Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
96


__ADS_3

"Monika." ujar gadis itu tersenyum kecil.


Alvin mengernyit, "Maaf?"


Gadis itu menatap Alvin beberapa detik sebelum menghela napas dan melangkah agar lebih dekat pada Alvin. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Alvin dan berbisik


"Namaku Monika. Jadi aku ingin kau panggil dengan nama Monika saja." ujar gadis itu menjelaskan.


Alvin mengangguk paham. "Baik."


"Kau keberatan kalau aku minta untuk menutup pintunya?" ujar Monika menunjuk pintu yang ada di belakang Alvin dengan dagunya.


"Ah, tidak nona. Saya tidak keberatan."


"Kalau begitu tolong tutup pintunya!" perintah Monika lagi. "Aku tak ingin orang lewat dan menengok. Yah, kau tau, ini masalah privasi."


"Baik, nona."


Alvin mengangguk kemudian dengan cepat menutup pintu di belakangnya. Ia lalu kembali berbalik, menatap Monika, menunggu perintah yang mungkin akan di berikan lagi oleh gadis itu.


"Aku datang sendiri hari ini. Ternyata sangat membosankan. Jadi aku sedang mencari teman. Dan sepertinya aku ingin mengobrol denganmu." Monika bicara sembari tersenyum miring.


Alvin agak terkejut.


Bagaimana tidak terkejut saat seseorang tiba-tiba saja mengatakan ingin mengobrol denganmu? Itu aneh, bukan? Ah, atau justru itu hal biasa di sini?


"Anda ingin apa?" tanya Alvin memastikan.


"Mengobrol. Mengobrol denganmu. Kita berdua, kau dan aku." tegas gadis itu. "Apa kata-kataku kurang jelas untukmu?"


"Ah, bukan. Tapi saya-"


"Aku sudah biasa melakukannya dengan pelayan di sini. Aku bahkan akan memberikan tip jika mereka bersedia menemaniku mengobrol." ujar gadis itu memotong perkataan Alvin


"Ada tip-nya?"


"Hm."


"Untuk sekedar mengobrol?" Alvin tampak tertarik saat Monika mengucapkan 'tip'.


Alvin mulai menanggapi serius ucapan Monika itu. Bagaimana tidak, saat ini ia memang sedang membutuhkan uang tambahan untuk membayar biaya hidup sehari-sehari.

__ADS_1


Sebelumnya, Alvin memang tahu jika ada tip saat bekerja di sini. Sebelumnya ia juga mendapatkan banyak tip dari Evelyn dan teman-temannya yang sudah Alvin gunakan untuk membayar tagihan semesternya.


Beberapa kali Alvin juga mendapatkan tip dari pengunjung lainnya.


"Ngomong-ngomong kau belum memperkenalkan dirimu." ujar Monika memecah lamunan Alvin.


"Saya Alvin, nona." jawab Alvin sedikit canggung.


Monika lalu melangkah menuju sofa yang berada di tengah ruangan. Ia menjatuhkan tasnya ke atas meja dan mendudukkan dirinya dengan santai di atas sofa.


Monika menyilangkan tangannya di depan dada, sementara kedua matanya memperhatikan Alvin dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kemarilah!" perintah Monika lagi sembari menepuk sofa yang ada di sebelahnya.


Alvin tidak langsung menurut dengan apa yang Monika perintahkan padanya. Ia malah menatap gadis itu dengan tatapan ragu. Kenapa mengobrol harus dengan jarak sedekat itu?


Monika memperhatikan Alvin yang tengah berdiri diam. Ia menaikkan sebelah alisnya, heran dengan tingkah pemuda tampan itu.


"Alvin." seru Monika.


"Ya, Nona?" Alvin tergagap.


"Tapi nona, saya-"


"Alvin, aku membawamu kemari untuk menjadi teman ngobrolku, bukan penjaga pintu. Cepat kemari!"


Alvin kembali terdiam. Pemuda itu tampak menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil. Ia tak tahu kenapa, hatinya menjadi ragu berada di ruangan ini.


"Ayolah Alvin, aku sudah mulai bosan menyuruhmu. Aku hanya memintamu untuk duduk di dekatku. Jadi, bisakah kita tak membuang waktu dan menikmati waktu kita berdua di sini?"


Alvin berdiri dengan gelisah di posisinya. Ia mencoba mengontrol ekspresi wajahnya sebelum kemudian menganggukkan kepalanya dengan senyum canggung.


"Baik, nona." ujarnya mulai melangkah mendekati Monika.


Alvin mendudukkan dirinya di sebelah Monika. Ia duduk tegap, membuat Monika terkekeh.


Bukankah pemuda ini lucu. Dia seolah sedang berpose seperti akan berfoto untuk kartu identitas saja.


"Hei, kenapa kau tampak begitu kaku. Ayo lebih mendekat lagi!" Monika tersenyum kemudian menarik lengan Alvin, memaksa pemuda itu untuk duduk lebih dekat padanya, tepat di sebelahnya.


Alvin tersenyum canggung. Tempat yang dimaksud Monika jaraknya terlalu dekat. Lebih seperti berdempetan. Bagaimana dia bisa setuju dengan itu?

__ADS_1


"Saya di sini saja, nona." tolak Alvin pada akhirnya.


Monika menatap kecut. "Apa kau tidak suka dekat-dekat denganku?"


"Saya hanya… saya tidak biasa berduaan dengan jarak sedekat itu."


"Begitukah?" Monika memundurkan wajahnya, alisnya sedikit berkerut, tampak terkejut dengan pengakuan pemuda itu. "Kenapa memangnya? Apa kau belum pernah pacaran sebelumnya?"


"Pernah. Tentu pernah."


"Lantas?"


"Ya, tapi kita kan bukan pacar. Itu jelas tak sopan. Dan juga saya tidak pernah berduaan dengan jarak sedekat ini."


"Wow, kau serius?" Alis Monika tampak semakin mengerut. Ia tertawa geli. Informasi seperti ini justru lebih mengejutkan bagi dirinya. "Bagaimana dengan cîuman?"


Mendengar kata cîuman, kedua pipi Alvin sontak memanas. Ia hanya pernah melakukan hal itu pada satu orang saja.


Evelyn.


Hanya cîuman Evelyn saja yang bisa ia ingat seumur hidupnya.


Alvin buru-buru menggelengkan kepala, entah apakah maksudnya, ia juga tak mengerti dirinya sendiri. Kenapa ia hanya teringat tentang Evelyn saja?


"Tidak pernah?" tebak Monika.


Alvin tersenyum kecil. Ia harus menjawab apa? Tak mungkin Alvin mengakui ciuman yang diberikan Evelyn padanya kan?


Bagi Alvin, cîuman sesungguhnya adalah sesuatu yang harusnya kau lakukan dengan orang yang kau sukai. Begitulah yang Alvin pikirkan.


Monika diam untuk beberapa detik sebelum kemudian menatap Alvin.


"Apa kau ingin tau rasanya berciuman?" bisik Monika dengan raut wajah nakalnya.


"Hah?" Alvin tampak mengerutkan alisnya, bingung dengan pertanyaan itu.


***


Note :


Bab 92-102, saya revisi. Trm

__ADS_1


__ADS_2