
"Dan...untuk permintaanmu yang kedua..." Sarah menghela nafasnya sesaat, menatap Sally dengan sikapnya tenang dan tanpa beban.
"Soal ruangan ini..." Lanjut Sarah lagi
"Jika keinginan mama memang ingin memiliki ruangan ini, aku tidak akan menahannya, karena akupun tak menginginkan sebuah tempat yang aku sendiri merasa tak nyaman di dalamnya, tapi tentu saja untuk mendapatkannya sebagai hadiah dariku, aku menyumbangkannya dengan suka rela."Sarah melenggang ke depan dan berdiri di depan Sally dengan sikap elegan.
Wajah Sally benar-benar semerah udang goreng, mendengar dengan entengnya Sarah mengucapkan bahwa dia memberikan ruangan ini sebagai hadiah padanya, sebuah kalimat yang membuat Sally sampai merinding demi mendengarnya.
Seumur hidup dia tak pernah menerima apapun sebagai hadiah dari sarah. Dia merebutnya jika dia suka dan akan membuangnya jika dia sudah bosan, tak ada kata bahwa dia menerima apapun dari Sarah sebagai sumbangan.
"Sarah..." Sally hanya bisa mengucapkan nama kakak angkatnya itu tanpa tahu harus berkata apa-apa lagi.
"Aku senang akhirnya bisa memberikan bekas tempatku padamu, Sally...duduklah di sana sampai kamu puas, aku akan dengan senang hati memberikannya padamu." Sarah menunjukkan pada kursi kerja di mana dia duduk tadi, kursi besar nan mewah itu.
"Tapi, mungkin aku akan memberitahumu sedikit hal soal arti sebuah kursi, Sally." Sarah melipat lengannya di depan dadanya, matanya terarah begitu lurus langsung kepada mata bulat Sally.
"Kursi itu adalah benda mati, yang tak berharga apa-apa. Dia akan bernilai jika yang mendudukinya juga mempunyai nilai. Sebuah tempat akan dihormati, tergantung siapa yang menempatinya. Sebuah ruangan akan mempunyai nama jika dilabeli, dan sebesar apapun ruangan itu tak akan berguna jika yang tinggal di dalamnya adalah sampah yang tak berguna." Kata-kata itu mengalir lugas dari bibir Sarah begitu tajam bahkan lebih tajam dari mata silet.
Sally tak berkedip memandang kepada Sarah dengan matanya yang bersinar garang, seperti serigala yang kehilangan taringnya.
"Sarah!" Teriaknya dengan suara membentak.
"Jaga sikapmu! Jangan menjadi keterlaluan, ingat kamu itu siapa?" Hardik Sally dengan wajah merah padam.
__ADS_1
Sarah tersenyum menyambut amarah Sally. Tak ada rasa takut sedikitpun ditunjukkan oleh Sarah, meskipun tangan Sally terkepal dengan badan gemetar, seolah akan meledak dan sangat ingin menimpakan semua amarahnya itu kepada Sarah .
"Tidak perlu berteriak begitu, adikku sayang, sewajarkan seorang kakak menasehati seorang adik." Sarah menyeringai, seringai itu lebih tepatnya seperti sebuah ejekan.
"Aku bukan adikmu!" Hardik Sally dengan sikap arogan. Raut wajahnya begitu jijik saat mengucapkan bahwa dia bukan adik Sarah.
"Oh, ya...? Akhirnya, kamu membebaskan aku dari beban yang begitu berat, saat aku harus mengambil sikap tetapi tersandung hubungan ini. Aku tak pernah memutuskan hubungan apapun denganmu, tapi kamu yang tak mengakuiku." Sarah berkata tanpa terintimidasi sedikitpun oleh sikap Sally.
"Jadi, satu hal yang ingin ku pesankan padamu, saat berada di ruangan ini, jangan merasa kamu menerimanya karena merasa dirimu pantas," Sarah berhenti sejenak, mengambil nafas dengan sikap santai.
"Tetapi aku menghadiahkannya padamu, karena kamu sudah merengek-rengek kepadaku untuk itu. Aku sungguh tak memerlukannya, karena aku tidak dinilai tidak berdasarkan tempat tapi aku bisa duduk di mana saja berdasarkan otak, posisi dan kemampuanku." Sarah tersenyum tipis pada Sally, menatap perempuan muda yang selalu menindasnya dari masa kecilnya itu.
Tak pernah Sally merasa begitu terhina seperti ini oleh Sarah, setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh mulut Sarah itu, terasa tajam, menghujam hingga ulu hatinya.
"Aku membencimu, Sarah...aku membencimu." ucap Sally bergetar, dia tidak berdaya ketika harga dirinya jatuh di tangannya sendiri, karena saat dia memakan perkataan Sarah, dia sungguh tidak mempunyai nilai lebih lagi.
"Aku tahu kamu membenciku Sally, bahkan jauh sebelum kamu mengatakannya. Aku sudah lama hidup berkubang dalam kebencianmu dan mamamu, bahkan jika aku madih bertahan sampai sekarang, itu semua karena mama memungutku untuk menjadi keset kebenciannya!" Sarah menggedikkan bahunya, bibirnya menyeringai seolah sama sekali tak heran dengan apa yang di dengarnya.
Gigi Sally bergemerutuk dalam rahangnya yang terkatup, ada banyak perasaan yang ingin di luapkannya pada Sally, bahkan dia bersedia melompat dan mencakar wajah cantik kakak angkatnya itu demi mengeluarkannya.
Sayangnya, tangannya seolah tak bisa bergerak, hanya mengepal begitu saja, Sarah tak memberinya kesempatan untuk mengeluarkan sikap beringasnya. Dia tampak begitu santai dan tanpa beban emosi dakam berkata-kata.
Sarah kembali ke belakang mejanya, meraih ponsel dari dalam tasnya, lalu dengan acuh dia menelpon sebuah kontak,
__ADS_1
"Hallo...kamu sudah sampai?"
"Iya, bu..."
"Minta Rian mengantarmu ke ruanganku sekarang." ucapnya dengan santai, lalu menutup panggilan.
"Oh, iya...sebelum kamu menempati ruangan ini, ada beberapa barang pribadiku yang akan ku pindahkan. Jadi, tolong kerjasamanya dengan sekretaris sekaligus asisten pribadiku." Sarah tersenyum lebar seolah tak ada masalah apa-apa lagi antara dia dan sally.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka perlahan, seorang perempuan dalam balutan stelan biru malam melangkahkan kakinya memasuki ruangan dengan langkah anggun dan percaya diri.
Dengan wajah terarah kepada Sarah, dia membungkuk dengan sikap hormat.
"Selamat pagi, bu..." Ucapnya kemudian, tanpa sedikitpun menunjukkan dia memperhatikan kehadiran Sally yang memandangnya terkesima dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Perempuan cantik ini begitu asing tapi terlihat seperti dia pernah mengenalnya di suatu tempat atau semacamnya.
"Sally, mungkin kamu tidak mengenalnya, tapi jika kamu berada di lingkungan kantor ini, kamu akan segera terbiasa melihatnya. Mungkin bisa ku perkenalkan kepadamu, dia adalah Diah, sekretaris sekaligus asisten pribadiku. Semua yang berurusan denganku harus melewati dia, tidak terkecuali kamu." Kata sarah sambil mengambil tasnya dari atas meja menunjukkan bahwa dia bersiap pergi.
Sally tercengang beberapa saat, menatap kepada perempuan yang mengalihkan pandangannya kepada Sally, dia diam tak bicara tapi matanya yang hampa itu menatap kepada Sally dengan seribu makna tersembunyi.
"Di...Diah?"
Sally mundur beberapa langkah, sekarang dia baru mengenali perempuan di depannya itu dengan baik, mengapa dia merasa mengenalnya dalam skali tatap, tapi dia ragu jika dia salah, karena Diah yang dia tahu adalah perempuan jelek yang tak terurus, sementara yang kini terpampang di depannya, Diah yang berbeda, begitu terawat dan berkelas.
(kita double UP ya hari ini, biar puas dengan sambungannya yang terputus tadi🤭🤭🤭 Love U all, mudah-mudahan besok bisa double lagi, ya🤗🤗🤗)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......