
Dalam lima belas menit, Evelyn telah sukses mengantarkan Alvin kembali ke kampusnya.
"Kita sudah sampai." ujar Evelyn pada Alvin, tersenyum.
Alvin mengangguk dan membalas senyuman Evelyn itu.
"Terima kasih sudah mengantarkan saya, Nona. Maaf sudah merepotkan anda." jawab Alvin sopan.
"Merepotkan apanya. Bukankah aku sendiri yang menawarkan untuk mengantarkanmu."
Saat ini mereka masih berada di dalam mobil tepat di depan gerbang kampus tempat Alvin berkuliah.
"Apa kau yakin tidak ingin di antarkan sampai ke parkiran dalam?" Evelyn bertanya memastikan.
Evelyn menatap keluar jendela mobil, memperhatikan suasana kampus yang tampaknya sudah mulai sepi.
"Ya, saya yakin Nona." Alvin mengangguk.
"Kau harus mengambil motormu yang ada di parkiran kampus dulu, kan? Aku bisa mengantarmu sampai di sana."
"Tidak masalah nona. Sampai di sini saja sudah cukup."
"Ah, begitu."
Evelyn memilih untuk menyerah saja dan menganggukkan kepalanya mengerti. Ia yakin kalau saat ini Alvin hanya tidak ingin menyusahkan dirinya saja.
Alvin ikut menatap menatap ke gerbang kampusnya yang ternyata sudah tampak sepi. Hanya satu atau dua orang mahasiswa yang terlihat melintas di sana.
"Saya rasa saya harus pergi sekarang. Saya agak buru-buru sekarang. Sebenarnya beberapa teman saya juga sudah menungguku di dalam."
__ADS_1
Alis Evelyn mengerut. "Bukannya ini sudah jam pulang kuliah?"
"Ya, memang. Tapi beberapa teman saya memang sudah ada di dalam. Kami ada janji temu jam dua siang ini di taman belakang kampus karena ingin diskusi tentang tugas kelompok."
"Ah, benarkah? Sayang sekali teman-temanmu tidak dapat bertemu denganku."
"Ya?" Alvin mengerut bingung.
"Aku pikir kau seharusnya bisa mengajakku untuk berkenalan dengan mereka, kan?." Evelyn terkekeh, mencoba menjelaskan.
Alvin menggaruk belakang kepalanya, tersenyum canggung. "Masalah itu-"
"Bukankah lucu jika mereka nantinya mengira kalau kita sedang menjalin hubungan." ujar Evelyn santai kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Alvin.
Mendengar kalimat itu, ekspresi wajah Alvin dengan cepat berubah. Ia lantas menunduk malu. Jika itu terjadi, teman-temannya malah akan mengira Evelyn adalah majikan dan dirinya adalah bawahan.
"Hah? Anda benar-benar ingin berkenalan dengan temanku?" tanya Alvin gugup. Ia tak tau gadis ini sedang bicara serius atau bercanda sekarang.
Evelyn kemudian berbalik untuk menatap pada Alvin.
"Apa tidak usah saja?" ujar Evelyn tampak berpikir sebentar. "Bagaimana menurutmu, Alvin?"
"Itu, aku..."
Evelyn lalu terkekeh kecil saat melihat ekspresi gugup di wajah pemuda itu.
Ah, Evelyn sudah tak tahan lagi sekarang. Ia sudah hampir gila karena terus mencoba menahan tawanya.
Kenapa pemuda ini begitu polos. Begitu mudah di bohongi. Dan satu lagi, ekpresi wajah Alvin saat merasa gugup benar-benar mendukung keimutannya.
__ADS_1
Sebenarnya, sejak tadi Evelyn hanya berniat mengerjainya. Mana mungkin juga ia tiba-tiba saja datang menemui teman-teman Alvin seperti itu padahal ia dan Alvin juga baru saja berkenalan.
"Ya sudah, kalau begitu lain kali saja aku berkenalan dengan teman-temanmu itu." ujar Evelyn pada akhirnya sembari menggedikkan bahunya santai.
"I-ya." ujar Alvin terlihat menghela napasnya lega.
Keadaan di dalam mobil menjadi hening untuk beberapa detik.
Sebenarnya saat ini Alvin sudah seharusnya turun dari mobil dan masuk ke dalam kampusnya. Tapi hatinya seakan menolak untuk meninggalkan Evelyn. Bahkan membuka mulutnya untuk berpamitan saja Alvin merasa enggan.
Begitupun juga dengan Evelyn yang tak ingin mengucapkan kalimat selamat tinggal pada Alvin.
Dalam hati masing-masing mereka berdua saling menolak untuk meninggalkan satu sama lain, seaka tak ingin berpisah saja.
"Oh ya, ngomong-ngomong aku punya sesuatu untukmu." ujar Evelyn memecah keheningan.
Tanpa menunggu jawaban apapun, gadis itu segera mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya.
Evelyn lalu menyodorkan amplop itu pada Alvin. "Ambillah ini!"
Alvin menatap amplop pemberian Evelyn dengan bingung.
"Ini apa?"
"Ini uang. Untukmu!"
"Uang?"
***
__ADS_1