
"Wanita itu?" tanya Evelyn sekali lagi, menunjuk wanita yang sedang menyandar ke mobil.
Daniel mengangguk.
"Pastikan sekali lagi. Benarkah dia yang sudah berani menggoda Alvin?"
"Aku yakin seratus persen, Eve! Dia yang menggoda suamimu itu."
Evelyn hendak protes atas panggilan 'suami' yang disematkan Daniel pada Alvin tapi ini bukan saat yang tepat untuk itu. Wanita kurÁng ajar itu harus diberi pelajaran lebih dulu.
Tatapan Evelyn kembali beralih untuk menatap wanita itu selama beberapa detik sebelum kemudian tersenyum licik.
"Pegang ini."Evelyn menyerahkan tas dan jaket miliknya pada Daniel, membuat pemuda itu terkejut.
"Hei, mau kemana kau?" tanya Daniel terkejut.
Evelyn merenggangkan otot lehernya dan menatap Daniel dengan senyuman. "Cari masalah." ujarnya
"Hah?"
"Kau tunggu di sini dulu." ujar Evelyn santai lalu melangkah meninggalkan Daniel.
Daniel hanya bisa menatap Evelyn yang sudah melangkah meninggalkan dirinya. Daniel yakin kalau Evelyn pasti akan melakukan sesuatu yang liar lagi malam ini.
"Aku tak mau melihatnya." gumam Daniel dengan cepat membalikkan badannya untuk membelakangi Evelyn sebelum sahabatnya itu sampai ke tempat wanita itu berada.
Jujur saja, Daniel pernah melihat Evelyn melakukan hal liar. Tapi itu sudah lama sekali. Dan Daniel menyadari kalau kali ini dia melihat tatapan yang sama dengan yang Evelyn tunjukkan waktu itu.
Daniel berani bertaruh pada harta orang tuanya, kalau Evelyn akan melakukan sesuatu hal ekstrem pada gadis itu. Itulah kenapa Daniel tak ingin melihat aksi yang akan Evelyn lakukan.
"Lebih baik aku menunggu dulu disini." gumam Daniel. "Ah, atau aku masuk saja lagi ke dalam."
Daniel sudah hendak melangkah meninggalkan Evelyn sampai hatinya entah kenapa jadi ragu dan menoleh lagi ke arah Evelyn.
"Tidak, aku tak bisa membiarkannya melakukan itu. Aku harus menahannya. Harusnya aku tak memberitahu apapun padanya tadi." ujar Daniel.
Padahal tujuan Daniel menceritakan kejadian Alvin tadi adalah untuk melihat reaksi Evelyn tapi justru berakhir seperti ini.
"Ah, siál!" umpat Daniel pada akhirnya mengikuti Evelyn.
__ADS_1
Sementara itu, Evelyn sendiri tengah melangkah dengan cepat bergerak mendekati wanita yang ditunjuk Daniel tadi.
Evelyn melangkah tanpa sedikitpun rasa takut di wajahnya. Senyuman bahkan seakan tak luntur dari wajahnya.
"Hei," sapa Evelyn tersenyum begitu sampai di hadapan wanita yang tampaknya baru saja selesai menelepon itu.
Wanita itu mengerutkan dahi. Ia bingung siapakah gadis asing yang berdiri dihadapannya ini. Meskipun begitu, ia tetap membalas sapaan Evelyn barusan
"Ya?" jawab wanita itu.
"Kenalkan namaku Evelyn. Siapa namamu?" tanya Evelyn.
"Monika."
Evelyn mengangguk, "Baiklah."
Gadis itu semakin mengerutkan alis melihat sikap aneh Evelyn.
"Apa aku mengenalmu?"
"Tidak."
"Ada." jawab Evelyn tersenyum sampai tiba-tiba saja raut wajahnya berubah jadi datar, "Aku butuh melakukan ini padamu..."
Plak!
Semua orang yang tengah berada di area parkir terkejut saat melihat Evelyn yang tiba-tiba saja menampar wajah wanita dihadapannya itu.
Daniel yang berada dibelakang bahkan sampai menghentikan langkahnya dan menatap Evelyn dengan terkejut.
"Oh, apakah benar-benar akan ada yang mati malam ini." gumam Daniel meringis canggung.
Monika menatap Evelyn masih dengan tangan yang memegangi pipinya yang memerah. "Apa yang kau lakukan, sialan!"
"Menamparmu."
Gadis itu menatap Evelyn tak percaya.
"Apa yang kulakukan sampai membuatmu kesal, hah! Kita bahkan tak saling kenal." ujar Monika menatap Evelyn tajam.
__ADS_1
"Kita memang tak saling kenal tapi kau mendapatkan itu karena sudah mengusikku." jelas Evelyn.
"Aku? Mengusikmu? Aku bahkan baru melihatmu. Dan kau yang lebih dulu mengusikku." Gadis itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah Evelyn. "Kau mau kulaporkan polisi atas perlakuanmu ini?"
Evelyn mendecih.
"Jangan repot-repot," kata Evelyn. "Kau hanya akan menyusahkan polisi dengan urusan tak penting seperti ini."
"Kau menamparku dan kau bilang ini urusan tak penting?" Wajah wanita itu tampak mengeras.
Evelyn melangkah maju mendekat pada Monika untuk berbisik, "Biar kuberitahu. Kau tidak perlu lagi datang ke klub ini."
"Apa?"
"Aku mendapat informasi kau mencoba menggoda suamiku."
"Suami? Ck, aku bahkan tak tahu siapa suamimu itu. Jangan mengada-ada."
"Kau tak ingat?" Evelyn menatap Monika tajan. "Aku bicara tentang lelaki di toilet itu!"
"Toilet?" gumam Monika. Dan kedua matanya seketika membulat, "Maksudmu… pelayan itu?"
"Ah, jadi kau ingat sekarang?"
"Ck, laki-laki itu suamimu?"
"Benar. Dan kau berani menggodanya. Jadi mulai sekarang jangan berani masuk ke klub ini lagi. Atau kau akan ditendang oleh penjaga." ujar Evelyn tajam.
"Hei, kau bisa marah karena aku sudah menggoda suamimu. Tapi siapa kau berani melarangku untuk masuk ke klub ini lagi?"
"Aku?" Evelyn mendekatkan wajahnya pada Monika. "Biar aku beritahu. Aku adalah pemilik klub ini."
"Apa?"
***
Note :
Bab 92-102, saya revisi. Trm
__ADS_1