
Untuk beberapa detik Alvin kembali terhenyak di posisinya. Kenapa cara bicara gadis dihadapannya ini seperti orang yang mengutarakan perasaan saja sih?
Selain itu, alasan yang di sebutkan Evelyn barusan untuk beberapa detik telah membuat kepercayaan diri Alvin yang hilang beberapa waktu ini kembali tumbuh.
Hati Alvin merasa senang, entah kenapa. Ini seperti seseorang telah memberinya sebuah harapan bahwa kehadirannya memang diharapkan.
Detik selanjutnya, Alvin tersadar dari pikirannya sendiri dan langsung menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja ia pikirkan?
Yah, benar kata orang, menjadi terlalu percaya diri bukanlah hal yang baik.
'Percaya diri sekali sih aku.' pikirnya.
Alvin lalu menatap ragu pada Evelyn yang saat ini sudah kembali melanjutkan makannya dengan santai.
Alvin lalu berdehem pelan.
"Nona sebenarnya aku ini bukanlah orang yang cocok untuk dijadikan sebagai teman seperti yang anda katakan. Apalagi dijadikan teman oleh orang seperti anda ini." ujar Alvin merasa minder.
"Orang sepertiku?" Evelyn menaikkan sebelah alisnya.
"Ya,"
"Memangnya aku ini orang seperti apa?"
"Kaya. Cantik. Sempurna. Teman nona juga orang-orang kaya dan sangat terhormat. Saya lihat sendiri di ruang private malam itu."
Evelyn sontak terkekeh geli setelah mendengar jawaban itu.
"Oh, ayolah Alvin. Itu alasan yang konyol dan terlalu kau buat-buat." Evelyn lalu menatap Alvin dengan tatapan curiganya.
"Apa jangan-jangan kau hanya membuat alasan karena sebenarnya kau tidak bersedia menjadi temanku? Benar begitu, kan?" tebak Evelyn. "Apa aku terlalu liar untuk menjadi teman pria baik sepertimu?"
Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya untuk membantah dugaan Evelyn itu.
__ADS_1
"Bukan, bukan begitu maksudnya. Saya bukannya menganggap diri saya ini baik. Anda jangan salah paham dulu" ujar Alvin lagi dengan gagap.
"Tapi entah kenapa aku merasa seperti kau baru saja menolak diriku?"
"Nona, anda salah paham. Bukan begitu maksudnya."
"Kalau begitu, kau mau, kan?" kedua mata Evelyn kini tampak berbinar-binar.
"Tapi aku ini-"
"Mau menerima permintaan pertemananku atau tidak? Intinya aku tulus ingin berteman denganmu."
Hening.
Tak ada jawaban dari Alvin. Pemuda itu tampak diam selama beberapa detik.
Sejujurnya Alvin merasa sedikit terkejut saat mengetahui ada seorang wanita kaya dan juga sempurna seperti Evelyn yang menawarkan diri untuk berteman dengannya.
Alvin jelas gelisah sendiri. Pikirkan lagi. Sejak pertemuan pertama mereka, Alvin sudah merasa tertarik pada Evelyn. Bagaimana ia bisa berteman dengan gadis itu sekarang.
Lalu bagaimana jika nanti Evelyn mengetahui perasaan Alvin yang sebenarnya padanya. Alvin yakin kalau gadis itu pasti akan menjauhinya setelah mengetahuinya.
Evelyn bisa melihat dengan jelas keraguan di wajah Alvin.
Diam-diam gadis itu tersenyum miris. Apa-apaan ini. Bahkan untuk berteman dengan Alvin saja ia sampai begitu kesulitan seperti ini.
Selama ini, tak pernah ada orang yang akan berpikir dua kali hanya untuk berteman dengan Evelyn.
Pemuda ini memang berbeda dari lelaki lain.
"Ayolah Alvin, jangan membuatku merasa kecewa dengan jawabanmu." ujar Evelyn tersenyum hambar.
Alvin menatap Evelyn lekat-lekat dan menghela napasnya dalam lalu tersenyum. "Ya, aku bersedia. Kita bisa berteman dengan baik mulai sekarang."
__ADS_1
"Benarkah?" Evelyn tersenyum senang. "Terima kasih."
Alvin hanya bisa tersenyum kecil sebagai tanggapan atas sikap Evelyn.
Jujur saja, sebenarnya tak ada alasan bagi Alvin untuk menolak permintaan Evelyn untuk menjadi temannya.
Evelyn adalah orang baik. Gadis itu bahkan tak memandang status sosial untuk berteman dengan dirinya. Namun entah kenapa Alvin hanya merasa ada yang ganjil untuk berada di dekat Evelyn sebagai teman biasa.
Alvin menyukai Evelyn. Dan Alvin sungguh tak ingin gadis ini tahu kalau ia merasakan rasa suka padanya.
Itulah hal utama yang membuat Alvin takut. Ia sungguh takut jika ia dan Evelyn berteman, perasaan tertarik itu akan semakin tumbuh menjadi rasa cinta dan bertambah besar seiring pertemanan mereka.
Dan ia terlalu sadar diri untuk merasakan itu pada wanita sempurna seperti Evelyn.
Alvin tahu kalau pada akhirnya ia akan terjebak bahkan tersiksa oleh perasaannya sendiri.
Alvin hanya bisa menundukkan kepalanya dan tersenyum miris saat memikirkan itu.
Sementara itu, Evelyn sendiri tampak tersenyum senang. Ia mendorong mangkuk kosong miliknya yang baru saja selesai dinikmati. Ia meraih gelas, meminum minuman miliknya kemudian meletakkannya kembali ke atas meja.
"Bagaimana kalau mulai sekarang aku bisa bertanya banyak hal padamu." ujar Evelyn memecah lamunan Alvin.
Alvin menatap Evelyn, tersenyum kemudian menganggukkan kepala. "Silahkan. Anda ingin bertanya apa?"
"Yah, sebenarnya aku penasaran tentang satu hal." ujar Evelyn.
"Hal apa itu?"
Evelyn menegakkan tubuh dan mendekatkan tubuhnya pada Alvin, menatap Alvin dengan tatapan menyelidik.
"Apa kau menyukaiku?"
***
__ADS_1