
"Mereka serasi sekali." gumam Alvin menatap Evelyn yang saat ini tengah menari bersama pria bule tadi di lantai dansa aula klub.
Dari jarak sejauh ini Alvin bisa melihat Evelyn yang tengah ngobrol sembari tertawa-tawa santai dengan pemuda itu.
"Benar." gumam Alvin saat menyadari sesuatu di kepalanya. Seketika ia merasa tubuhnya menciut karena merasa minder.
'Pasti tipe lelaki seperti itu yang Evelyn sukai, kan?' batin Alvin lalu tersenyum masam.
Alvin terus memperhatikan Evelyn dari tempatnya. Ia bahkan tidak terlalu ingin memperhatikan sekelilingnya.
Pemuda itu tak menyadari kalau saat ini ada beberapa gadis yang tengah melirik ke arahnya. Itu karena saat ini matanya hanya fokus tertuju kepada Evelyn saja.
"Apa waktumu kosong, pelayan?" tanya seorang gadis pada Alvin.
Alvin berbalik untuk menatap ke arah orang yang baru saja bicara kepadanya. Seorang gadis cantik tampak menatapnya dengan tangan menyilang angkuh.
"Yah, kulihat-lihat sepertinya kau sedang luang saat ini." ujar gadis itu lagi menatap Alvin dari atas kebawah.
"Anda ingin pesan sesuatu?" tanya Alvin berdiri tegak menatap gadis itu, "kebetulan saya memang sedang kosong saat ini. Mau minum apa?"
Gadis itu dengan cepat mengibaskan tangan sembari menggelengkan kepala. "Aku sedang tak membutuhkan minuman apapun."
"Kalau begitu?"
"Sebenarnya, aku butuh sesuatu darimu. Tapi ini bukan tentang minuman." ujar gadis itu tersenyum senang.
Gadis itu mengulurkan ponsel miliknya pada Alvin. "Berikan aku nomor ponselmu." ujarnya.
Alvin tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ia menatap gadis itu dengan alis terangkat.
"Hah?" ujarnya.
"Kau tak dengar? Aku bilang aku ingin kau me-"
__ADS_1
Gadis itu sudah hampir mengatakan kalimatnya tapi terpotong oleh bunyi ponsel Alvin yang berdering.
Seketika Alvin menunduk untuk melihat ponselnya yang bergetar di kantong celana sebelah kiri miliknya.
Alvin menatap gadis itu sekali lagi sebelum tersenyum kaku.
"Permisi, tapi harus pergi untuk mengangkat telepon ini." ujar Alvin membuat gadis itu menatap kesal karena tak dihiraukan.
Alvin tak menghiraukan tatapan kesal dari gadis itu. Ia dengan tergesa-gesa melangkah ke dekat toilet dan merogoh kantong celana untuk meraih ponselnya.
Namun kedua alis Alvin mengerut heran saat melihat siapa nama orang yang tengah menghubunginya. Karina adalah orang yang meneleponnya.
Alvin menatap layar ponselnya beberapa detik dengan heran.
"Ini tengah malam. Kenapa dia menelponku di jam larut seperti ini." gumam Alvin menggelengkan kepalanya.
Alvin sama sekali tak berniat mengangkat telepon dari gadis itu.
Ia memasang ponselnya dalam mode diam dan memasukkannya kembali ke kantong celananya tanpa memerdulikan panggilan Karina itu. Ia pergi ke meja bar, berniat untuk melanjutkan pekerjaannya malam ini.
.
.
Beberapa saat kemudian Alvin keluar dari toilet. Ia sudah hendak melangkah menuju ke ruang ganti saat perhatiannya teralihkan pada rekan kerja yang sedang berlari menuju ke arahnya.
"Disini kau rupanya, Alvin." ujar rekan kerja Alvin itu tampak terengah-engah.
"Ada apa?"
Alis Alvin mengerut bingung, sementara rekan kerja Alvin itu mengangkat tangan, meminta kesempatan untuk mengatur napas.
"Kenapa?" tanya Alvin lagi mulai penasaran.
__ADS_1
"Kau darimana saja. Sejak tadi aku sudah mencarimu kemana-mana."
"Aku baru dari toilet. Ada apa sebenarnya dan kenapa kau mencariku?" tanya Alvin semakin bingung saja.
"Begini, aku diminta memberitahumu kalau seseorang dari ruang VIP memintamu untuk datang ke ruangannya!" ujar rekan kerja Alvin itu.
"Ada yang memanggilku ke ruangan VIP!"
"Ya,"
"Siapa? Apa ada yang salah? Atau ada yang tidak suka dengan pelayananku?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi katanya dia itu salah satu pelanggan penting di klub ini. Dia menunjukmu secara pribadi untuk datang menemuinya di ruang VIP. Dan Alvin, dia ini pelanggan penting jadi kau harus cepat datang sebelum dia marah karena terlalu lama menunggumu."
"Ruang nomor berapa?"
"Nomor lima belas." Alvin menganggukkan kepalanya.
Ia buru-buru merapikan pakaiannya dan dengan cepat melangkah menuju ke ruang VIP yang dimaksud.
Sesampainya di ruang VIP, Alvin mengetuk pintu untuk memberitahu kedatangannya.
Setelah mendengar kata 'masuk' dari dalam, ia membuka pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam ruangan.
"Anda?" Alvin berujar gugup. "Anda yang memanggil saya?"
Gadis yang awalnya berdiri membelakangi Alvin itu langsung menoleh.
Seketika saja Alvin tampak terkejut saat mendapati gadis yang itu temui dimeja bartender tadi sudah berada dihadapannya.
***
Note :
__ADS_1
Bab 92-102, saya revisi. Trm