Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
16


__ADS_3

Evelyn menggigit bibir bawahnya. Dalam hati ia meruntuki, bagaimana bisa ia lupa menutupi tanda di tubuhnya.


Sementara Ziva hanya mendengus sinis saat melihat tingkah konyol dari sahabatnya itu.


"Kenapa kau harus terkejut begitu? Apa kau lupa punya tanda dilehermu juga. Ayo, cepat katakan bekas bibir siapa itu, hah?"


"Isshh, bisakah kau berhenti memandangi tanda di tubuhku, Ziva." ujar Evelyn dengan nada tajam.


Ziva hanya terkekeh sebagai tanggapan atas omelan sahabatnya itu.


"Tiba-tiba aku jadi penasaran, siapa lagi lelaki yang kau tiduri semalam dan memberimu kecupán ini." ujar Ziva menunjuk leher Evelyn dengan dagunya.


Ziva lalu melanjutkan, "Apa tidak cukup bagimu meniduri laki-laki saat di Bali kemarin. Dan bukankah kau bilang pria di Bali adalah yang terakhir untuk kau tiduri. Kau juga bilang kalau kau pensiun meniduri para lelaki. Tapi apa ini?"


"Ini bukan bekas kecup*n, oke!" protes Evelyn tak terima. "Ini hanya… bekas gigitan nyamuk dan agak gatal, jadi-"


"Wow, kau pandai sekali berakting. Aku bahkan sampai tertipu dengan aktingmu yang hebat itu." ujar Ziva sinis, bicara dengan nada meledek.


Oke, Evelyn benar-benar merasa terpojok sekarang. Ia malah jadi salah tingkah sendiri mendengar ejekan sahabatnya itu.


Dan tepat saat itu juga, sepintas ingatan tentang semalam muncul. Itu adalah ingatan antara dirinya yang nyaris bercin+a dengan seseorang pria yang merupakan direktur dari majalah terkenal.


Kenyataan bahwa cium*n pria itu yang sama sekali tidak membangkitkan gairah apapun di tubuhnya menjadi sebab ia tidak ingin membahas hal ini sekarang.


Evelyn buru-buru menggelengkan kepalanya, mencoba dengan keras menghapus ingatan itu dari kepalanya.


"Bisa kita hentikan pembicaraan ini?" ujar Evelyn.


"Kenapa? Kau malu?"


"Aku hanya tak ingin membahasnya. Dan sekarang aku jadi penasaran tentang apa sebenarnya yang sedang kau lakukan di rumahku sore-sore begini? Aku yakin kalau kau kemari bukan hanya untuk membahas tentang 'tanda'ku ini kan?" tanya Evelyn sinis.

__ADS_1


Ziva menggedikkan bahunya acuh. "Ya, kau benar. Aku memang bukan ingin membahas 'tanda'mu itu!"


"Jadi apa?" tanya Evelyn sembari melangkah ke arah sofa dan mendudukkan dirinya di sofa itu, tepat di sebelah Ziva.


"Hm, jadi begini. Seperti yang kau tau, kalau aku akan mengadakan pesta. Dan seingatku kau sudah berjanji kalau kau juga akan datang. Jadi hari ini aku datang untuk menagih janjimu dan memastikan kalau kau memang akan datang di pesta itu nanti." jelas Ziva.


"Menagih janji? Memangnya kapan aku pernah berucap janji padamu?" Evelyn mengeryit heran.


"Siál, Eve!" umpat Ziva kesal. "Apa kau mau melupakan janjimu sendiri, hah? Kau sudah berjanji padaku, sahabatmu sendiri."


"Haha, tenang saja Ziva. Tentu saja aku masih ingat janjiku." ujar Evelyn tersenyum geli melihat reaksi kesal dari sahabatnya itu. "Aku hanya mengerjaimu barusan."


"Evelyn, apa liburanmu di Bali waktu itu kurang menyenangkan sehingga harus mengerjaiku lebih dulu hanya untuk tertawa?"


"Wajahmu lucu saat marah, Ziva. Sangat menyenangkan untuk dilihat."


"Kau ini sahabat macam apa, heh." omel Ziva kesal. "Jadi bagaimana?"


"Ishh, aku tanya kau akan datang kan?" mata Ziva langsung kembali berbinar, mengharap jawaban positif dari Evelyn.


"Hm… bagaimana ya-"


"Oh ayolah… lagipula aku akan mengadakan pestanya di klub milik ayahmu. Aku jamin kau tidak akan rugi jika datang kesana nanti."


Evelyn mengangguk pelan.


"Ya, kau tenang saja. Aku akan datang ke sana. Sekalipun tidak di klub malam milik ayahku. Dimana pun kau mengadakan pestanya aku tetap akan datang, Ziva."


"Aku tahu itu. Kau pasti akan menepati janjimu. Kau memang sahabatku." seru Ziva yang langsung menghamburkan diri untuk memeluk Evelyn.


Evelyn hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku sahabatnya itu. "Jadi apa kau datang kemari hanya untuk menanyakan itu?"

__ADS_1


"Ya," Ziva melepas pelukannya lalu mengangguk mantap. "Aku akan membawa gaunku kemari agar kita bisa pergi bersama nanti. Aku akan ganti baju dan bersiap di sini saja. Nanti aku pinjam ruang riasmu, oke!"


"Ya! Terserahmu saja." jawab Evelyn terkekeh geli. "Kapan acaranya?"


"Belum aku tentukan. Mungkin dua atau tiga hari lagi. Kalau begitu, aku pergi dulu." pamit Ziva memasang kembali jaket ke tubuhnya.


Evelyn mengernyit. "Kau akan pergi?"


"Ya."


"Kemana?"


"Aku akan pergi membeli gaun untuk pesta nanti. Sampai jumpa, Eve!" ujar Ziva setelah mengambil tas mahal miliknya yang ada di atas meja.


Ia lalu melambaikan tangan pada Evelyn kemudian berjalan pergi dari tempat itu, meninggalkan Evelyn sendirian di kamarnya.


Setelah kepergian Ziva, Evelyn kembali menenggak minumannya. Ia hanya diam sambil menatap lekat gelas yang ada di tangannya. Evelyn lalu menghela napasnya pelan. Kalau diminta memilih, sebenarnya dia akan lebih memilih untuk tidak pergi ke pesta itu.


Ia suka pesta, sangat suka. Tapi beberapa hari ini, setelah pulang dari Bali, entah kenapa tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya, sangat lelah.


Evelyn seperti tak punya gairah untuk bersenang-senang sementara waktu ini. Tapi tak masalah, demi sahabatnya yang cerewet itu, dia tetap akan pergi ke pesta itu.


Jujur saja, di bandingkan pergi ke pesta, saat ini Evelyn hanya ingin 'hiburan' untuk tubuhnya. Tapi tidak ada yang bisa memberikan hal itu untuknya. Bahkan, lelaki tampan yang baru Evelyn kenal yang awalnya Evelyn pikir bisa membuatnya puas, justru sama sekali tak bisa membuat tubuhnya merasa senang.


Evelyn sudah mencobanya semalam tapi gagal, ia tak bisa merasakan apapun saat bersama pria itu.


Sebenarnya bukan hanya satu, tapi hampir semua pria yang pernah Evelyn temui dan bahkan menjalin hubungan dengan mereka, semuanya sama. Tak ada yang memuaskan.


Itulah yang membuatnya ingin berhenti bermain pria karena sekeras apa Evelyn berusaha menemukan pria yanh cocok, ia terus gagal.


***

__ADS_1


__ADS_2