Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
20


__ADS_3

Alvin menutup pintu ruang administrasi dengan raut lemas. Ia sekarang benar-benar bingung bagaimana caranya membayar sisa cicilan semester kampusnya.


Sebenarnya Alvin sudah membayar setengah dari total biaya semester dan sekarang ia harus melunasi sisanya lagi. Tapi dia belum mempunyai uang karena baru saja di pecat dari pekerjaannya yang sebelumnya dan ia bahkan belum sempat mencari pekerjaan baru.


Alvin yakin semua akan berakhir buruk jika dia tidak segera membayar tagihan kampusnya. Dia jelas akan di drop out dari kampus ini dan Alvin tidak mau hal itu terjadi.


"Bagaimana ini." gumam Alvin pada dirinya sendiri dengan nada khawatir.


"Aku belum mempunyai pekerjaan baru dan sisa gajiku hanya cukup untuk biaya makan bulan ini saja. Sekali pun aku mendapat pekerjaan saat ini aku juga harus menunggu bulan depan untuk bisa mendapat gaji."


"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan uang untuk membayar sisa tunggakan sampai minggu depan. Waktunya terlalu singkat untukku mencari uang tambahan." lanjutnya putus asa.


Alvin bukanlah orang kaya yang bisa mendapatkan uang dengan mudah. Ia tak mungkin meminta pada orang tuanya seperti yang dilakukan teman-temannya karena kedua orang tua-nya telah lama tiada.


"Seandainya mereka masih di sini." gumam Alvin lelah sembari menghela napasnya.


Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya. Apa yang ia lakukan. Kenapa ia malah mengeluh? Alvin harus punya harga diri sebagai laki-laki. Itu sebabnya ia tidak boleh mengeluh seperti ini. Yang harus ia lakukan sekarang adalah cepat-cepat mencari pekerjaan baru dengan gaji yang lumayan.

__ADS_1


Tapi apakah itu mungkin? Mencari pekerjaan bukanlah hal mudah. Lagipula, mana ada pekerjaan paruh waktu yang akan memberimu gaji tinggi.


"Tak ada hal baik yang akan datang kalau aku tak berusaha dengan keras." gumam Alvin menyemangati dirinya sendiri.


Alvin menatap kanan dan kirinya. Suasana kampus sudah mulai sepi. Para mahasiswa pasti sudah kembali ke ruang kuliah masing-masing untuk mengikuti mata kuliah kedua.


"Lowongan pekerjaan! Aku harus segera mencari pekerjaan hari juga." gumam Alvin dengan penuh tekat.


Setelah berfikir keras menentukan pilihan, Alvin akhirnya memutuskan untuk bolos mata kuliahnya pada jam kedua. Ia lebih memilih pergi meninggalkan kampusnya untuk mencari lowongan pekerjaan. Walaupun merupakan pilihan berat baginya untuk bolos namun tak ada pilihan lain untuknya sekarang.


Lagipula, tidak ada salahnya jika ia tak masuk kuliah untuk hari ini. Toh selama ini dia juga tidak pernah bolos di jam kuliah sama sekali. Lagipula, kemarin lusa dia juga baru saja mengambil absen. Hanya dua kali. Setelah ini dia tak akan bolos dan menyia-nyikan waktu kuliahnya lagi.


Alvin berencana mengelilingi kota hari ini untuk mencari pekerjaan baru. Ia juga bertekat pada dirinya sendiri kalau hari ini ia harus mendapatkan pekerjaan. Tak peduli apapun pekerjaannya, selagi bisa membuatnya melunasi tunggakan kuliah, maka akan ia terima.


Beberapa saat setelah menghabiskan waktu untuk mengelilingi kota, Alvin mengecek jam pada pergelangan tangannya.


Alvin menghela nafasnya lelah saat menyadari bahwa waktu saat ini sudah menunjukkan pukul satu siang. Itu artinya sudah hampir tiga jam lamanya ia berkeliling untuk mencari pekerjaan hari ini namun belum juga menemukan pekerjaan untuknya.

__ADS_1


Sebenarnya banyak lowongan yang tersedia, seperti pegawai bengkel, sales atau pekerjaan lainnya namun Alvin sama sekali tidak memiliki keahlian di bidang itu. Bisa-bisa ia malah harus mengganti rugi jika terjadi sesuatu nanti. Lagipula Alvin juga bukan orang yang suka mencoba hal ekstrim seperti itu.


Pada akhirnya, karena merasa sangat lelah berkeliling mencari pekerjaan, Alvin menghentikkan motornya di depan sebuah warung pinggir jalan untuk membeli minuman guna meredakan rasa haus.


Alvin keluar dari warung itu dengan membawa sebotol minuman dingin yang baru saja ia beli. Ia membuka tutup botol dan langsung meminum isinya.


Alvin menegak habis minumannya baru setelah itu ia bergegas membuang botol bekas itu ke dalam tempat sampah yang berada di dekat warung.


Alvin kembali menghela.


Ia tak tahu harus pergi kemana lagi saat ini. Sejauh ini, ia sudah memutari hampir seluruh kota tapi tak menemukan pekerjaan yang dia cari.


Setelah beristirahat beberapa saat, Alvin mengedarkan pandangannya ke area sekitar di dekat warung itu, hingga akhirnya pandangannya terhenti pada sebuah bangunan mewah yang berada tepat di seberang warung itu.


Itu sebuah klub malam.


Dan tepat saat itu juga kedua mata Alvin membesar setelah melihat brosur berukuran sedang yang menempel tepat di gerbang dari bangunan klub malam itu.

__ADS_1


"Di butuhkan karyawan segera!" 


***


__ADS_2