
Sarah meletakkan pensilnya di atas meja, menatap ke arah ponselnya dengan gelisah.
Raka sama sekali tidak bisa dihubungi hampir seharian ini.
Biasanya setiap pagi, senyum lebar suaminya itu akan selalu menghias layar ponselnya, suara Raka yang renyah seperti alarm yang membangunkan Sarah dan membuat pagi calon ibu muda itu begitu bersemangat.
Tapi hari ini, Sarah terbangun dan tak mendengar ponselnya berbunyi sama sekali, bahkan ketika dia memeriksa, takutnya dia melewatkan panggilan Raka, sama sekali tak ada panggilan tak terjawab di riwayat panggilan.
Sarah mengerutkan dahinya dan mengingat bahwa hari ini tepat hari ke-6 suaminya di Leyden.
Kemarin pagi, Sarah masih video call dengan Raka,
"Sayang, aku benar-benar ingin pulang..." Tak biasanya wajah suaminya sedikit muram.
Bahkan jika Sarah perhatikan, Raka nampak menampakkan raut cemas yang aneh.
"Kok calon papa ganteng ini jadi cengeng begitu? " Sarah meledek Raka.
"Aku mau di dekat kamu saja." Raka menyahut, wajahnya sangat serius.
"Sayang, dulu kita pisah berbulan-bulan bahkan tanpa komunikasi, kamu biasa saja."
"Dulu dan sekarang beda." Sergah Raka, mimiknya masih serius.
Sarah menatap sang suami, merasa nada bicara Raka menjadi aneh.
"Aku takut terjadi sesuatu dengan kita, jika berjauhan seperti ini."
"Sayang, kamu kenapa sih?" Sarah melotot, melihat tingkah Raka yang mendadak sangat melankolis itu.
"Aku akan berbicara dengan mama, untuk mengirimmu ke sini."
Sekarang Sarah menjadi cemas, Raka tak nampak sedang main-main.
"Sayang, ada apa sebenarnya ini?" Sarah bertanya kemudian, dengan sedikit bingung.
"Tidak apa-apa." Raka menjawab pendek.
"Yakin?"
"Hanya ingin dekat denganmu saja. Aku sudah terbiasa memelukmu sebelum tidur. Sekarang aku jadi susah tidur, karena kamu tidak ada." Raka menarik sudut bibirnya, membentuk senyum yang terpaksa.
"Sayang, aku tahu bukan itu penyebabnya." Sarah memicingkan matanya, dengan sikap curiga.
"Aku benar-benar hanya rindu padamu. Sangat rindu...aku sangat takut jika tiba-tiba aku harus kehilanganmu..."
"Sayang, kamu sedang membicarakan apa sih? kita hanya berpisah sementara, karena kamu harus menyelesaikan sekolahmu. Tak ada masalah yang begitu urgent, yang mengharuskan kita saling kehilangan." Sarah memandang kepada layar ponselnya tak berkedip, dia mendadak merasa tidak nyaman dengan kalimat yang didengarnya barusan.
Raka terdiam, balas menatap Sarah.
Sesaat mereka berdua tak saling membuka suara, seolah saling menebak apa yang ada di hati masing-masing.
Lalu, sebaris senyum lebar merekah di seberang sana,
__ADS_1
"Sayang, mungkin aku terlalu berlebihan." Raka tertawa, mencairkan suasana.
"Hey, bagaimana kabar babyku? Dia tidak bertingkah hari ini?" Tanya Raka, suaranya kembali ceria.
"Dia baik-baik saja. Hanya aku sedikit pusing hari ini, mualnya juga sudah tidak begitu terasa, kecuali pagi. Kalau malam, agak susah tidur."
"Itu tidak parahkan?" Raka mengernyit dahinya dengan khawatir.
"Tidak apa-apa, mama bilang aku hanya perlu istirahat cukup. Yang penting, vitamin dan suplemen kehamilan tetap ku konsumsi rutin. Hamil muda memang kebanyakan begitu reaksinya."
Raka manggut-manggut.
"Mama bilang sejak kamu pergi ke Leiden, kamu cuma telpon dia sekali."
"Eh, aku lupa sayang. Di fikiranku cuma ada kamu." Raka terkekeh.
"Dan lagi, kalian kan tinggal serumah jadi kamu sampaikan saja pesanku pada mama, bilang Raka lagi sibuk." Raka mengedipkan matanya pada Sarah.
"Huss, tidak boleh begitu sama orang tua. Telpon mama nanti, dia pasti merasa senang kalau anaknya menghubungi dia, meskipun sekedar menanyakan kabar. Orang tua itu sensitif, lho."
"Iya, sayang...nanti ku telpon mama."
"Sayang, kamu sudah makan?"
"Belum."
"Kok belum?"
"Lagi tidak berselera makan." Raka menjawab.
Nada memerintah Sarah itu membuat Raka terkekeh,
"Sayang, kamu bertambah cantik kalau sok galak begitu." Tawa Raka berderai.
"Tidak lucu, ah!" Sarah manyun.
Ini
"Eh, bukannya lusa waktunya kamu ke dokter Yogi?" Tiba-tiba Raka mengingatkan. .
"Em...oh, iya waktunya cek up baby lusa."
"Nanti aku telpon dokter Yogi untuk membuat janji, jadi kamu tinggal datang saja."
"Oke, sayang..."
"Seharusnya, aku yang mengantarmu cek up." Wajah muram Raka kembali lagi.
"Aduh, sayang...aku bisa kok sendiri. Ini perut masih kecil juga," Sarah mengelus perutnu dengan senyum tanpa beban.
"Sayang, maafkan aku ya. Seharusnya di masa-masa kehamilanmu begini, aku mendampingimu."
"Akh, sayang...sudahlah! Jangan terlalu mencemaskan aku, tenang saja, istrimu ini supermom." Sarah menyela sambil menunjukkan wajah riangnya.
__ADS_1
"Tapi aku sudah berjanji jadi suami siaga..." Raka tampak menyesal.
"Kamu tetap siaga satu di hatiku." Sarah tergelak, dia merasa lucu dengan kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Sayang, kamu sekarang pintar menggombal." Raka menggoyangkan telunjuknya di depan hidungnya dengan lucu.
"Gurunya kan kamu?" Sarah masih tergelak dengan gaya menggoda.
Pembicaraan kemarin sore, begitu hangat seperti biasa, tak ada yang mengisyaratkan apa-apa.
Tapi hari ini, sepanjang pagi hingga sore menjelang malam, suaminya itu loss contact, tak ada kabar beritanya, tentu saja Sarah sangat mencemaskannya.
Entah kali keberapa Sarah mencoba menelpon Raka, tapi selalu sama, nomor tujuan di luar kontak Area.
Sarah masih berusaha menunggu dengan sabar, tapi sesuatu yang tidak biasa tentu saja membuat perasaannya tergganggu.
Ketukan di pintu kamar, menyadarkan Sarah.
Dengan enggan dia beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamar.
"Nak Sarah, bik Asih antarkan susunya..." Bi Asih berdiri dengan sebuah nampan dan segelas susu di depan pintu.
"Oh, Bi Asih...Sarah bisa ambil sendiri ke dapur. Maaf jadi merepotkan." Sarah mengambil gelas itu dan meminum susu itu sekali sekali tengak sampai habis.
"Tidak apa-apa, non." Sahut Bi Asih.
"Nyonya besar dan tuan tadi keluar, ada undangan makan malam bersama partner katanya. Nyonya sudah menyuruhku menyiapkan makan malam untuk non Sarah." Lanjutnya lagi.
"Oh, Sarah masih kenyang Bi..." Sarah tampak enggan. Kegelisahannya memikirkan Raka yang tak bisa di hubungi membuatnya kehilangan selera makan.
"Non Sarah harus makan, nyonya bilang begitu. Non Sarah belum makan apa-apa sejak makan siang jadi non Sarah harus makan. Perut kosong tidak baik non, nanti masuk angin. Saat hamil, cepat masuk angin lho non...."
"Bibi jadi seperti mama sekarang." Sarah tertawa mendengar kalimat teguran Bi Asih.
Wajah Bi Asih menjadi merah, menyadari kecerewetannya sendiri.
"Atau Bi Asih bawa ke kamar saja makan malamnya?" Bi Asih memberi penawaran, alisnya berkerut meminta persetujuan.
"Tidak usah, Bi...Sarah akan turun saja. Sebentar Sarah bereskan pekerjaan Sarah, ya..." Sarah menyerah dengan bujuk setengah memaksa dari Bi Asih.
Setelah Bi Asih pamit turun ke bawah, Sarah membereskan desainnya yang bahkan tidak separuhpun diselesaikannya karena dia lebih banyak melotot dan melamun menghadap kertas di meja.
Ketika dia keluar dari kamar begitu hendak menuruni anak tangga, dia tercengang, matanya terbelalak menatap ke anak tangga terbawah. Tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Aku yang akan menemani nyonya muda ini makan malam, bi...."
(Yang penasaran siapa yang datang, yuk VOTE novel ini, biar jadi booster author segera UP lanjutannya☺️ love you all😘)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all❤️...