
"Kenapa baru sekarang mencariku?" Tiba-tiba Sarah memecah sunyi, dengan nada datar dan tatapan yang begitu tajam, pertanyaan itu menghujam sampai ke ulu hati.
Ayah Sarah tak bisa menjawab bibirnya kelu sekelu hatinya mendengar pertanyaan yang begitu menghakiminya itu.
"Apakah aku terlalu buruk untuk menjadi seorang anak, sehingga seorang ayah meninggalkannya seperti barang yang tak berguna?"
Sarah mengerjap matanya yang bulat berkaca itu, dia menyadari bulir bening yang tiba-tiba turun dari sudut matanya.
Ayah Sarah menundukkan wajahnya, dia tidak sanggup melihat mata yang berembun itu.
"Bolehkah aku ingin tahu, kenapa tiba-tiba mengingatku setelah sekian lama?" Suara Sarah semakin parau.
"Aku minta maaf..." Hanya itu kata yang bisa di ucapkan oleh ayah Sarah, dia tak punya jawaban untuk semua pertanyaan anak perempuannya yang telah begitu dewasa ini.
Wajah Sarah sangat mirip dengan ibunya, Viani.
Dia ingat, saat malam penuh petaka itu, Viani istrinya seorang guru SD yang bertugas di daerah pinggiran kota, dekat dengan perkampungan kumuh.
Dia menikah dengan Viani memang tidak direstui oleh keluarganya, mengingat Viani hanya seorang guru honor.
Wijaya papa angkat Sarah, lebih menentang lagi, karena menurut kakaknya itu mereka sangat tidak sepadan. Winarta dari keluarga yang cukup berada, sudah di gadang-gadangkan untuk menikahi sepupu Mytha, istri Wijaya yang merupakan CEO anak perusahaan milik keluarga orang tua mama angkat Sarah pada waktu itu.
Kaburnya Winarta dari rumah bersama perempuan kampung itu tentu saja menyulut kebencian yang tak terhingga dari keluarga mama angkat Sarah, terlebih sepupu mytha itu sangat menyukai Winarta, yang saat mudanya itu sangat tampan luar biasa. Dia memang hanya bekerja sebagai asisten kakaknya, Wijaya tapi sangat supel dan menarik, terlebih bagi kaum hawa.
Karena ketampanannya itu, dia menjadi sedikit nakal dan playboy, dia memacari perempuan dari kalangan kaya silih berganti, jika bosan maka ditinggalkannya.
Banyak perempuan malah rela menyerahkan diri meski kadang Winarta tidak menyematkan status apa-apa pada mereka.
Sampai pada suatu ketika, mungkin seorang cassanova pun mempunyai titik jenuhnya sendiri, seorang perempuan sederhana bernama Viani, berprofesi seorang guru berhasil menahlukkan hati Winarta pada suatu pertemuan tak sengaja saat Winarta ke bandara mengantar Wijaya kakaknya.
__ADS_1
Dia bertabrakan tak sengaja dengan Viani, saat tergesa menuju parkir. Gadis itu baru saja akan pulang karena mengantar barang yang ketinggalan milik paman dan bibinya, tempatnya tinggal waktu itu.
Cinta bersemi antara mereka, begitu saja. Viani begitu polos dan berbeda dari gadis-gadis yang dikenalnya bahkan perlu dua bulan Winarta mendekatinya, usaha yang sangat keras bagi seorang playboy, mengingat track recordnya sebagai sang penahluk.
Meski akhirnya mau di pacari oleh Winarta setelah dua bulan Winarta, Viani tak pernah berhasil dirayu oleh laki-laki itu untuk mau tidur bersamanya, seperti kebanyakan pacar-pacarnya sebelum itu.
Prinsif hidup, kebaikan dan kesederhanaan Viani membuat Winarta sang cassanova itu berlutut. Dia rela melakukan apa saja demi Viani meskipun ditentang keras oleh pihak keluarganya
Winarta akhirnya nekad membawa lari Viani demi bisa menikahinya, dia rela hidup seadanya demi gadis yang sangat dicintainya itu.
Hidup di pinggiran kota, daerah perkampungan pada rumah kontrakan yang sempit, suatu pengalaman yang baru dan luar biasa. Viani mengajar sebagai guru SD di sebuah sekolah kecil, dengan honor pertiga bulan, jikapun gajihan tiba hanya cukup untuk membayar kontrakan yang kadang nunggak.
Winarta sendiri bekerja serabutan, apapun yang bisa menghasilkan uang karena dia berhenti dari perusahaan sang kakak. Pelariannya itu memutuskan semua hubungannya dengan keluarganya.
Tapi bersama Viani dia merasakan kebahagiaan yang berbeda, betapa nikmatnya mensyukuri sepiring nasi berdua dengan lauk sayur seadanya, dimana dulu untuk sekali makan di restoran dia bisa menghabiskan uang yang cukup untuk membayar kontrakannya setengah tahun.
Itulah hidup, semua orang akhirnya berjalan pada pilihannya sendiri, kenyamanan bagi segelintir orang kadang bukan berbicara tentang harta yang melimpah, makanan yang mewah atau baju bermerk, tapi cukup hanya dengan menikmati kekurangan dalam balutan cinta, itu adalah anugerah.
Dia sedang di puncak dan Viani tinggal di rumah dengan kehamilan yang menghitung hari
untuk lahiran.
Naasnya, Viani mengalami pendarahan, dengan diantar beberapa tetangga ke klinik terdekat, Sarah lahir dengan selamat meski dengan berat badan rendah dan perlu di inkubasi karena sempat kekurangan oksigen akibat terlilit tali pusar tapi Viani koma karena kehilangan cukup banyak darah.
Winarta tiba, saat sang istri sudah tak sadarkan diri. Dalam kesedihan dan tak cukup uang dia membawa Viani ke rumah sakit swasta besar, berharap Viani akan selamat dengan perawatan nomor satu.
Satu-satunya yang bisa dilakukannya meminta bantuan sang kakak, Wijaya.
Dalam perawatan itu memakan biaya yang tak sedikit, mengingat banyak peralatan yang digunakan untuk menopang Viani demi tetap bernafas.
__ADS_1
Begitupun Sarah yang saat itu belum mempunyai nama harus dirawat intensive di dalam inkubator, sehingga tagihan dari rumah sakit swasta itu tak sanggup di bayar oleh Winarta, meski akhirnya seminggu kemudian Viani meninggal meskipun tanpa sempat terbangun dari komanya dan tak sempat mengucap satu patah katapun pada suami yang mencintainya itu.
Sekali lagi, hanya pada kakaknya Wijaya lah dia berharap bantuan.
Tapi, Mytha istri Wijaya yang belum punya anak setelah empat tahun pernikahannya meminta Winarta menulis surat di atas meterai sebelum bersedia membayar semua perawatan istri dan anaknya itu.
Yang pertama, anak itu harus diserahkan di bawah pengasuhan Mytha dan yang kedua, apapun yang yang terjadi Winarta tak boleh muncul lagi. Maka bayi Winarta akan di asuh dengan baik dan di jamin hidup dalam kecukupan tanpa kekurangan.
Hari itu, masih teringat di kenangan ayah Sarah, hari begitu mendung di ruangan rumah sakit, di depan bayi yang dipeluknya erat, terbujur kaku sang istri yang telah dilepaskan dari semua alat-alat medis. Winarta menangis terisak, meratapi nasibnya di depan dua orang yang dicintainya.
Viani telah meninggal, gadis lugu yang merubah hidupnya itu telah tiada. Yang ditinggalkannya seorang bayi perempuan mungil, semua sejarah tentang ayah dan anak itu harus di hapus sejak hari itu.
Mytha mengadopsi bayinya itu tanpa boleh memberi nama, semua skenario setelah itu adalah apa yang dirancang oleh Mytha, mama angkat Sarah. Termasuk, jika dia meninggalkan Sarah karena rasa benci kepada anak yang telah membuat istrinya meregang nyawa itu.
"Kenapa seorang ayah tega meninggalkan anaknya sendiri?" Pertanyaan Sarah menyadarkan ayahnya itu.
Winarta mengangkat wajahnya, dua bulir bening jatuh di sudut matanya yang sedikit berkerut.
"Karena ayah itu terlalu mencintai anaknya..." Bisiknya gemetar.
(opsss...bagaimana kisah pertemuan dua ayah anak ini, dalam latar yang cukup menguras emosi...ikuti lanjutannya, yaaa🙏😊)
Buat para readers yang komen papa Winarta ini sekseh, beliau memang tampan, mantan cassanova sih, jadi visualnya ala-alat hot daddy gitu😅😅😅
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all❤️...