
Evelyn memasukkan kembali kertas berisi data dan informasi pribadi tentang Alvin ke dalam amplop coklat tadi lalu beralih pada Mr. Robert, menatap lelaki paruh baya itu dengan serius.
"Paman, aku minta jangan sampai ada yang tahu kalau aku baru saja mencari informasi pribadi mengenai pemuda ini."
"Ya nona, ini hanya akan menjadi rahasia antara kita berdua. Rahasia anda aman." ujar Mr. Robert mengangguk paham.
"Bertiga." Ziva menimpali, tak terima.
"Ya, bertiga maksud saya." ujar Mr. Robert tersenyum pada Ziva. Ia lalu kembali menatap Evelyn. "Tapi bisakah saya tau apa alasan sebenarnya anda menanyakan informasi mengenai Alvin nona?"
"Dia menyukai anak itu, paman." ujar Ziva tanpa basa basi.
"Tutup mulutmu, Ziva!" Evelyn menatap Ziva dengan tajam. Ia meruntuki sahabatnya itu yang benar-benar terlihat berusaha untuk mempermalukannya saat ini.
Evelyn menghela napasnya perlahan dan melanjutkan kalimatnya. "Aku hanya sedikit tertarik dengannya, paman."
"Bukan sedikit. Tapi dia sangat tertarik." sekali lagi Ziva mengutarakan pendapatnya.
Evelyn memejamkan matanya sambil menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia membuka matanya dan langsung mengambil gelas minuman yang ada di atas meja.
"Aku akan memastikan gelas di tanganku ini melayang ke wajahmu itu kalau kau berani bicara sekali lagi Ziva!" ancam Evelyn, ia tak bisa lagi menahan rasa kesalnya saat ini.
Ziva memutar bola matanya malas. "Ayolah, aku hanya mencoba berpendapat."
"Pendapatmu itu sama sekali tidak penting!" balas Evelyn tajam. "Mengganggu pembicaraanku saja, asal kau tau."
"Baiklah, nona cerewet! Aku akan diam mulai sekarang. Silahkan kalian lanjutkan pembicaraannya." ujar Ziva sambil membuat gerakan mengunci mulut lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Evelyn menatap amplop coklat di hadapannya itu lagi dan mengernyit. "Tapi bukankah tadi paman sempat mengatakan dia pegawai baru di sini?"
"Ya," Mr. Robert mengangguk. "Dia mulai bekerja sekitar dua hari yang lalu. Saat itu dia datang kemari dan mengatakan ingin melamar pekerjaan. Secara kebetulan di sini juga sedang membutuhkan posisi pelayan, jadi saya menerimanya."
__ADS_1
Evelyn mengangguk mengerti dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa di belakangnya.
"Dua hari lalu? Bukankah itu adalah satu hari setelah kami bertemu di insiden itu." gumam Evelyn pelan, hampir seperti berbisik.
"Maaf nona?" Mr. Robert yang tidak mendengar jelas perkataan Evelyn barusan kembali bertanya.
Evelyn tersadar dan buru-buru menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa."
Setelah itu Evelyn kembali terdiam di posisinya. Ia tertegun sejenak. Jika di pikir-pikir lagi, bukankah ini semua seperti sudah direncanakan. Pertemuannya dan Alvin ini seperti sudah menjadi takdir. Lihatlah bagaimana mereka terus di pertemukan satu sama lainnya dalam berbagai kebetulan.
Dan jika Evelyn bisa jujur, pada awalnya ia memang sudah tertarik pada Alvin. Ya, meskipun saat itu perasaannya tak lebih dari sekedar khawatir dengan pemuda itu karena mobilnya yang hampir menabraknya. Namun sekarang ia malah jadi semakin tertarik bahkan ingin mengetahui semua informasi tentang Alvin.
Meskipun selama ini Evelyn terus menerus mengelak dari segala ejekan Ziva tentang Alvin, namun Evelyn tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia memang tertarik dengan pemuda itu bahkan sejak pertemuan pertama mereka.
"Nona Evelyn?" panggil Mr. Robert saat melihat sang nona muda yang termangu.
Evelyn tersadar dari lamunannya. " ya paman?"
Evelyn mengangguk paham.
"Silahkan paman." ujar Evelyn mempersilahkan.
Kepergian Mr. Robert kini hanya menyisakan Evelyn dan Ziva berdua di dalam ruangan itu. Evelyn menghela napasnya perlahan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Ziva penasaran. Sejak tadi mulutnya sangat gatal ingin bertanya hal itu.
"Menemui pemuda itu, tentu saja." gumam Evelyn sambil memejamkan kedua matanya. "Bukankah itu rencana kita sejak awal datang kemari."
Ziva berdehem sebentar. "Aku takjub kau menepati kata-katamu. Ah, luar biasa kalau kau ternyata benar-benar menemuinya."
Evelyn mendecih, andai Ziva tahu sesulit apa ia memutuskan kalimat itu untuk keluar dari mulutnya. Ya ampun, bagaimana gadis seperti dirinya yang biasanya selalu di kejar-kejar oleh pria bisa sampai di buat gila oleh pria seperti Alvin itu.
__ADS_1
"Bukankah itu yang selalu kau minta sejak beberapa hari terakhir ini. Kau menginginkan agar aku menemui pemuda itu kan?" Evelyn melirik Ziva. "Kau sangat bernafsu membuat kami bertemu."
"Karena aku tahu kau menyukainya." goda Ziva.
"Jangan mulai!" ujar Evelyn tajam.
"Ayolah, kau menyukai bibirnya. Kau bahkan ketagihan, kan? Ya, walaupun di sisi lain kau menyesal sudah menjadi gadis murahan karena sudah menciumnya lebih dahulu."
"Dengar, aku akui kalau aku memang menyukai ciuman itu. Tapi bukan berarti aku menyukainya."
"Maksudmu?"
"Aku tidak benar-benar menyukainya, Ziva. Aku hanya tertarik padanya. Pada bibirnya, oke."
"Baiklah! Saat ini mungkin saja kau hanya bernafsu padanya. Dan belum benar-benar menyukainya. Saat ini mungkin itu hanya nafsu."
"Hm, anggap saja begitu."" balas Evelyn asal.
Evelyn berbohong, sudah jelas. Munafik jika ia tidak menyukai pemuda tampan seperti Alvin. Pemuda itu jelas-jelas adalah tipenya sekarang. Dan satu fakta, ia bukan menyukai Alvin karena ciuman itu. Tapi karena ia menyukai Alvin, itu sebabnya Evelyn menciumnya.
Faktanya, setelah melihatnya pertama kali saat insiden kecelakaan itu, Evelyn bahkan tidak bisa melupakan wajah pemuda itu.
Dan begitupun saat ini, cukup dengan membayangkan wajahnya saja sudah membuat Evelyn bergairah.
Ah, jika saja Alvin adalah orang kaya seperti para lelaki yang pernah bersamanya, Evelyn pasti sudah akan menidurinya sekarang. Alvin juga akan jadi satu-satunya lelaki yang pernah Evelyn tiduri.
Sayang sekali...
"Aku akan mencari tahu dimana dia. Sejak diejek mantan kekasihnya, dia menghilang begitu saja…" Ujar Evelyn bangkit dari duduknya.
***
__ADS_1