Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
86


__ADS_3

Alvin menghela napas panjang, membuat Dave yang sedang duduk menjelasakan materi di hadapannya langsung terhenti. Ia menatap Alvin dengan alis yang menukik bingung.


"Ada apa?" tanya Dave.


"Apanya?"


"Penjelasanku. Apa susah kau mengerti?" tanya Dave dengan raut penasaran karena melihat sahabatnya yang sejak tadi tampak diam, melamun.


Alvin mengerjap.


Pemuda itu lalu menundukkan pandangan untuk menatap buku tebal di hadapannya dan menoleh ke area sekitarnya. Ia baru ingat kalau ia dan Dave tengah berada di perpustakaan karena sedang mengerjakan tugas kelompok yang baru saja diberikan oleh dosen di kelas mereka beberapa saat yang lalu.


"Apa temanya kurang cocok untukmu?"


"Aku-"


"Kalau terlalu sulit dimengerti kita bisa ganti tema saja." Dave menyarankan.


"Tidak. Tidak perlu." Alvin menggeleng cepat, "Tema ini adalah yang terbaik."


"Baiklah." Dave menganggukkan kepalanya paham. Dave yang hendak mengerjakan materi, kembali menatap Alvin dengan tatapan penasaran. "Tapi apa kau baik-baik saja?"


"Ya?"


"Aku tanya, apa kau baik-baik saja? Wajahmu tampak pucat sekali. Kau sakit?"


Alvin menatap wajah Dave yang terlihat khawatir sekaligus juga penasaran. Ia menghela pelan. Sahabat kepo-nya itu memang selalu mengetahui apapun tentang Alvin tanpa perlu Alvin mengatakan apapun padanya.


"Lingkaran hitam di bawah matamu mengganggu penglihatanku. Kau terlihat seperti orang sakit." Dave bicara seolah bercanda, padahal ia sedang serius.


"Aku baik-baik saja, Dave."


"Kau yakin? Maksudku, kau banyak melamun hari ini. Kau bahkan tampak tak fokus selama penyampaian materi di kelas tadi."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Mungkin aku hanya kurang tidur." Alvin memijit keningnya, merasa sedikit pusing.


"Lihat itu. Kau memang sakit." protes Dave.


"Tak masalah, Dave. Aku akan beristirahat kalau sempat." jawab Alvin masih menatap buku tebal di hadapannya. "Sampai dimana kita tadi?"


Dave diam, menatap sahabatnya lekat-lekat. Alvin selalu seperti ini. Tak memperdulikan kesehatannya sama sekali. Dave tau kalau Alvin sedang kelelahan sekarang.


"Kau tidurlah dulu! Istirahat."


Alvin mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu?"


"Bagian mana dari kata 'istirahat' yang tidak kau pahami?"omel Dave.


Alvin membalas dengan dengusan.


"Bukan itu. Kau lihat sendiri kalau tugas kuliah kita belum selesai. Tapi kau malah menyuruhku istirahat?"


"Ini tugas mudah. Aku bisa mengerjakannya sendiri."


"Ayolah Alvin, lagipula aku juga sering tidur saat kau yang mengerjakan tugas kelompok. Anggap saja ini balas budi dariku. Setelah selesai, kau bisa cek pekerjaanku."


"Aku tidak mau hanya satu orang yang mengerjakan. Ini tugas kelompok. Kita berdua yang harus mengerjakannya. Ayo cepat kita kerjakan!" pinta Alvin.


"Kalau begitu kita akhiri saja pembahasan materinya. Kau istirahat-lah dulu. Kau pasti kelelahan. Aku rasa kau bekerja terlalu keras." Dave menduga-duga.


"Mungkin saja, ya. Tapi aku rasa tidak perlu sampai mengakhiri pembahasan materi kita. Aku hanya-"


"Berhentilah bicara. Kau istirahat-lah sekarang. Kita masih punya satu lagi mata kuliah yang harus dihadiri setelah ini. Jangan sampai kau tidak fokus nanti." potong Dave panjang lebar sembari memasukan barang-barangnya ke dalam tasnya.


"Baiklah, aku ikuti maumu itu."


Alvin menyerah dan turut memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Apa bos di tempat kerjamu yang baru memaksamu mengangkat barang berat?" Dave bertanya nyeleneh, ia tau itu. Tapi pertanyaan itu muncul karena ia melihat Alvin yang tampak begitu kelelahan, entah kenapa. "…atau, apakah dia terus memintamu bekerja tanpa henti, begitu?"


"Tidak. Ayolah Dave, bertanyalah hal yang lebih masuk akal sedikit." omel Alvin atas pertanyaan konyol itu sembari memasang tali tasnya ke bahu.


"Ya, baiklah. Maaf." Dave menggedikkan bahunya. "Aku bertanya karena kau tampak seperti orang yang sedang setres."


Alvin buru-buru memegang wajahnya.


"Benarkah? Aku tampak seperti itu?"


"Ya, benar." Dave mengangguk.


"Apa terlihat begitu jelas?"


"Ya," Dave mengangguk.


"Aku tidak setres. Aku hanya merasa lelah dan mengantuk."


"Aku jadi penasaran apa sebenarnya pekerjaanmu. Kau tampak seperti punya beban pikiran yang banyak saja. Seperti tidak tidur selama beberapa hari."


Alvin terkekeh. "Lebih baik kau tidak tahu."


"Kenapa?"


"Kalau kau tahu kau akan kaget."


"Aku akan kaget? Kenapa memangnya? Apa kau bekerja sebagai pengedar barang haram?"


"Otakmu sungguh negatif." omel Alvin menggelengkan kepalanya lelah.


Dave tertawa geli.


"Ya sudah. Kau istirahatlah dulu!" ujar Dave. "Biar aku yang akan mengembalikan buku-buku ini ke lemari perpustakaan."

__ADS_1


Dave kemudian berdiri sembari membawa setumpuk buku di dadanya menuju ke lemari perpustakaan untuk mengembalikannya.


***


__ADS_2