Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
31


__ADS_3

Alvin buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain mencoba menghilangkan rasa malu karena kedapatan menatap gadis itu.


Sementara itu, Evelyn malah tersenyum penuh arti. Sejujurnya, Evelyn tahu kalau pelayan itu memang tengah menatapnya.


Beberapa saat setelah pelayan itu memasuki ruangan, Evelyn sudah memperhatikan gerak geriknya.


Dan saat itulah ia menyadari kalau pandangan mata pelayan itu memang terus mengarah padanya.


Ah, Evelyn yakin kalau pemuda itu pasti terpukau pada dirinya.


Yah, tatapan kagum dari lawan jenis seperti ini memang sudah menjadi hal yang biasa bagi Evelyn.


Sejak tadi, Evelyn juga sudah diam-diam melirik Alvin. Dan tanpa sengaja ia malah mendapati kalau pemuda itu tengah menatapnya lalu membuang muka karena malu.


Evelyn menunjuk Alvin. "Pelayan ini… bukankah dia…"


"Namanya Alvin." Ziva memotong ucapan Evelyn.


"Kau ini yang sudah menabrakku di lantai bawah tadi, bukan?" tanya Evelyn pada si pelayan, mengabaikan ucapan Ziva.


Alvin jadi salah tingkah saat tiba-tiba saja diajak bicara oleh Evelyn.


"Oh, jadi kalian sudah bertemu?" tanya Ziva.


"Dia menabrakku tadi." jelas Evelyn lalu menoleh kembali pada Alvin, "Itu kau yang menabrakku, kan?"


Alvin buru-buru menganggukkan kepalanya, gugup.


"Iya, itu saya nona, anda benar. Maaf atas kecerobohan saya tadi." Alvin membungkukkan setengah badannya sopan.


"Apa kau datang untuk mengantarkan minuman pesanan kami?" tanya Evelyn lagi.


"Iya, nona."


"Lalu kenapa kau hanya berdiri diam di ambang pintu seperti itu. Cepat bawa minumannya kemari!" ujar Evelyn lembut sambil menunjuk meja yang ada di tengah ruangan dengan dagunya.


"Baik." Alvin mengangguk patuh.


Dengan cepat Alvin segera masuk untuk membersihkan meja yang penuh dengan gelas dan botol kotor.

__ADS_1


Alvin lalu menyusun gelas kosong dan juga botol minuman yang di pesan oleh orang-orang itu ke atas meja.


Tapi entah kenapa saat fokus mengerjakan pekerjaannya, Alvin merasa kalau mata Evelyn terus memperhatikan pekerjaannya sejak tadi.


Ah, atau tidak?


Apa ia hanya salah sangka saja? Mungkin saja dirinya hanya terlalu percaya diri?


Alvin menggelengkan kepalanya pelan karena menyadari pikirannya yang semakin melantur saja.


'Fokus Alvin, fokus!" batinnya.


Alvin terus melanjutkan pekerjaannya. Ia bergerak cepat. Tak ingin membuat orang-orang diruangan itu terganggu akan kehadirannya.


"Apa kalian tahu? Dia tadi hanya berdiri dan menunggu di depan pintu ruangan ini." ujar Ziva tertawa setelah menceritakan apa yang Alvin lakukan diluar ruangan tadi.


"Benarkah?" Evelyn yang pertama bereakasi.


"Benar, awalnya aku pikir dia tamu dari ruangan lain yang sedang mengintip" Ziva tertawa lagi.


"Jadi apa dia pelayan baru? Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini." tanya seorang gadis yang berdiri di dekat Ziva.


Dan setelah mendengar cerita Ziva barusan para gadis yang ada di sekitar sofa langsung mengangguk paham. Mereka bisa mengerti atas sikap canggung yang ditunjukkan oleh pelayan baru ini.


Akhirnya, setelah meletakkan botol terakhir Alvin langsung berdiri tegak.


"Sudah selesai, nona." ujar Alvin. Ia membungkukkan tubuhnya sopan pada orang-orang yang duduk tak jauh darinya itu.


"Baiklah, kau bisa pergi sekarang!" ujar Ziva sambil tersenyum pada Alvin.


"Baik," Alvin mengangguk.


"Kami akan memanggilmu lagi kalau ada yang dibutuhkan atau ingin memesan minuman lagi. Ngomong-ngomong ini uang tip untukmu, ambillah!" ujar Ziva menyodorkan uang pada Alvin.


Melihat Ziva yang tengah memberi Alvin uang, Evelyn tampak dengan cepat mengeluarkan uang dari dalam tasnya.


"Ini juga, uang tip dariku!" Evelyn terlihat memberikan beberapa lembar uang seratus ribu pada Alvin. "Kau ambillah uang ini!"


Alvin menatap bingung pada uang tip dari para gadis itu. Apa hal wajar menerima uang tip seperti ini.

__ADS_1


"Ambillah!" ujar Ziva memberi tanda agar Alvin mengambil uang itu.


"Tapi ini-"


"Wow, ada apa ini? Apa kalian sedang berusaha memperebutkan pelayan ini?" seru seorang gadis yang baru saja datang.


"Wah, apa kau pelayan baru? Ini pertama kalinya aku melihat pelayan setampan kau!" puji gadis lainnya yang juga baru tiba dan langsung duduk di sofa, sembari menatap takjub pada Alvin.


"Dan satu lagi… tidak biasanya Evelyn kita yang tersayang ini memberikan uang tip pada pelayan di sini. Dia pilih kasih sekali. Apakah karena wajahnya yang sangat tampan dan membuatmu tertarik?" lanjut seorang gadis, menggoda Evelyn.


"Tutup mulutmu, Helena!" ujar Evelyn sinis lalu menggeleng pelan saat mendengar kata-kata sindiran dari temannya itu yang malah semakin menjadi-jadi.


"Upsss… tuan putri kita marah." canda Helena.


"Aku hanya sedang berbuat baik, oke." ujar Evelyn sambil tersenyum. Evelyn kembali menoleh pada Alvin. "Lagipula dia pelayan baru disini. Anggap saja ucapan selamat datang untuknya."


Alvin hanya menatap para gadis itu. Ia tampak seperti orang bodoh disini. Apa orang-orang ini sedang mengerjai dirinya?


"Kau! Ambillah uang ini dan pergilah!" ujar Evelyn sambil menyodorkan lagi uang tip di tangannya pada Alvin.


"Ya, cepat pergi! Kalau tidak temanku yang bernama Helena ini akan menahanmu di sini dan akan memperkøsamu nanti." ujar Ziva menunjuk pada gadis yang baru datang tadi.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Ia dengan ragu meraih uang tip pemberian Ziva dan Evelyn itu baru kemudian ia beranjak pergi dari ruangan itu.


Dan sesampainya Alvin di luar ruangan, ia segera menutup kembali pintu ruangan itu dan memegangi dadanya.


Ada apa ini?


Kenapa jantungnya berdetak kencang tak karuan begini? Ia sungguh merasa gugup sekarang. Terutama saat bicara dengan Evelyn, tatapan gadis itu berhasil membuat Alvin tak bisa fokus.


Dan sekarang, ada satu hal lagi yang Alvin sadari dari pertemuan mereka barusan. Wajah Evelyn memang tampak tak asing untuknya.


Alvin jadi benar-benar yakin kalau ia dan Evelyn memang pernah bertemu sebelumnya.


Dimana mereka bertemu, Alvin juga tidak ingat, tapi wajah gadis itu benar-benar familiar diingatannya.


'Dimana kami berdua bertemu, ya?"


***

__ADS_1


__ADS_2