Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 187 MELEPASKAN SIMPUL


__ADS_3

Bram terpekur menatap kepada perempuan yang berdiri di seberangnya ini, baru kali ini dalam cahaya temaram, dia berharap menemukan cahaya untuk bisa melihat lagi wajah Diah. Dia begitu takut wajah itu menghilang dalam gelap.


"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusan ini?" Pertanyaan itu keluar juga dari bibir Bram, bergetar dan begitu parau.


"Untuk bertemu dengan keyakinan ini, aku telah melewati banyak malam dalam tahajjudku. Bercerai mungkin memang bukan jalan yang baik tapi inilah sekarang yang terbaik." Diah menyahut dengan mata tak berkedip pada Bram.


Bibir Bram terasa kelu, dia tak punya kata untuk menyambut kalimat yang keluar dari mulut Diah. Seperti sebuah keluhan tapi berakhir pada sebuah keputusan.


"Aku menyerah, mas. Aku tak bisa terus menghibur hatiku, mengatakan aku kuat dan baik-baik saja. Tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang benar-benar sanggup di siksa dengan pengkhianatan, di duakan, di hina dan di sakiti seperti yang telah mas lakukan. Aku lelah, mas...dan aku tak mau lagi diperlakukan seperti barang rongsokan." Getir itu merasuk sampai relung sanubarinya. Tapi mengakhiri semuanya adalah yang terbaik sekarang, Diah sama sekali tak punya pilihan selain mengakhiri hubungannya dengan suaminya itu.


Bram tak pernah menyadari, luka yang di pahatnya pada Diah telah merubah perempuan itu menjadi sosok yang begitu dingin bahkan hampir mati rasa.


"Oh, iya...mas juga jangan kuatir, aku tidak akan mempermasalahkan harta gono gini dan segala macam harta benda selama kita terikat pernikahan, aku juga tak menuntut tunjangan sepeserpun darimu sebagai akibat dari perceraian ini. Aku hanya meminta lepaskan aku dan berikan hak asuh atas anakku padaku. Tak ada yang lain."


Diah beranjak dari tempatnya berdiri. Melangkah hendak meninggalkan Bram yang sejenak masih termangu di tempatnya,


"Bagaimana dengan Bella jika kita bercerai?" Kalimat itu begitu parau, seperti sebuah pertanyaan yang mengambang tepatnya.

__ADS_1


Diah menghentikan langkahnya, berbalik kepada Bram yang masih duduk di sana dengan wajah membeku,


"Sejak kapan mas pernah memikirkan perasaan anak-anak? Selama ini apakah benar mas telah memperhatikan mereka dengan baik?" Diah memicingkan mata cantiknya ke arah Bram.


"Apakah mas tahu berapa gigi susu mereka yang tanggal saat mas pergi bermesum ria dengan selingkuhan mas itu? Apa mas ingat pernah meninabobokan Bella saat dia ketakutan mencari papanya dalam ketakutan tidurnya? Apakah mas tahu rasanya menangis sedih saat merawat Beni yang menggeliat kesakitan di tengah malam dalam pelukanku? Menyebut namamu berharap seorang ayah menenangkannya? Apakah...apakah mas pernah benar-benar memikirkan mereka?"


Suara itu terdengar pilu, dan air mata Diah mengalir melewati pipinya tak tertahankan lagi. Meskipun dia menangis tanpa suara dalam kesedihannya.


Bram menggigit bibirnya yang kelu, sekarang dia hampir tak tahu cara mengatakan apapun pada Diah.


"Jangan coba mengharamkan perceraian kita atas nama anakmu, mas, karena jauh sebelum aku meminta perceraian ini, kamu telah membunuh anak-anakmu dengan pengkhianatan yang telah kamu lakukan pada kami. Beni sudah mati berkali-kali sejak mas meminta dia di gugurkan delapan tahun yang lalu. Bahkan, saat dia menghembuskan nafas dalam pelukanku, kamu tak pernah benar-benar ada untuknya. Jauh di relung hatiku terdalam, aku telah merelakannya pergi lebih dulu ke surga untuk mengakhiri penderitaannya, bukan karena penyakitnya tetapi karena ayah yang selalu di rindukannya lebih memilih memeluk seorang perempuan ****** daripada memeluknya yang berjuang mengumpulkan nafas dalam kesakitannya." Diah tak pernah menangis dengan air mata sederas ini di depan Bram, semua perkara yang di simpannya dalam hati tumpah ruah seketika.


"Sekarang, mas mempertanyakan Bella? Aku sungguh sangat berharap pernahkah mas sekali saja mengingat terakhir kali mas pernah mencium keningnya sebelum dia tidur? Anakmu itu telah berapa kali naik kelas tanpa pernah merasakan euforia di antar satu kalipun oleh ayahnya sampai depan pintu pagar sekolahnya. Dan sekarang mas tiba-tiba ingat padanya?" Pertanyaan itu begitu menyesakkan, mengiris lebih tajam dari mata silet.


"Seperti mas yang tak pernah menginginkan pernikahan kita maka lupakan saja jika mas masih punya rasa empati pada anakmu. Kita telah gagal menjadi orangtua saat bersama, jadi tidak ada alasan mempertimbangkan perasaan lagi. Kamu memang tetap ayah Bella, tapi aku berjanji akan mencukupkan kasih sayang padanya dengan sebaik-baiknya, bahkan jauh lebih baik daripada saat kita berusaha bertahan dalam pernikahan yang seperti neraka ini. Tetap memilih bertahan akan merusak mental Bella lebih dalam." Diah menghapus air mata di pipinya dengan kedua jemarinya, seolah ingin menghapus apapun yang kini sedang di alaminya.


"Aku rasa, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semua sudah jelas dan terbuka, bahwa tak ada apapun yang bisa kita pertahankan lagi. Aku akan sholat sebentar dan setelahnya aku akan pergi menginap di rumah mama sekaligus menjemput Bella. Bi Irah ada di belakang, jika ada yang kamu perlukan." Diah menarik nafas dalam-dalam dan memutar tubuhnya, dia ingin segera mengakhiri semua pembicaraan mereka.

__ADS_1


Diah berjalan tanpa menoleh lagi meninggalkan ruang makan dan semua hidangan yang telah menjadi dingin itu, langkahnya ringan tanpa beban, meninggalkan Bram yang terdiam seribu bahasa.


Jemari Bram yang mengepal tanpa sadar naik merayap mengurut bagian dadanya, tak tahu entah mengapa, dadanya terasa sesak sekali. Dia merasa kehilangan sesuatu yang berharga tapi terlambat menyadari kalau itu begitu berarti baginya.


Dia tidak tahu, rasa sakit itu datang dari mana, tapi sungguh sangat ngilu menusuk sampai ke jantung.


Diah telah melepaskan simpul yang di genggamnya erat-erat selama ini, dia menyerah bertahan dalam kesakitan tapi dia menang atas ketakutan dan penderitaannya. Seseorang yang waras, akan tahu kapan harus berhenti jika dia sudah tak mampu bertahan lagi.


Tak selamanya bersama lebih baik, saat hanya satu orang yang berjuang. Kadang-kadang perpisahan adalah jalan terbaik.



(Yeay, crazy up lagi ya hari ini, mak othor sangat ingin menuntaskan derita Diah segera☺️🙏


Othor bahkan tak bisa menahan air mata saat menulis part ini, sebagai seorang ibu dan istri, betapa sakitnya saat menjalankan hidup seperti Diah🤧 Semoga kita di jauhkan dari semua kesakitan ini, semoga rumah tangga semua pembaca novel ini bahagia dunia dan akhirat🙏☺️)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......


__ADS_2