
Sarah dan Raka tiba si restoran mewah itu, lewat dari jam 12 siang. Seorang laki-laki setengah baya berdiri menyambutnya, hampir seusia dengan papa Raka.
"Selamat siang, pak." Raka menyalaminya, dia tak mengenal laki-laki ini. Tapi tidak dengan Sarah, dia sejenak terpana, sepertinya dia mengenalnya.
"Om Ferdi?"
"Ya, Sarah...lama tak bertemu, terakhir kali kita pernah bertemu sekitar Lima atau enam tahun yang lalu, saat pesta pertunangan adikmu." Sambut laki-laki itu ramah.
Raka menatap pada sang istri, sejenak. Dia bahkan tidak tahu jika orang ini hadir di pesta pertunangannya dengan Sally.
Sarah menyalaminya dengan santun, laki-laki ini adalah teman baik papa angkatnya, rumah mereka dulu berada di satu komplek elite yang sama. Bahkan kadang di waktu senggang, papanya mengundang om Perdi untuk bermain catur di teras rumah mereka. Kadang-kadang mereka jogging bersama sambil mengobrol, waktu Sarah masih kecil.
Dia datang tak sendiri tetapi bersama seorang lelaki muda, berpakaian rapih layaknya seorang eksekutif muda.
"Apa kabar Sarah?" Sapanya, menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa dia mengenal Sarah.
"Kabar baik, kak Doddy..." Sarah menjawab dengan ramah, diapun cukup mengenal Doddy, putra om Ferdi, sering bertemu tak sengaja, dia lebih tua dua tahun dari Sarah, mereka berteman saat masih sekolah di SMP yang sama tapi tidak terlalu dekat, karena dia kakak kelas Sarah.
Yang terakhir di dengar Sarah, Doddy setelah lulus SMA di surabaya, pindah ke Jakarta dan kuliah di Australia. Dia adalah pewaris tunggal perusahaan Garmen milik ayahnya.
"Lama tak bertemu." Ucap Doddy sambil tersenyum ramah kemudian menyalami Raka dengan sikap formal.
"Mereka adalah kenalan lama papa." Sarah berucap kepada Raka yang tampak sedikit bingung melihat bagaimana Sarah mengenal mereka.
"Senang bertemu dengan om Ferdi lagi." Sarah tersenyum dan mempersilahkannya duduk kembali.
"Surprise rasanya, setelah bertahun-tahun tak bertemu, Sarah sudah begitu dewasa. Dan om dengar juga sudah menikah, padahal dulu kami pindah ke Jakarta, Sally yang bertunangan." Om Ferdi terkekeh sambil mencermati raut wajah Raka.
"Ini pak Raka, putra pak Rudiath itu...?"
__ADS_1
"Iya, om...dia suami Sarah." Jawab Sarah, mengatasi kekakuan antara Raka dengan orang-orang ini.
Sejenak om Ferdi tampak bingung tapi kemudian mengangguk-angguk kepalanya. Dia tak tahu banyak tentang apa yang terjadi dengan kehidupan mereka, meski terakhir yang dia tahu, dia menghadiri pertunangan putra Rudiath dengan Sally, puteri bungsu Wijaya. Tetapi hari ini, dia bertemu dengan orang yang bertunangan itu dengan Sarah sebagai istrinya, puteri pertama Wijaya.
"Aku baru tahu dari mamamu beberapa bulan yang lalu, jika dia sudah bercerai dengan papamu." Om Ferdi mengawali pembicaraan.
"Kami bertemu di sebuah acara tidak sengaja, saat aku kembali ke Surabaya ini, membuka pabrik baru. Sayangnya nomor kontak papamu tak bisa di hubungi."
"Papa tinggal di Kanada sekarang." Sahut Sarah sambil meraba-raba arah pembicaraan mereka. Dia tak yakin hal penting apa yang berurusan dengan perusahaan mereka yang harus di bicarakan dengan Om Ferdi ini.
"Ya, aku dengar juga begitu. kami berdua loss kontak, dan sayang sekali beliau sudah tak lagi memegang perusahaan Rudiath-Wijaya Grup."
"Papa hanya ingin merasakan pensiun lebih cepat. Dia tetap orang penting di perusahaan ini, meskipun tidak terlibat secara langsung lagi." Sarah tersenyum, melirik pada suaminya yang duduk dengan tenang tanpa sedikitpun menyela.
"Sebenarnya saya ingin bertemu dengan pak Rudiath langsung tapi sekretarisnya mengatakan beliau sedang berada di Jepang. Dan saya di rekomendasikan bertemu dengan Pak Raka sebagai CEO dan Sarah yang ternyata sekarang adalah pengganti Wijaya."
"Iya, om...saya hanya mewakili papa dalam hal ini, selama beliau dalam masa istirahat."
"Apakah ada hal yang bisa kami bantu?" Akhirnya Raka angkat bicara, terdengar luwes dan berwibawa.
"Ini adalah soal, ibu Mytha, mama Sarah yang ingin menawarkan kepadaku 15 persen saham perusahaan kalian kepadaku sebagai jaminan pinjaman yang di ajukannya kepadaku."
Raka dan Sarah terperanjat, sesaat mereka berdua berpandangan. Mereka tak menyangka jika mama Sarah bertindak segegabah itu menyangkut urusan perusahaan.
"Karena aku merasa masih berteman baik dengan papamu, aku hendak mengkomunikasikan ini dengannya, tapi ternyata beliau tidak lagi pemilik perusahaan ini. Kemudian, saya rasa berbicara dengan pak Rudiath adalah hal yang terbaik. Saya juga tidak ingin demi keuntungan pribadi saya bertindak tanpa pertimbangan."
"Mama mengajukan pinjaman?" Sarah mengerutkan kening.
"Sepertinya mamamu sedang kesulitan keuangan, dia kehilangan beberapa aset dalam beberapa bulan ini dan terlibat utang karena perjudian."
__ADS_1
Sarah terhenyak, dia tak menyangka, kebiasaan sang mama dahulu semakin menjadi-jadi sekarang. Dia benar-benar menyesal dengan sikap mamanya yang serampangan ini sehingga mempertaruhkan perusahaan untuk jaminan kepentingan pribadinya.
"Saya tahu, masuknya orang baru dalam sebuah perusahaan sedikit banyak berpengaruh terhadap intern perusahaan, apalagi saya tahu benar perusahaan ini latar belakangnya bagaimana. Tidak akan bertahan dan berkembang sejauh ini jika tidak karena solidnya duo pemiliknya, pak Rudiath dan pak Wijaya. Karena itu saya ingin membicarakan masalah ini secara heart to heart dengan pemilik resminya yang lain dalam hal ini pak Rudiath yang di wakilkan pak Raka dan Sarah sendiri."
"Saya merasa senang, pak Perdi beritikad baik, mengambil jalur berbicara secara pribadi sebelum mengambil keputusan untuk mengambil alih setengah saham dari ibu Mytha. Sebagai sesama orang yang paham bisnis, bapak benar-benar sangat bijaksana." Raka berucap kemudian.
"Tentu saja jika pak Ferdi ingin, bapak bisa saja mengambil alih begitu saja karena ibu Mytha secara hukum dan tertulis memang mempunyai dokumen kepemilikan juga. Terimakasih telah mengkomunikasikannya lebih awal. Saya akan membicarakan hal ini dengan papa, karena berhubungan dengan perusahaan."
"Saya hanya merasa tidak baik main belakang, sementara saya tahu benar siapa pak Wijaya." Sahut Om Ferdi.
"Om Wijaya..." Tiba-tiba Sarah menatap tajam pada laki-laki setengah baya itu.
"Apakah om benar-benar berniat ingin membeli saham itu?" Pertanyaan Sarah itu tanpa basa-basi, membuat Raka tak urung menatap sang istri sejenak.
"Tentu saja jika melihat dari keuntungan, hal ini tidak bisa di lewatkan. Tapi, secara pribadi saya tahu, perusahaan ini milik dua keluarga besar dari awal, orang baru bukan hal yang cukup di inginkan." Jawaban itu terdengar sangat beralasan.
"Saya bersyukur mama datang pada orang yang tepat. Bukan pada orang lain." Sarah menghela nafasnya.
"Jika Om Perdi berkenan, dua hari lagi aku dan suamiku ingin bertemu kembali dengan om Perdi membicarakan hal ini. Tapi untuk pengajuan pinjaman mama, aku ingin om Perdi membantu saya."
"Membantu dalam hal apa?"
"Om Ferdi tetap meng ACC pengajuan pinjaman mama kepada om Perdi." Jawab Sarah kemudian, yang tentu saja membuat Raka sedikit tercengang dengan apa yang diminta oleh istrinya itu. Apakah Sarah mempertaruhkan perusahaan untuk kepentingan sang mama?
Sarah memegang lengan suaminya itu, meyakinkannya bahwa dia tahu apa yang sedang di lakukannya.
(Karma itu akan datang segera, pemirsah...karena orang yang terlalu serakah akan jatuh dengan berbagai cara๐ Seperti apakah rencana Sarah menyelesaikan masalah yang di buat oleh mamanya, tetap Stay di novel ini๐๐)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka๐ค...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......