Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 114 I LOVE YOU


__ADS_3

Tidak sampai satu jam, mereka tiba di klinik Dokter Yogi. Di sana sudah siap beberapa perawat yang menunggu dengan sebuah brankar di depan lobby. Raka sudah menelpon sebelum berangkat.


Saat Raka mau menaikkan Sarah ke atas brankar, Sarah menolaknya.


"Sayang, aku bisa jalan sendiri. Aku baik-baik saja." Tolak Sarah.


"Tapi...nanti kalau nyerinya datang bagaimana?" Raka melotot dengan tegang pada Sarah.


"Kontraksi itu ada jedanya sayang, apalagi ini masih kontraksi awal. Jedanya lama." Jawab Sarah, mengingat keterangan mama sebelum berangkat tadi.


Sarah nyengir sendiri mengingat sang suami yang gemetaran menunggu dia mandi tadi pagi, bahkan duduk di pinggir bathup, supaya memastikan Sarah baik-baik saja.


"Takut bayinya lahir di dalam kamar mandi." Alasan Raka, membuat Sarah tidak tahan untuk tidak tertawa geli.


"Mama nyusul nanti, perkiraan mama kamu melahirkan paling cepat tengah hari." Kata mama.


"Kontraksi awal ini berjeda setengah jam seiring pembukaan jalan lahir, kontraksi akan semakin sering jika mendekati persalinan. Jadi Sarah tenang saja, ya...apapun rasanya, nikmati saja semua prosesnya. Setiap perempuan yang akan menjadi ibu akan mengalaminya. Bersyukurlah kamu bisa merasakannya, karena banyak orang yang bahkan tak punya kesempatan untuk bertemu momen ini." Nasehat mama, saat melihat Sarah menunjukkan ketidaknyamanan yang sedang di rasakannya.


"Ayo, sayang...sini..." Raka merangkul Sarah hendak memapah badan sang istri untuk berjalan.


"Sayang, aku bisa jalan dengan baik. Tunjukkan kamarnya saja." Sarah berjalan dengan tegap, mengusir kekuatiran Raka yang menurutnya sangat berlebihan.


Raka berjalan di belakang Sarah yang mengikuti dua orang perawat di depannya, sementara Pak Ardi sopir pribadi, membawa seabrek bawaan untuk persiapan melahirkan.


Kamar mereka di lantai tiga gedung itu.


"Selamat pagi..." Wajah dokter Yogi terlihat sumringah di depan pintu kamar, dia ternyata sudah menunggu temannya itu di sana.


"Gi, tolong ya di bantu...ini bagaimana?" Raka memegang lengan dokter Yogi.


"Tenang, Ka...Sarah dalam kondisi prima. Biar kita periksa dulu pembukaan berapa sudah. Kalau melihat keadaannya, seperti masih lama." Dokter Yogi melirik kepada Sarah yang hanya tersenyum kecil. Mengikuti seorang bidan muda yang mengarahkan dia ke hospital bed.


Kamar bersalin itu cukup luas, dengan fasilitas lux. Ada Sofabed, TV, lemari, kulkas dan semua perlengkapan lainnya, serasa di kamar kos elite. Raka memang memesan kamar khusus, demi kenyamanan istrinya ini.


Setelah pemeriksaan dilatasi atau pembukaan leher rahim, ternyata Sarah baru memasuki pembukaan tiga.


"Sarah sudah melewati fase laten, sekarang sudah pembukaan tiga. Masih lama, Ka...beberapa jam lagi mungkin 3-5 jam. Sarah di bawa jalan-jalan dulu juga tidak apa-apa."


"Hah...masa boleh di bawa jalan-jalan dulu?"

__ADS_1


"Ya, asal jangan kamu bawa ke mall. Jalan-jalan seputaran sini saja, Ka. Sampai kantin di lantai bawah dua juga boleh." Dokter Yogi tergelak melihat Raka yang melongo.


Raka menuruti Saran dokter Yogi membawa Sarah ke kantin, dan lagi karena kerempongan mereka bergegas membawa Sarah ke rumah sakit bersalin, lupa belum sarapan.


"Sayang, makan yang banyak, biar kuat..." Raka menyodorkan semangkok bubur ayam di tambah sepiring lagi soto.


Sarah geleng-gekeng kepala melihat Raka. Semua jenis makanan di kantin itu hampir di pesannya.


Saat Sarah menyendok sendok terakhir bubur ayam ke mulutnya, dia hampir tersedak karena serangan kontraksi yang tiba-tiba.


Dengan mata terpejam, rasa tidak nyaman menjalar ke seluruh bagian perut, mulai dari bagian depan, kanan dan kiri perut, hingga ke punggung. Perutnya juga terasa keras sekali saat kontraksi itu tiba, sebagian panggulnya terasa seperti ditekan.


"Sayang..." Raka bergegas memeluk Sarah, dengan cemas. Sarah tak menjawab tapi jelas sekali dia sedang menahan sakit. Namun sesaat kemudian Sarah menarik nafas, nyeri itu berlalu.


"lSudah entah keberapa kali, Sarah bersikap seperti itu tentu saja kecemasan Raka yang melihatnya tak terbendung. Wanita menjelang persalinan sungguh menderita.


Setelah masuk ke Kamar, Sarah di temani Raka yang selalu siaga di sampingnya, membicarakan hal-hal yang ringan sambil menonton televisi.


"Kamu boleh meminta operasi saja, sayang...kalau kamu tidak tahan." Raka tak tega melihat penderitaan Sarah.


"Aku mau normal saja, sayang. Toh aku dan bayi kita sehat-sehat saja. Kalau rasa sakit ini harus ku rasakan, itu adalah anugerah yang perlu dinikmati. Semuanya akan sepadan saat buah hati kita nanti telah lahir. Aku ingin tahu seperti apa mama ku dulu melahirkan aku..." Tanpa sadar air mata Sarah bergulir jatuh, membayangkam bagaimana perjuangan sang mama kandungnya bertaruh nyawa bahkan benar-benar menyerahkan nyawanya untuk melahirkan dirinya.


Ketika nyerinya datang, dengan siaga Raka memeluk dan memberikan pijatan untuk Sarah. Untuk kesabaran sepertinya Sarah sangat baik dalam menahan rasa nyeri akibat kontraksi antar pembukaan, dia tidak mengeluh sama sekali.


Beberapa jam kemudian intensitas nyeri semakin sering, semakin pendek jarak kontraksi dan semakin berat intensitas pula rasa sakit yang dirasakan.


Saat bangun, hendak ke kamar kecil, Sarah mengalami pecah ketuban yang membuat Raka diserang rasa panik, memanggil beberapa perawat sekaligus untuk memeriksa Sarah


"Waktu melahirkan sudah dekat. Sarah sudah masuk fase transisi, pembukaannya sudah hampir lengkap. Lebih baik kita sudah masuk ke ruangan bersalin." Kata Dokter Yogi. Sarah di bawa ke ruang bersalin dengan brankar karena memang dia sepertinya sudah kesulitan berjalan. Beberapa perawat dan bidan asisten mempersiapkan peralatan.


Raka gugup bukan main, rasanya ingin berlari saja atau menghilang sebentar lalu muncul lagi saat bayinya telah lahir.


Mama dan papa tiba, dengan raut harap-harap cemas.


"Sayang, temani istrimu." perintah mama.


"Saat bersalin, seorang wanita bertaruh nyawa ibarat hanya bertahan pada selembar rambut. Sebagai suami, peganglah tangan istrimu, pastikan kamu berada di sampingnya. Berikan dia kekuatan, karena hanya kamulah yang akan bisa membuatnya bisa melewati semua ini." Kata Mama.


Dengan menguatkan hati, Raka ikut masuk ke ruang bersalin, di tatapnya wajah Sarah yang merah merona dengan keringat yang keperakan di dahi.

__ADS_1


"Sayang...tidak apa-apa." Bisik Raka sambil duduk di samping Sarah yang berbaring dengan wajah meringis.


Berbeda dengan sebelumnya, sepertinya rasa sakit kontraksi yang di alami Sarah sangat hebat, kuat, dan menyakitkan.


Rasa nyeri itu berulang hampir setiap setengah menit.


"Sayang...sayang..." Sarah memegang tangan Raka kuat-kuat, sembari mengatur nafasnya.


Raka tak kalah tegangnya, melihat pias wajah Sarah.


Ketika dokter Yogi menyatakan pembukaan sudah lengkap, Sarah di dudukkan dalam posisi melahirkan. Tak pernah dalam hidup Raka merasa setegang ini.


Air mata Sarah tak lagi bisa di tahannya, rasa sakit itu menguasa tubuhnya sampai gemetar.


Sampai-sampai dirinya sendiri merasa tak sanggup bernafas.


"Sayang...maafkan aku, maafkan aku... jika aku terlalu banyak salah padamu." Kalimat Sarah itu terdengar seperti rint*han, ketika dia merasa mungkin dia tak bisa melewati rasa sakitnya.


Raka menggigit bibirnya mencium tangan Sarah.


"Berjuang sayang, untuk anak kita." Sahut Raka dengan suara serak di sela Sarah di pandu mengejan oleh dokter Yogi.


Er*ngan Sarah menandakan rasa sakit yang luar biasa, membuat hati Raka begitu tersiksa, seolah-olah dia sedang mengalami rasa sakit yang sama.


"Sayang, sakiiiit...."Bisik Sarah, sambil mengatur nafasnya lagi.


"I Love You..." Sahut Raka sambil menahan cengkeraman tangan Sarah, dia tak tahu harus mengatakan apa untuk memberi kekuatan pada istrinya itu.


Setiap kali Sarah mengg*rang karena sakit, maka Raka hanya bisa mengatakan,


"I love You...I Love You...I Love You..."


(Wah, lahiran ponakan online kita ini alot sekali, perlu satu bab lagi ternyata baru kita bertemu Raka Junior😅 Bab ini, author dedikasikan untuk ibu-ibu yang telah berjuang melahirkan, kalian adalah wanita terhebat💪)



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all❤️...


__ADS_2