Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
113


__ADS_3

Brak!


Alvin meletakkan tumpukan buku tebal yang ia bawa ke atas meja kuliahnya dengan bantingan kasar. Dave yang tengah tidur sembari menelengkupkan tangan sontak kaget dan langsung terbangun dari tidurnya.


"Kau ini mengejutkanku saja." omel Dave. "Kau kerasukan apa pagi-pagi begini sudah mengamuk?"


"Tidak ada, hanya saja moodku sedang buruk."


"Kau ini bukan wanita, Alvin."


"Lantas?"


"Hanya wanita yang harinya selalu kacau karena mood jelek."


"Ck, siapa bilang. Laki-laki juga bisa merasakan apa itu mood jelek, Dave."


"Ayolah Vin, memangnya sejak kapan kau suka drama seperti ini."


Alvin menggedikkan bahunya malas dan mulai membuka salah satu buku tebal yang ia bawa. Dave hanya diam, memperhatikan sahabatnya yang tengah fokus membaca buku.


"Tidurmu pasti kurang semalam?" Dave kembali bicara.


Alvin menghentikan kegiatan membacanya dan beralih pada Dave. "Bagaimana kau tau?"


"Tahu saja." ujar Dave. "Wajahmu juga agak pucat. Kau sakit?"


"Aku demam semalam."


"Bukankah seharusnya kau istirahat dirumah? Lalu kenapa kau malah masuk kuliah hari ini?"


"Biaya kuliahku terlalu mahal untuk manja pada sakit. Lagipula hari ini kelas kita ada tugas presentasi."


"Benar juga, tapi bukankah mata kuliah selanjutnya ada tugas, ya kan?"


"Lalu?"


"Bisakah aku meminjam tugasmu?" pinta Dave sembari mengedipkan sebelah matanya sementara Alvin memutar bola matanya malas. "


"Aku menyesal datang pagi hari ini." omel Alvin tapi tetap mengeluarkan buku tugasnya.


Dave hanya terkekeh sebagai tanggapan. Ia mengambil buku yang Alvin sodorkan dengan senyuman puas.

__ADS_1


"Aku salin dulu." ujar Dave yang di balas anggukan oleh Alvin.


Keduanya diam beberapa saat, Alvin membaca buku sementara Dave sibuk menyalin tugas dengan kecepatan cahaya.


Namun tiba-tiba ponsel Alvin yang berada di atas meja bergetar. Alvin mengetahui itu. Ia mengecek nama yang tertera di layar dan memutuskan tak mengangkatnya hingga telepon itu berhenti bergetar.


Tak sampai tiga puluh detik ponsel Alvin kembali bergetar. Kembali seseorang menghubunginya dan Alvin masih tampak tak berniat menjawab.


Sampai pada telepon ketiga, Dave yang sejak tadi tak terlalu peduli akhirnya mulai merasa penasaran. Ia melirik ponsel Alvin lalu mengangkat kepalanya, menatap Alvin dan ponselnya secara bergantian.


Dave heran, pemuda itu tampaknya tak terusik sama sekali. Ia begitu tenang dengan buku bacaan yang berada di tangannya.


"Hei, teleponmu berbunyi." Dave menunjuk ponsel Alvin dengan bolpoint yang ia pegang.


"Aku tahu." Alvin masih menatap buku bacaan di tangannya. "Biarkan saja."


"Kenapa tak diangkat?"


"Tidak penting."


"Orang itu meneleponmu berkali-kali. Itu pasti penting.


Dave berdecak, "Serius Alvin, aku tak tahu kau adalah anak yang sombong. Kau seperti mempunyai masalah kalau hanya sekedar mengangkat panggilan telepon."


"Itu telepon dari Karina. Jadi, mau sombong atau tidak aku juga tak akan pernah mengangkatnya."


"Siapa?" Dave sontak membulatkan matanya. Ia tak salah dengar, kan? Alvin baru saja menyebut nama wanita ular itu. "Karina kau bilang?"


"Benar."


"Ini Karina yang meneleponmu?" tanya Dave berapi-api. "Kau serius, Vin?"


Alvin mengangguk. "Ya,"


Tanpa pikir panjang lagi, Dave langsung menggeser tombol merah di ponsel Alvin. "Kalau begitu jangan di angkat."


"Memang tak akan ku angkat."


Dave menyilangkan tangannya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia berdecak. "Ck, untuk apalagi sih gadis itu menghubungimu?"


"Tidak tahu, aku kan tidak mengangkat telepon darinya."

__ADS_1


Dave menatap Alvin dalam kebingungan. "Aku pikir dia sudah berhenti menghubungimu."


"Itu juga yang aku penasaran. Dia terus saja menghubungiku, sudah beberapa hari ini. Dia bahkan sampai datang menemuiku di rumah."


"Dia ke rumahmu?"


"Ya, semalam."


"Lalu apakah dia mengatakan sesuatu padamu?" Dave semakin penasaran. "Maksudku, apa yang dia mau darimu?"


"Entahlah, dia memang tampak aneh beberapa hari ini."


"Aneh bagaimana?"


"Ya aneh. Dia memaksaku untuk jangan terlalu dekat dengan seorang gadis yang tak dia suka."


"Kau dekat dengan seseorang?"


"Tidak juga."


Dave mengernyit lucu. Apa sebenarnya maksud Alvin saat ini. "Apa sebenarnya maksudmu."


"Sudah ku katakan. Aku bertemu dengan seorang gadis. Dia juga menyelamatkan aku dari hinaan Karina tempo hari. Dan ternyata Karina dan gadis itu memiliki konflik. Alhasil Karina tak ingin aku dekat-dekat."


Mendengar penjelasan itu, Dave nyaris tersedak ludahnya sendiri.


"Kenapa dia menyuruhmu ini dan itu tanpa mengingat kalau kalian sudah tak memiliki hubungan apapun. Seakan-akan dia lupa kalau dia yang sudah memutuskanmu."


Alvin diam selama beberapa saat. Ia menutup buku bacaannya dan menghela napasnya pelan.


"Sebenarnya dia juga menawarkan untuk kembali bersamaku."


"Hah?"


"Semalam, saat ia datang menemuiku di rumah, dia mengatakan bisa kembali bersamaku asal aku tidak bersama dengan wanita itu lagi."


"Ck, Karina pasti sudah gila. Dia bertingkah seolah bisa mengatur hidupmu."


***


Update langsung 10 chapter, karena merasa bersalah atas revisi kmrin. :)

__ADS_1


__ADS_2