Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 102 INSECURITY


__ADS_3

Memasuki usia 6 bulan kehamilan Sarah hampir tidak ada drama-drama ngidam yang berlebihan, bahkan nyaris tanpa keluhan. Sarah benar-benar menikmati proses kehamilannya dengan bahagia.


Di usia kehamilan trimester kedua ini, perut ibu muda ini memang tampak semakin hari semakin membuncit.


Semua dress-dress favorit Sarah sepertinya sudah mulai tidak sesuai ukuran.


"Sayang, sepertinya aku perlu baju-baju baru." Sarah berucap sambil memainkan rambut Raka yang berbaring manja di pahanya.


Mereka berdua menikmati sore di atas balkon kamar tidur. Sudah seperti kebiasaan, setiap sore Sarah selalu di minta oleh Raka dibuatkan kopi susu dan duduk bersamanya di balkon kamar sampai menjelang magrib. Dan kopi susu itu harus made in tangan Sarah. Tidak mau yang lain.


Pernah Sarah iseng menyuruh mbak Marni membuatkannya, tapi begitu menyentuh bibirnya langsung protes sang suami,


"Pasti bukan istriku yang membuatnya." Tuding Raka.


"Itu aku yang bikinnya, sayang..."Sergah Sarah berpura-pura.


"Jangan bohong, ini pasti bukan kamu."Raka ngotot.


"Kok, tahu?"


"Kemanisan."


"Memangnya kalau aku bikinnya tawar gitu?"


"Kalau istriku yang bikinnya rasa pas. Kopinya tidak terlalu kental, susunya tidak berlebihan. Tidak ada yang bisa menakarnya seperti itu."


Dan kalimat sederhana seperti itu, telah membuat Sarah rela membuat kopi susu untuk suaminya tanpa harus diminta lagi.


Seorang istri kadang tidak perlu pujian cantik selangit atau sanjungan yang membuat semua bunga di pekarangan tetangga menjadi layu karena minder mendengarnya.


Cukup dengan mengatakan minuman bikinan istrinya tiada duanya, si suami akan dilayani seperti raja.


Dan Raka tahu benar, membeli senyuman sang istri tak perlu dengan uang sekoper, cukup dengan menunjukkan rasa sayang, istri cantiknya itu akan sumringah sepanjang hari.


"Oh, ya...apa perlu kupesankan baju-baju new arrived dari satu brand ternama yang sering kamu pakai?" Raka berhenti melihat ke layar ponselnya dan mengarahkan pandang ke wajah istrinya yang sedang menunduk kepadanya.


"Kalau model begitu, di butikku juga banyak." Jawab Sarah.


"Lalu, mau model baru?"


"Bukan itu...tapi aku harus beli baju yang ekstra large sepertinya." Sarah tersipu, dia merasa malu dengan bentuk badannya yang mulai melar tidak jelas.


"Kamu mau kita belikan baju-baju model dasteran bi Asih?" Raka terkekeh sambil mengelus perut istrinya yang membuncit di depan hidungnya.


"Memangnya badanku, emak-emak sekali ya sekarang?" Sarah berhenti memainkan rambut Raka dengan sela jarinya, pias wajahnya cemberut menatap sang suami.


"Eh, meskipun badanmu sudah mirip emak-emak, tetap saja kamu emak-emak tercantik yang pernah aku lihat." Raka menjentikkan hidung Sarah, menikmati wajah masam sang istri yang malu-malu mendengar ocehannya.


"Badanku tambah jelek, ya?"


"Hey, siapa yang berani bilang badan istriku jelek."


"Badanku sekarang jadi mekar begini, makanku juga tambah rakus, pasti sudah terlihat jelek."

__ADS_1


"Mekarnya cantik, sayang...tenang saja."


"Kata orang, saat perempuan hamil, badannya jadi jelek, moodnya tidak stabil, kemudian tidak bisa maksimal melayani suami. Pada waktu istri hamil itu, biasanya suami suka melirik perempuan lain."


"Eh, siapa yang bilang!" Raka bangun dari paha Sarah, mengernyit keningnya dengan wajah penasaran.


"Kata orang..."


"Orang yang mana?"


"Ya....kata oranglah!" Jawab Sarah sekenanya.


"Sayang...ibu hamil itu adalah pemilik badan terbagus di dunia. Tidak semua perempuan di berikan Tuhan kesempatan memiliki badan seunik ibu hamil. Jika ada suami yang berpaling pada perempuan lain saat sang istri sedang mengandung, artinya suaminya itu manusia kurang ajar dan tak tahu keindahan."


Raka membelai wajah Sarah dengan jari telunjuknya seakan melukis sesuatu di pipi istrinya yang sedikit menjadi chubby itu.


"Dan suamimu ini, bukan jenis yang kurang ajar itu sayang. Jadi sebesar apapun bentukmu karena mengandung anakku, maka kamu tetap yang tercantik. Jangan takut aku melirik yang lain, karena hanya dengan melirikmu saja mataku ini sudah tak bisa bergerak lagi." Kelakar Raka sambil tertawa kecil.


"Hh...gombal!"


Sarah tersipu malu mendengarnya, lalu mencubit perut Raka dengan gemas.


"Besok kita ke mall..." Ucap Raka sambil meletakkan kepalanya lagi di paha Sarah, berbaring dengan manja di sana.


"Ke mall?"


"Ya, aku akan menemani nyonya Raka ini, shopping baju hamil sekalian baju bayi."


"Si Yogi bilang, itu kelihatannya laki-laki, lho. Ada bijinya kemarin di layar, masa kamu lupa?"


"Tapi kan, bisa saja perempuan."


"Sayang, kok kamu tetap ngotot bilang itu perempuan? Dokter saja bilang itu laki-laki."


"Tapi kepastiannya di pemeriksaan bulan ini kata dokter Yogi."


"Laki-laki itu. Sudah fix my boy." Raka mengelus-ngelus perut Sarah dengan yakin, tak mau berdebat lagi.


Sarah memang ingin punya anak pertama perempuan, biar cantik seperti Daisy tapi Raka yakin anaknya itu laki-laki, supaya bisa di ajak nonton bola.


Pasangan baru yang sedang menunggu kelahiran anak, kadang-kadang di ribetkan oleh hal-hal remeh, bahkan hanya untuk memikirkan jenis kelamin anak.


"Sayang..." Wajah Sarah tampak memelas.


"Apa lagi?"


"Setelah melahirkan, badanku tetap seperti emak-emak begini, kamu tidak marah kan?" Sarah menaikkan alisnya dengan raut tidak percaya diri.


Raka menepuk jidatnya sendiri, sekarang dia tahu apa yang pernah di bilang dokter Yogi, hati-hati dengan ibu yang hamil pertama kali, cenderung cerewet dengan ketakutan yang berlebihan.


Istrinya ini sedang mengalami Insecurity hamil pertama. Biasanya lazim terjadi pada perempuan yang terbiasa memiliki badan perfect sebelum hamil.


"Sayang...ini alamiah saja, jangan kuatir. Hadirnya si kecil adalah hadiah yang tidak dapat ditukar dengan apa pun. Jangan kuatirkan hal sekecil itu."

__ADS_1


"Nanti kamu tidak tertarik lagi denganku."


"Astaga sayangku...kamu mau bukti kalau aku selalu tertarik padamu?"


Sarah terdiam, perasaan ibu hamil kadang begitu aneh, tiba-tiba mencemaskan hal remeh temeh seperti itu. Tapi, Sarah bukan orang yang suka menyimpan hal yang di fikirkannya, meski hal tak penting seperti itu.


Mencurahkan isi hatinya dan mendapat jawaban dari sang suami, membuatnya merasa lega luar biasa.


"Apa buktinya?" Tantang Sarah manja.


Tanpa menunggu lama, Raka menarik leher Sarah dan menaikkan kepalanya, mencium bibir sang istri dengan rakusnya.


Ibu hamil ini tak bisa berkata apa-apa kecuali merintih karena terganjal perutnya sendiri.


Raka merasa bergairah mendengarnya, bangun dalam posisi duduk tanpa melepaskan bibir sang istri, benar-benar seperti ingin melahapnya.


"Sayang, ini di balkon, lho..." Sarah melepaskan bibirnya.


"Aku mau lagi..." Pinta Raka menghiba.


Lalu tanpa aba-aba, tiba-tiba Raka menggendong tubuh Sarah, yang terpekik karena terkejut. Lalu berpegang kuat di leher sang suami.


"Kita lanjutkan di dalam."Ucap Raka dengan suara parau.


"Aku sedang hamil sayang. Badanku berat, Bisa jatuh." Wajah Sarah memerah.


"Aku akan hati-hati, tenang saja." Raka melangkah dengan tegap masuk ke dalam kamar, meninggalkan teras balkon.


Membaringkan tubuh Sarah dengan perlahan di atas tempat tidur.


"Ini masih sore, sayang..." Sarah tertawa kecil saat melepaskan tangannya dari leher Raka.


"Biar saja." Raka menarik baju kaosnya sendiri dengan acuh, kemudian membuka kancing kemeja yang dikenakan Sarah, menikmati pemandangan dua bukit kembar yang menyembul padat hampir tak bisa di tampung oleh cup br* yang dikenakan Sarah.


Payud*ra ibu hamil memang luar biasa, begitu padat membusungdan penuh, sangat menggoda.


"Sayang, aku sedang hamil..." Sarah memperingatkan ketika dengan liar Raka menarik penutup dadanya, tak puas hanya melihat setengah pemandangan dari seharusnya.


"Aku tahu, sayang...aku akan hati-hati." Ucap Raka sambil mengecup dua buah d*da itu bergantian sedikit bernafs*.


"Supaya kamu tahu, aku akan selalu tertarik padamu, dalam kondisi apapun dan dalam keadaan apa saja." Bisik Raka di telinga Sarah dengan lembut. Sarah menyambutnya dengan *******, karena di detik berikutnya Raka telah membuatnya terbaring polos, menggelinjang dalam sentuhan-sentuhan yang hampir membuatnya kehilangan nafas.


(ups... di cut apa di lanjut, ya🤭🤭 Adegan bumil bercinta ini sepertinya haredang banget🤣🤣)


Makasih, ya...tetap bersama Sarah dan Raka, buat ibu-ibu hamil di luar sana, tidak perlu insecure denga perubahan bentuk badan kita. Itu normal saja, dan yakinlah, suami tetap sayang meskipun body kita bertambah melar😆😂


Okey, part-part manis dulu ya, sebelum masuk ke part yang agak tegang2 dikit🤣🤣


Jangan lupa Vote, like, komen, tips, poin, koin...apalah itu😅 untuk mendukung novel ini, semua bentuk dukungan kalian adalah kebahagiaan tiada tara buat Author🥰🙏😘😘


See You di part berikut, lope-lope buat semua❤️


__ADS_1


__ADS_2