Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
47


__ADS_3

Evelyn menyelesaikan olahraganya lima menit lebih cepat dari hari-hari biasanya karena saat ini tubuhnya terasa lebih lelah dan ia ingin istirahat lebih cepat.


Saat hendak menaiki tangga yang menuju kamarnya, ia melewati ruang makan. Disana, tampak beberapa pelayan tengah menyiapkan menu untuk makan pagi.


Evelyn terus melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ia harus membersihkan dirinya lebih dahulu karena penuh keringat setelah berolahraga. Evelyn datang kembali beberapa saat kemudian, disambut dengan hormat oleh para pelayan.


Namun setibanya di meja makan, Evelyn bukannya menikmati makanannya, ia justru hanya duduk diam sambil menyangga dagunya dengan tangan, tampak melamun. Ia melamunkan insiden ciuman yang terjadi semalam.


Sejujurnya, sejak tadi ia terus mencoba untuk menghilangkan rasa penasaran tentang siapa pemuda yang ia cium tanpa permisi semalam. Pasalnya, bibir manis dari pria itu tak dapat Evelyn lupakan bahkan masih terasa dengan jelas di bibir Evelyn sendiri bahkan saat berolahraga tadi pun ia tetap memikirkan hal itu.


Selain itu Evelyn juga masih terus bertanya-tanya tentang bagaimana dia bisa bangun di kamarnya pagi ini. Dalam keadaan baik-baik saja tanpa goresan sedikit pun.


Evelyn masih bisa ingat saat semalam ia pergi ke klub malam bersama teman-temannya untuk berpesta. Setelah itu Evelyn terus minum sampai akhirnya ia tidak ingat apapun lagi.


Mengenai jaket yang ia pakai. Siapa? Siapa sebenarnya pemilik jaket itu. Sejujurnya, ini mungkin memang terlihat berlebihan bagi orang lain, tapi entah kenapa Evelyn merasa sangat penasaran dengan semua ini. Siapa juga yang sudah mengantarkannya pulang semalam dia pasti si pemilik jaket itu.


Apakah pemilik jaket dan pria yang dicium oleh Evelyn adalah orang yang sama?


"Jika yang aku cium adalah pria pemilik jaket itu, haruskah aku mengucapkan terima kasih?" gumam Evelyn, kemudian ia menggeleng. "... atau harusnya aku minta maaf saja padanya karena sikap kurang ajarku?"

__ADS_1


Evelyn mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja makan. Ia terus mencoba mengingat apa saja yang terjadi padanya semalam, karena entah kenapa perasaannya saat ini sedikit tidak enak. Entah siapa pria itu. Dia pasti terkejut dengan tingkah sembrono yang Evelyn perbuat.


Di detik selanjutnya Evelyn menghela nafasnya. Ia merasa kesal. Biasanya, walaupun mabuk, ia selalu memiliki sedikit ingatan tentang apapun yang terjadi di malam sebelumnya. Tapi ini? Dia bahkan tidak bisa ingat apapun.


Selama beberapa saat Evelyn hanya menghabiskan waktunya untuk melamun dan mencoba mengingat segalanya namun tetap saja ia masih belum bisa mengingat apapun. Evelyn belum menemukan jawaban sampai tiba-tiba ia menjentikkan jarinya.


"Ya ampun, kenapa aku bodoh sekali. Kenapa aku tidak bertanya pada Maria saja. Aku yakin dia pasti tahu siapa yang sudah membawaku pulang semalam."


Evelyn menolehkan pandangan ke kanan dan kirinya, mencari Maria. Maria adalah seseorang yang bekerja di rumahnya. Wanita itu merupakan orang yang sudah dipercaya menjadi kepala pelayan yang membawahi seluruh pelayan di rumah Evelyn saat ini.


"Panggilkan Maria." ujar Evelyn pada salah satu pelayan di dekatnya.


Beberapa saat kemudian Maria muncul. Wanita paruh baya itu terlihat berlari kecil dari arah dapur menuju ke meja makan tempat Evelyn berada saat ini.


"Selamat pagi, Nona." sapa Maria. "Apa tubuh anda sudah terasa lebih baik sekarang?"


"Lumayan. Olahraganya cukup membantu."


Maria tersenyum sebagai tanggapan. "Anda memanggil saya, Nona?"

__ADS_1


"Ya, kemarilah sebentar. Lebih mendekat. Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Maria dengan nada sopan setelah berdiri lebih dekat dengan Evelyn.


"Aku ingin bertanya, apa kau sudah tidur saat aku pulang tadi malam?" tanya Evelyn.


Maria menggeleng, "Belum nona."


"Kalau begitu kau pasti tahu siapa yang sudah membawaku pulang semalam, kan?" tanya Evelyn dengan tatapan penasaran.


Maria terdiam. Wanita paruh baya itu tampaknya sedang berpikir kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Itu... Nona Ziva, nona. Beliau yang mengantarkan anda semalam."


"Dugaanku benar rupanya. Ziva-lah yang sudah mengantarkan aku pulang semalam."


"Ya nona." Maria mengangguk, "Nona Ziva datang bersama seorang pemuda tampan saat mengantarkan anda, nona."


"Seorang pemuda?"

__ADS_1


***


__ADS_2