantunya. Kau tak masalah kan sayang?"


Steve diam beberapa saat. Pemuda itu menatap punggung Alvin dengan tajam. Tangannya tampak mengepal kuat.


Seingatnya kemarin ia sudah menyuruh Alvin untuk menjauh dari Karina, apapun itu alasannya. Ia juga tak peduli entah siapapun yang mendekati lebih dahulu.


"Sayang?" panggil Karina menyadari Steve tak kunjung menjawab.


"Ya?"


"Kau tak masalah kan?"


"Oh, ya. Tentu. Aku tak masalah sama sekali." ujar Steve tersenyum. "Tapi bukankah kau membencinya?"


"Aku baru menyadari kalau aku sama sekali tak membencinya. Aku bahkan menyesal sudah melakukan itu padanya."


"Begitukah?"


"Ya, aku pikir aku juga perlu minta maaf padanya untuk kesalahanku." ujar Karina tersenyum.


Steve balas tersenyum. Namun tanpa Karina sadari, senyum di wajah Steve berubah menjadi raut kesal.


***

__ADS_1


__ADS_2