
"Dia baru saja tiba di Leiden dan menghubungiku tadi karena menanyakan alamatmu. Dia menyimpan nomor kontakku, karena kita pernah bertemu saat di jerman dulu, kamu memperkenalkan dia sebagai tunanganmu waktu itu."
Raka terperangah sesaat, mendengarkan keterangan dari Willem. Dia hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Sally?"
"Yes, Sally. Sekarang aku sudah di depan pintu apartemenmu. Sepertinya dia sangat ingin bertemu denganmu."
Raka tak bisa berkata apa-apa dan tak tahu harus berbuat apa.
Semua begitu mendadak dan tak terduga.
Telpon itu di matikan berganti dengan bunyi bell pintu yang berbunyi setelahnya.
Raka masih memegang ponsel di tangannya, lalu dengan langkah sedikit bingung dia menuju pintu dan membukanya.
Willem berdiri di sana dengan raut yang juga tak kalah bingungnya.
"Dia mencarimu."Ucap Willem dengan sedikit tak enak, dia sangat tahu tentang kisah cinta Raka, bahkan dia juga tahu temannya itu telah menikah dengan kakak tunangannya.
Mengantarkan Sally ke apartemen Raka tentu saja bukan hal yang benar, tapi dia tak bisa menolak saat gadis yang kini berdiri di belakang punggungnya dengan sebuah koper kecil begitu memohon untuk di antarkan pada Raka.
Sebagai sahabat baik Raka, dia mengenal Sally, saat Raka dan dia masih bersekolah di Jerman.
Beberapa kali gadis yang berstatus tunangan Raka waktu itu datang mengunjungi Raka di Jerman. Sally adalah gadis supel yang menyenangkan.
Willem masuk melewati pintu dan memberi jalan kepada Sally untuk masuk.
Sally, dengan celana jeans dan atasan putih model ruffle, tampak manis meskipun wajahnya terlihat sedikit kuyu. Tangannya memegang gagang koper dengan kuat, Poninya menutupi sebagian alisnya, dan mata yang bening itu mengerjap kepada Raka, penuh harap.
Raka berdiri di tempatnya seperti membeku, menatap lurus pada gadis yang dulu pernah begitu dekat dengannya itu.
"het lijkt erop dat ik moet gaan (sepertinya aku harus pergi)." Willem menepuk bahu Raja, memberi kesadaran pada temannya yang masih terpana.
Lalu tanpa banyak bicara, Willem menuju pintu, menutupnya dengan tergesa.
Dia sungguh tak ingin terlibat dengan kisah cinta Raka yang menurutnya begitu rumit.
Menolong orang yang meminta itu adalah kewajiban, dia tak mungkin membiarkan seorang perempuan yang jauh-jauh datang ke Leiden untuk menemui seseorang, terlantar begitu saja.
Untuk apapun masalah di belakangnya, Willem tak tahu menahu. Dia hanya melakukan apa yang harus di lakukan sebagai teman.
"Sally?"
Raka memandang gadis di depannya itu dengan masih tak bisa menyembunyikan rasa terkejut.
__ADS_1
"Raka...." Sally melepaskan gagang koper yang melekat di genggamannya.
"Kenapa kamu datang kemari?" Suara Raka bergetar, begitu dingin.
"Aku ingin bertemu denganmu." Sarah menjawab dengan berani, dia melangkah maju.
Dan dengan refleks Raka mundur beberapa langkah ke belakang.
"Aku tak menyangka kamu menjadi senekad ini." Betapa tak menyenangkan suara yang keluar dari bibir Raka, membuat Sally menghentikan langkahnya.
"Aku bisa melakukan apapun untukmu, karena kamu masih adalah tunanganku." Sally menyahut, sedikitpun dia tak menunjukkan sikap malu.
"Sally, kita tidak lagi orang yang memiliki hubungan, sejak aku menikah dengan Sarah. Kamu bukan siapa-siapa bagiku."
"Kamu masih tunanganku!"
Sally mengangkat tangannya menunjukkan punggung jemari kirinya, di mana pada jari manisnya melingkar sebuah cincin pertunangan yang pernah disematkan Raka lima tahun yang lalu.
Raka menatap jemari itu dengan tatapan yang tajam menusuk. Sekelebat semua kenangan masa lalu lewat di depannya, seperti sebuah bayangan yang berlarian.
"Apa istimewanya cincin itu, Sally?" Raka berucap tanpa menunjukkan reaksi apa-apa.
"Apakah cincin itu membuatmu merasa berhak datang kepadaku? apakah cincin itu lebih tinggi nilainya dibanding cincin yang sekarang ku kenakan?" Raka mengangkat tangan kanannya bahkan lebih tinggi dari wajahnya. Di jari manisnya, melingkar sebuah cincin pernikahan, pasangan cincin yang sekarang dikenakan oleh Sarah.
"Apakah kamu benar-benar telah melupakan aku?"
"Apakah mengingat orang yang telah menyakitiku begitu penting? Aku tidak berharap sama sekali bertemu denganmu, dengan alasan apapun." Raka menjawab sambil mundur satu langkah lagi, seolah ingin menjauhi Sally.
"Kau bohong!" Sally berteriak setengah menghardik.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku, aku tahu kamu menikahi Sarah karena terpaksa. Kamu hanya berpura-pura mencintainya, supaya aku cemburu kan. Kamu hanya balas dendam kepadaku!" Lanjut Sally, wajahnya memerah.
"Kenapa aku harus berbohong jika aku mencintai Sarah?"
"Karena aku cinta pertamamu! Aku tahu itu."
"Sally, ternyata kamu tidak pernah dewasa." Raka menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dan selama ini kamu benar-benar tak mengenal diriku dengan baik. Mungkin aku pernah begitu menyukaimu, begitu sayang padamu tapi...tak ada perasaan yang akan bertahan setelah menerima pengkhianatan. Apakah perasaan itu tetap sama, saat kamu melemparkan dirimu pada laki-laki lain?
Jangan menilai dirimu begitu tinggi, kamu bahkan kehilangan harga dirimu sejak lama. Di masa lalu mungkin aku tak pernah benar-benar mempermasalahkan kesalahan kecil yang pernah kamu lakukan selama kita bersama.
Tapi aku juga bukan batu yang selalu diam, untuk menyenangkan hatimu."
Raka menatap tajam pada Sally, menikam sampai ke jantung perempuan cantik yang sedikit lebih pucat dan kurus dari sebelumnya itu.
__ADS_1
"Setiap orang mempunyai batasan toleransi, dan aku telah cukup bersabar untukmu, jangan memaksaku menunjukkan sebesar apa sesungguhnya kebencianku padamu.
Jika bukan karena mengingat Sarah, aku mungkin telah menyerapahimu sebanyak-banyaknya dengan kata terburuk yang aku punya.
Sayangnya, kakakmu itu meskipun sekejam apapun kamu memperlakukannya tetap saja begitu menyayangimu, sehingga aku tak bisa melakukan hal yang mungkin membuatnya sedih." Raka tersenyum sinis.
"Kamu mencintaiku..." Sally mendesis, matanya berkaca-kaca dengan raut begitu putus asa.
"Aku mungkin mencintaimu dulu! Tapi hari ini dan kemarin adalah waktu yang berbeda. Aku mencintai orang lain, yang memperlakukan aku dengan baik dan menghargaiku. Aku mencintai kakakmu, Sally. Satu hal yang mungkin harus ku syukuri dari banyak luka yang telah kamu beri padaku adalah memberikan Sarah sebagai penggantimu. Dia seribu kali lebih baik dari dirimu!" Raka menatap Sally seperti es batu, tanpa perasaan.
"Aku sangat merindukanmu, aku baru menyadari aku mencintaimu."
"Sesuatu akan terasa berarti saat telah hilang. Aku tak mempunyai kesalahan padamu, kamu yang mencampakkan aku dan memilih pergi! Mengapa kamu tidak bisa melihat bagaimana dirimu merendahkan dirimu sendiri. Tidakkah kamu mempunyai sedikit rasa malu?"
"Raka, maafkan aku...aku berjanji akan setia kepadamu setelah ini, seumur hidupku." Sally begitu memelas, memandang Raka dengan matanya yang sembab.
Raka berjalan ke arah Sally, hingga mereka hanya berjarak sedepa.
"Apakah kamu benar-benar menginginkan aku memaafkanmu?" Raka mencondongkan wajahnya, begitu dekat dengan wajah Sally.
Sally menganggukkan kepalanya, air matanya meleleh di pipinya, berkilau di bawah cahaya lampu.
"Aku memaafkanmu, jika kamu berjanji tidak pernah lagi menampakkan wajahmu di depanku dan Sarah! Selamanya!" Raka berucap dengan suara yang begitu dalam dan berat, sarat dengan rasa jijik dan amarah yang di tahan begitu rupa.
Lalu dengan langkah yang panjang, Raka berjalan ke arah pintu, membukanya lebar-lebar,
"Pulanglah, aku akan meminta Beatrix menjemputmu dan mengantarmu ke hotel terdekat. Itulah hal terbaik yang bisa ku lakukan padamu, sebagai seorang kakak ipar yang baik."
Raka berdiri seperti seorang penjaga pintu, menunggu Sally beranjak dan keluar melewati pintu apartemennya.
Sally membeliak kepada Raka, tak pernah menyangka Raka bersikap begitu keras padanya. Dia mengira, saat dia tahu Raka kembali Leiden dan dia menyusulnya, maka mantan tunangannya itu akan luluh dan kembali tergoda memeluknya.
Sayangnya, dia telah salah menilai Raka yang lembut dan penurut itu, dia bahkan mengantar dirinya jauh-jauh melintasi benua hanya untuk dipermalukan.
"Keluarlah! aku harus menelpon istriku sekarang, aku tidak ingin membuatnya menunggu."
Mata Sally berkilat menatap Raka, menyiratkan sakit hati dan seribu dendam.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1