Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 103 TATAPAN SEJUTA MAKNA


__ADS_3

Sarah sudah rapi, mengenakan midi dress floral dengan detil bunga marun kecil dan daun hijau yang anggun, lengan bajunya sesiku berlipit karet yang girly. Perutnya tampak menggembung sedikit dibalik dress itu, begitu manis sambil menjinjing sebuah bucket bag cantik senada dengan flatshoesnya yang berwarna cream.


Sarah benar-benar fresh dan cerah siang ini, seperti bunga cantik di musim semi.


Raka sudah berjanji untuk menjemputnya hari ini, dia akan menemani Sarah shopping ke mall, jadi Sarah berdandan sedikit memberikan sentuhan feminim dengan eyeshadow berwarna lembut dan polesan lipstik tipis tampak membuat ibu hamil ini benar-benar cantik.


"Sayang...kamu mau kemana, cantik sekali anak mama ini?" mama sedikit tercengang melihat Sarah turun dari tangga kamar atas dengan penampilan demikian mempesona.


"Mau keluar bersama Raka sebentar, ma." Jawab Sarah sambil tersipu.


"Oh..." si mama manggut-manggut.


"Bukannya Raka ke kantor tadi?"


"Iya, ma...katanya jam sebelas jemput Sarah."


"Sayang, tidak makan siang dulu?"


"Mungkin makan siang diluar hari ini, ma." Wajah Sarah sedikit menunjukkan sesal karena tidak bisa menemani mama makan bersama siang ini.


"Oh, sudahlah kalau begitu.Hati-hati di jalan nak, jangan terlalu lama ya, nanti capek. Ibu hamil jangan terlalu capek, lho."


"Iya, ma." Sarah menyalami ibu mertuanya itu dan mengecup pipinya seperti kebiasaan Raka kalau pamitan pergi.


Saat Sarah sampai teras, dia bingung saat Pak Ardi sopir pribadi ayah Raka, menggunakan mobil Raka sudah menunggu di luar.


"Raka mana, pak?" Sarah bertanya dengan kepala celingukan.


"Tuan Raka menyuruh bapak menjemput Nyonya."


"Aduh, pak Ardi jangan panggil nyonya..." Sarah selalu merasa risih kalau di panggil dengan nyonya.


"Tapi..." Pak Ardi jadi salah tingkah, saat nyonya muda yang murah senyum itu selalu tampak kesal jika di panggil nyonya.


"Yang janji jemputnya kemana, pak?"Sarah cemberut, moodnya langsung down ketika melihat sang suami tidak menjemputnya sesuai janji.


"Tuan muda ada tamu, saya di suruh menjemput nyonya eh ibu Sarah langsung ke kantor saja. Tuan muda menunggu di kantor." Pak Ardi menjawab terbata-bata, bingung harus memanggil Sarah dengan apa.


"Kalau dia sibuk, seharusnya tidak perlu janji mengantarkan aku segala." Sarah mengomel dalam hati. Rasanya, sia-sia dia telah berdandan cantik untuk suaminya, jika yang di tunggu tidak datang.


"Silahkan..." Pak Ardi sudah membukakan pintu mobil untuk Sarah. Mau tidak mau Sarah naik ke dalam mobil, tidak enak tiba-tiba ngambek dan membatalkan pergi, melihat pak Ardi sudah capek, jauh-jauh menjemputnya.

__ADS_1


Mobil itu segera meluncur, membawa Sarah yang masih dongkol dalam hati.


Kontak Raka yang sedari tadi di hubunginya, tidak memberi respon.


Sarah memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya, duduk dengan wajah yang benar-benar masam.


Pak Ardi tidak berani bersuara sepanjang jalan, dia tahu sang majikan ini sedang kesal sekali dengan tuan mudanya.


"Masih lama, ya ?" Tiba-tiba Sarah bertanya, rasanya gerah melihat jalanan yang padat merayap.


"Sekitar 15 menit lagi, bu." Jawab pak Ardi, sambil melirik spion, berharap jalan tetap lancar meskipun ramai, maklum siang biasanya akan ada drama macet karena jam istirahat para pegawai atau karyawan.


Sarah belum pernah sekalipun datang ke kantor Rudiat Wijaya grup, sejak tiga tahun yang lalu pindah lokasi ke gedung baru.


Kantor itu, meskipun perusahaan bersama milik orangtua mereka, Sarah tidak merasa berkepentingan ke sana, jadi tidak pernah berkunjung tapi pernah beberapa kali lewat saja.


Sarah sedikit tidak nyaman, jika nanti bertemu papanya, meskipun orang tua itu sebenarnya sedikit lunak dari mamanya, tapi tetap saja dia merasa serba salah. Apa lagi sejak insiden makan malam yang batal katena keributan soal pernikahan mereka berbulan-bulan yang lalu, di rumah orang tuanya.


Dia ingin minta maaf pada mereka suatu saat jika suasana sudah mereda, tapi sekarang bukan waktu yang tepat, apalagi Sally masih menyimpan rasa kesal dan marah pada dirinya terkait Raka. Bagaimanapun, sesakit apapun mereka memperlakukannya, dia tetaplah berterimakasih telah dibesarkan.


"Bu, kita sudah sampai..." Pak Ardi menyela lamunan Sarah yang beterbangan kesana kemari.


Di depan gedung itu, tertulis papan nama "Rudiat Wijaya Group" yang sangat besar.


Perusahaan di bidang property dan perhotelan itu di rintis kedua orangtua mereka berkembang dengan pesat, membuat setiap orang berdecak.


Tapi tidak ada yang tahu, goncangan yang terjadi dalam keluarga pemiliknya, diakibatkan sebuah pernikahan yang semula direncanakan untuk menyatukan perusahaan itu menjadi lebih solid, ternyata bisa mengancam sebagai perpecahan.


"Mari..." Suara Pak Ardi mengejutkan Sarah, lalu berjalan dengan mengikuti langkah sopir pribadi mertuanya itu.


"Selamat siang, bu eh kak Sarah..." Dea tampak sudah menunggu di Lobby. Dengan lega pak Ardi pamit kembali, saat melihat Dea, asisten pribadi Raka menunggu dengan sumringah.


Beberapa karyawan di lobby itu tak bisa menyembunyikan rasa terpana menatap ke arah Sarah, mereka baru saja mendengar sebuah nama yang sering mereka dengar di sebut tapi tak pernah benar-benar bertatap langsung.


"Ibu Sarah."


Nama itu sering di sebut-sebut sebagai istri salah satu boss muda mereka yang tampan


Di ceritakan sebagai perempuan yang cantik dan anggun, yang sanggup membuat boss mereka itu pulang dalam seminggu dan meninggalkan sekolahnya demi sang istri.


Dan sekarang mereka merasa semua rumor itu tidak berlebihan, Ibu boss muda mereka itu benar-benar cantik.

__ADS_1


Sarah menganggukkan kepalanya dengan menyunggingkan senyum membalas sapaan yang bertubi-tubi mampir kepadanya.


"Apakah tidak sebaiknya, aku menunggu di lobby?" Sarah bertanya dengan bimbang pada Dea.


"Pak Raka meminta aku mengantar kak Sarah ke ruangannya sekarang, dia menunggu."Jawab Dea sambil menggiring langkah Sarah menuju lift.


"Dia kan lagi ada tamu?"Sarah mengerutkan keningnya.


"Pak Raka mintanya begitu."Sahut Dea, fengan mimik seolah tak berdaya, dia hanya di bawah perintah bossnya.


Dea menekan lantai 10. Lift segera bergerak naik.


"Ruangan papa di lantai berapa?" tiba-tiba Sarah bertanya dengan nada rendah dan ragu.


"Kantor pak Wijaya di lantai 12, satu lantai dengan ruang pak Rudiat." Jawab Dea.


Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya dan menatap dinding lift tanpa suara. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin bertemu, tapi dia tidak ingin memperkeruh suasana sekarang.


Pintu lift terbuka, Sarah mengikuti langkah Dea menuju sebuah ruangan.


Dea tampak tidak perlu mengetuk atau memberitahukan kedatangan mereka, tangannya langsung menekan gagang pintu, sesaat kemudian pintu itu terbuka lebar. Sebuah ruangan kantor mewah besar.


Raka duduk di kursi kerjanya menghadap meja seperti sedang mencermati sebuah proposal, seseorang duduk di kursi sofa tamu, membelakangi pintu.


"Hai, Sayang..." Raka berdiri segera menyongsong Sarah, memeluk dan mencium istrinya seolah-olah tidak sungkan dengan tamu yang membalikkan badan dengan wajah tak kalah terkejutnya dengan Sarah saat mereka bertemu pandang.


Sarah tercekat dalam dekapan suaminya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dia sangat mengenal wajah laki-laki yang kini segera berdiri tergesa dengan kaku dari duduknya, menatap kepadanya dalam sejuta makna.


(Yea...siapa dia? ayok mari tebak di komen🤭🤭 Readers tersayang tetap kepoin novel ini, ya...othor kasih kejutan buat pembaca setia Sarah-Raka. Episode selanjutnya, pasti lebih seru😅)


Jangan lupa vote, like, komen, dan semua bentuk dukungan buat novel ini yaaa🙏 Lope-lope sekebon nusantara buat semua readers kesayangan❣️❣️



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...

__ADS_1


__ADS_2