
Bertemu dengan seseorang yang disukai secara tidak sengaja seperti ini adalah sesuatu yang cukup mengejutkan untuk Alvin.
Sebuah kebetulan. Haruskah Alvin menyebutnya seperti itu? Ah, tidak. Dibanding sebuah kebetulan, Alvin lebih suka menyebutnya sebagai takdir.
Evelyn, gadis cantik itu saat ini tengah berada tepat hadapan Alvin. Duduk santai di sofa yang ada di tengah ruangan dengan gaya yang begitu anggun.
Sebelumnya, Alvin tengah melakukan pekerjaannya seperti biasa. Mengantarkan minuman yang dipesan oleh para pengunjung. Dan begitu Alvin memasuki ruangan ini, ia terkejut saat melihat sosok gadis itu.
Untuk beberapa detik, Alvin tampak amat bahagia melihat Evelyn di hadapannya. Jujur saja, sudah beberapa hari ini ia tak melihat Evelyn dan amat merindukannya.
Evelyn tampak menatap Alvin disertai senyum lebar di wajahnya.
Alvin sudah hampir membalas senyuman gadis itu namun segalanya sirna setelah pandangannya beralih pada lelaki yang duduk tepat di sebelah gadis itu.
"Siapa laki-laki ini?" pikir Alvin.
Selama beberapa detik, Alvin tampak terdiam diposisinya, berdiri mematung di ambang pintu ruangan, sementara kedua matanya menatap lurus ke arah pemuda blasteran di hadapannya itu.
'Siapa sebenarnya dia. Apakah dia kekasih Evelyn?' batin Alvin bertanya-tanya.
Alvin menunduk. Entah kenapa mendadak hatinya terasa sakit. Alvin merasakan perasaan kecewa setelah mengetahui Evelyn datang bersama pria bule ini.
Sementara itu, Evelyn sendiri merasa heran melihat Alvin yang malah diam di ambang pintu seperti itu. Pemuda itu tampak fokus menatap Daniel.
"Eve, apa di tatap seperti itu termasuk pelayanan di klub ini?" bisik Daniel.
Evelyn tak menjawab. Gadis itu hanya menatap Alvin dan sahabat lelakinya itu secara bergantian, kemudian tersenyum geli.
Yah, Evelyn tahu jelas apa yang tengah Alvin pikirankan saat ini. Pemuda itu pasti bertanya-tanya siapakah lelaki bule yang bersama dengannya saat ini.
"Alvin!" seru Evelyn pada akhirnya, mencoba memecah keheningan.
Seruan Evelyn itu membuat Alvin tersadar dan mengerjap kaget. "Iya?"
"Minumannya."
"Hah?"
Evelyn menunjuk troli yang Alvin pegang sejak tadi dengan dagunya.
"Kau datang kesini untuk mengantar minuman pesananku, kan?"
"Iya nona."
"Lalu kapan kau akan memberikan minumannya padaku?"
__ADS_1
Alvin menundukkan pandangan untuk memandang troli ditangannya dan seketika tersadar akan kekonyolannya. Kenapa bisa lupa. Dia kan datang kemari untuk mengantar minuman ini.
"Ah benar, minumannya." ujar Alvin canggung.
"Ayo, cepat bawa minumannya kemari." Evelyn bicara dengan nada lembut. "... atau kau masih berniat berdiri diri diam di situ?"
"Tidak, nona." jawab Alvin.
Alvin langsung buru-buru melangkah maju, mendorong troli agar lebih dekat pada meja di tengah ruangan.
"Kau tidak apa-apa, kan?" Evelyn bicara sembari menatap Alvin lekat-lekat.
"... ya?"
"Maksudku, sikapmu terlihat tak seperti biasa. Apa kau sedang sakit?"
"Tidak. Saya baik-baik saja, nona."
"Kau yakin?"
"Ya, nona."
Evelyn menganggukkan kepalanya, ragu. "Baguslah kalau kau baik-baik saja."
Sejujurnya, Alvin berbohong. Saat ini ia memang sedang tak enak badan. Ia tak tahu kenapa tapi beberapa hari ini tubuhnya terasa jauh lebih lemas dari biasanya.
Evelyn sendiri masih menatap dengan ragu. Ia sama sekali tak percaya dengan jawaban Alvin itu. Evelyn yakin kalau Alvin berbohong. Pasalnya, wajah pemuda itu tampak sedikit pucat hari ini.
'Apakah dia sungguh baik-baik saja?' batin Evelyn.
Tepat saat itu pandangan Alvin menggelap untuk beberapa detik membuatnya berdiri dengan agak goyah.
Tangan Alvin yang sedang menyusun gelas tampak sedikit gemetar saat meletakkan gelas minuman ke atas meja, akibatnya gelas yang berada di atas meja pun saling bertabrakan dengan botol, berjatuhan di atas meja dan membuat keributan.
Melihat gelas dan botol jatuh berantakan, membuat Evelyn terkejut. "Alvin!" serunya.
"Maaf, saya ceroboh." Alvin tergagap sambil buru-buru merapikan gelas itu.
Alvin mengelap meja. Tampak jelas ia sedang mencoba menahan rasa gugup sekarang.
"Tak masalah." balas Evelyn bergerak maju, ikut merapikan gelas-gelas yang berantakan.
Daniel yang juga terkejut ikut merapikan meja yang berantakan, "Apa kau lapar, pelayan? Atau sakit? Tubuhmu gemetar."
"Tidak, tuan. Saya hanya kurang hati-hati.."
__ADS_1
"Baiklah." Daniel menggedikkan bahunya santai.
Evelyn menatap wajah Alvin. Pemuda tampan itu masih sibuk membersihkan meja.
Melihat itu hati Evelyn jadi tak enak sendiri. Evelyn dengan cepat memegang lengan Alvin, menahan gerakan pemuda itu.
Alvin mendongak, menatap Evelyn bingung. "Ada apa nona?"
"Kau benar baik-baik saja, kan?" Sekali lagi Evelyn memastikan.
Sejujurnya Alvin terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Evelyn itu. Ia tak menyangka Evelyn akan bersikap seperti ini padanya.
Evelyn bahkan mengabaikan posisi Alvin yang merupakan seorang pelayan. Apa Evelyn tak malu melakukan ini di depan kenalannya?
Alvin mengerjap lalu melirik lelaki di sebelah Evelyn yang tengah menatapnya, sebelum kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Evelyn.
Evelyn kemudian melepas pegangan tangannya pada Alvin, "Maaf banyak bertanya. Aku hanya khawatir, kau terlihat sedang sakit.."
"Jangan khawatir, Nona. Aku sungguh baik-baik saja." jawab Alvin.
Alvin lalu berdiri tegak setelah menyusun botol dan gelas di atas meja. Ia melangkah mundur dengan gerakan sopan, seperti saat melayani tamu biasanya.
"Terima kasih," ujar Evelyn tersenyum sementara lelaki yang ada di dekat Evelyn hanya mengangguk ragu, matanya masih menatap Alvin.
Alvin mendongak pada Evelyn kemudian kembali melirik lelaki bule yang ada di dekat Evelyn itu. Ia buru-buru menunduk saat menyadari kalau lelaki itu ternyata juga tengah menatap dirinya.
"Saya permisi, nona" ujar Alvin membungkukkan sedikit tubuhnya lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Sebelum menutup pintu, sekali lagi ia melihat ke dalam, menatap lekat-lekat gadis cantik yang juga tengah menatapnya.
"Malam ini dia cantik sekali." gumam Alvin pelan, sangat pelan seolah tak ingin didengar siapapun.
Alvin merapatkan kembali pintu ruangan itu dengan hati-hati. Ia menghela napasnya pelan kemudian berjalan menuju lift dengan langkah gontai.
Ia memencet tombol lift dan bersandar pada dinding sembari menunggu pintu lift terbuka. Alvin hanya berdiri diam di tempat itu, tampak melamun.
"Aku masih penasaran, siapa lelaki bule itu? Apakah dia itu kekasih Evelyn?" gumam Alvin menyandarkan kepalanya. Ia agak kecewa saat menyadari kalau ternyata Evelyn sudah punya kekasih.
Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Apa yang aku pikirkan. Memangnya kenapa kalau dia memiliki kekasih? Itu sama sekali bukan urusanku." omel Alvin pada dirinya sendiri.
"Aku harusnya tidak memikirkan hal-hal seperti ini saat bekerja. Mengantar pesanan. Itu tugasku di sini. Bukannya mengurusi pasangan pengunjung." sambungnya, masih mengomeli dirinya sendiri.
Dan begitu pintu lift terbuka, Alvin segera melangkah memasuki lift untuk bergegas melanjutkan lagi pekerjaannya.
__ADS_1
***