Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 94 MENUNTASKAN LUKA LAMA


__ADS_3

"Aku hanya ingin bicara sebentar." Tania berucap, terdengar sedikit lirih tapi begitu yakin.


Sarah perlahan berbalik, menatap langsung pada mata teman lamanya itu.


Dia tidak berbicara sepatah katapun, tapi dia menunggu Tania melanjutkan kalimatnya. Hanya terpaku di tempatnya, membalas pandangan Tania tanpa berkedip.


"Aku benar-benar menyesal dengan yang pernah terjadi antara kita. Aku tidak enak kita bersikap seperti orang asing begini. Setidaknya, kita harus menunjukkan kita benar-benar pernah berteman." Tania sedikit tergagap berbicara, Sarah sepertinya benar-benar tidak menganggapnya ada.


"Oh....bagian mana yang kamu sesali? Mengenalku? atau menghianati persahabatan kita?" Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur, seperti sebuah nada penasaran yang tersimpan dari masa lalu.


"Ini sudah lima tahun, seharusnya kita sudah


melupakan kesalahan itu. Terlalu lama untuk menyimpan kemarahan dari masa lalu." Tania mendesis, sepertinya dia merasa bukanlah hal yang besar telah merebut kekasih temannya itu di masa silam, itu hanya permainan hidup baginya.


"Ya, waktu yang terlalu lama, seharusnya memang kita melupakannya." Sarah tersenyum kecil namun terkesan sinis.


"Aku minta maaf, Sar. Aku tahu kamu masih marah padaku." Tania menyela cepat.


"Aku sudah memaafkanmu Tania, bahkan sudah melupakan semuanya termasuk hampir-hampir bisa melupakanmu sebagai teman terbaik dan terjahat dalam hidupku. Aku tidak punya rasa marah lagi untuk kejadian yang telah lewat tapi aku berhak memilih berhati-hati dalam bersikap, karena kamu mengajariku untuk waspada terhadap siapapun, bukankah begitu?"


"Tapi setidaknya di depan bosku dan suamimu, kita bisa bersikap sedikit hangat. Aku mohon..."Wajah Tania begitu memelas.


"Kamu meminta maaf hanya untuk itu? Hanya supaya aku bersikap ramah di depan mereka? Aku sudah cukup baik untuk diam daripada aku berbasa basi padahal tak sejalan dengan perasaanku."


Sarah menatap tajam kepada Tania, sementara yang di tatap nampak salah tingkah.


"Bukan begitu, Sar. Maksudku, kita setidaknya berbicara seperti normalnya orang saling mengenal saja."


"Oh, apakah kamu bisa memulai dengan memberi contohnya bersikap normal? Apakah aku harus lebih dulu menghiba-hiba di depanmu, memamerkan keakraban kita?"


Seorang perempuan setengah baya masuk ke ruangan itu dan tampak risih melihat ketegangan dua perempuan itu.

__ADS_1


Sarah segera menyadari, ini adalah tempat umum, sangat tidak sopan jika meneruskan pembicaraan di situ.


"Terserah kamu sajalah. Aku tidak bisa menjanjikan sikap yang lebih baik dari sekarang. Kamu tentu mengenalku lebih baik, bahwa aku bukan type orang yang suka berpura-pura." Sarah menyudahinya dengan mengambil tas tangannya dari meja wastafel, lalu berjalan melewati Tania keluar dari pintu.


"Sarah!" Tania menyusul keluar sambil menarik tangan Sarah.


"Bukan salahku Egi memilih aku dari pada kamu!"


Sarah berbalik, menatap Tania dengan tatapan heran.


"Egi tidak bahagia denganmu, dia merasa kamu terlalu kaku dan tidak menarik..." lanjut Tania setengah tercekat.


"Jangan salah paham dengan sikapku, Tania. Aku tidak bersikap begini karena masih menyimpan perasaan pada si sialan Egi itu! Aku hanya tidak pintar berpura-pura, lain di bibir beda di hati!" Pertama kali Sarah mengumpat dengan kesal.


"Egi memilihku, karena lebih bisa memahami perasaannya. Kamu terlalu membuka jarak, katanya berpacaran denganmu terasa seperti teman, kamu tidak pernah bersikap mesra padanya layaknya seorang pacar." Tania sepertinya berusaha nenjelaskan untuk membela dirinya.


"Aku tidak mempermasalahkan siapa memilih siapa! Aku hanya mempertanyakan kenapa seorang teman yang sangat kupercayai mengkhianatiku. Itu saja! Jadi, jika memintaku bersikap normal di depan semua orang saat berhadapan denganmu, pastinya perlu waktu. Selebihnya aku telah memaafkanmu dan melupakan semuanya. Apakah kita bisa sepaham tentang ini?" Sarah berucap dengan volume suara rendah.


Sarah memang tak pernah banyak bicara, tidak banyak orang yang bisa membuat Sarah merasa nyaman dan dekat.


"Jika kamu berada di posisiku, apakah kamu bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa saat bertemu? Aku mempercayaimu tidak hanya dengan hati bahkan dengan separuh hidupku, kemudian kamu pergi begitu saja bersama orang terdekatku. Lalu ketika bertemu, kamu berharap aku mencium dan memelukmu? Apakah itu tidak terasa aneh?"


"Aku hanya meminta, jangan persulit pekerjaanku dengan sikapmu."Pinta Tania, raut mukanya sedikit terintimidasi dengan sikap Sarah.


"Aku mempersulitmu...? bukankah aku tak berbicara apapun sedari kita bertemu tadi? Kapan aku mempersulitmu?"


"Kamu tetap akan menyetujui proyek ini kan? Aku benar-benar sedang membutuhkan fee nya, dan untuk menanganinya pak Agra sudah mempercayakan Egi. Kami berdua memerlukan dana untuk membayar apartemen kami."


Tania sedikit memelas.


"Kalian sudah menikah?" Tanya Sarah dengan penasaran.

__ADS_1


"Kami berencana menikah tahun depan," Jawab Tania datar, tanpa sedikitpun merasa salah dengan apa yang telah dilakukannya.


"Kalian sudah tinggal bersama tanpa menikah?" Sarah mengernyit dahinya.


Tania tidak menjawab, matanya menatap Sarah dengan penuh harap.


"Aku harap kalian segera menikah, tidak baik tinggal bersama tanpa ikatan. Untuk urusan keberlangsungan proyek pembangunan ini, tidak semuanya pada keputusanku, suamiku juga punya andil. Selebihnya, aku sudah tak mempermasalahkan apapun denganmu Tania.


Aku mendapatkan suami yang di atas segala-galanya dibandingkan pecundang yang telah meninggalkanku bahkan tanpa kata apa-apa." Sarah menyunggingkan selarik senyum.


Dia merasa kelasnya jauh di atas Tania, tidak perlu membuang waktu untuk sakit hati pada orang yang tidak penting.


Sarah memiliki pernikahan yang bahagia, suami yang sempurna, keluarga baru yang paling baik. Dibandingkan Tania, sungguh dia telah begitu beruntung.


"Aku menganggap semua yang telah berlalu, tidak perlu kita bahas lagi. Aku memaafkanmu, meski kita mungkin tak bisa mengulang pertemanan yang sama seperti dulu. Semoga kamu bahagia dengan siapapun kamu memilih hidup." Suara Sarah terdengar tenang.


Ditepuknya bahu Tania dengan lembut, seolah melepaskan semua sakit hati yang dipendamnya sendiri begitu lama pada sahabatnya itu.


"Aku benar-benar telah memaafkanmu." ucap Sarah lugas, sebelum dia berbalik pergi, meninggalkan Tania yang termangu di tempatnya berdiri.


Merebut kebahagiaan orang lain selalu ada harga yang harus dibayar. Mereka tidak pernah benar-benar menang, tapi hanya menikmati sesaat euforia bahagia yang palsu, selebihnya hanyalah mengenyam remah-remah karma.


Raka tercenung, saat keluar dari toilet pria, tak sengaja mendengarkan pembicaraan dua wanita itu. Betapa anehnya perasaannya, saat merasa tak rela Sarah pernah mencintai oranglain selain dirinya dan rasa sedih yang menyeruak, melihat istrinya itu begitu banyak menerima luka dan air mata, tidak hanya dari keluarganya tapi dari teman dan orang-orang di dekatnya.


(Terimakasih semua readers, kalian adalah best inspirations untukku. Tentang Tania, mungkin kita akan bertemu di beberapa episode selanjutnya ya, tetap tahan gondoknya, percaya saja cinta mereka lebih kuat setiap menerima banyak ujian☺️ Naik kelas selalu perlu test, cinta yang kokoh pasti bisa melewati semuanya. Hanya saja, cara melewatinya, mungkin kita perlu belajar dari Sarah dan Raka😅)


Vote senin besok jangan lupa buat Sarah dan Raka ya, biar author semangat menulis, kita akan bertemu dengan dokter Yogi di episode selanjutnya, dan sang dokter akan jatuh cinta pada pandangan pertamanya berkat Sarah😅



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...


__ADS_2