
Sarah langsung memeluk Raka, begitu keluar dari ruang dokter Pram.
Raka tidak berbicara, hanya memeluk Sarah dengan erat, membiarkan istrinya itu menangis di dadanya.
Seorang suami yang baik tahu, kapan harus menyediakan dadanya bagi sang istri.
Karena ada kalanya kata-kata tak bisa meredakan kesedihan. Hanya sebuah pelukan yang diperlukan untuk sekedar mengurangi beban
Ya, mereka berdua telah mendengar, tak banyak hal yang dapat dilakukan, kecuali berusaha dan berdoa.
Sel Kangker telah menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu singkat bahkan di area hati ada sel kangker sebesar kepingan koin di beberapa tempat.
"Sel-sel kangker sepertinya telah menyebar ke beberapa organ tubuh bahkan sepertinya hampir ada di semua jaringan pasca operasi pergantian engsel bapak. Kita menstabilkan dulu kondisi bapak, setelah itu secara bertahap kita upayakan khemoterapy. Ini hal yang bisa kita lakukan untuk menghambat sel kangker ini."
Itu ucapan Dokter Pram, tapi Raka tahu, seorang dokter mungkin hanya berusaha membangun optimisme keluarga pasien tapi mungkin yang bisa dijanjikan untuk keberhasilan menuju sembuh sangat tipis.
"Saat ini, jika ingin membawa bapak pulang sementara, lakukan saja, apapun yang bisa menyenangkan hatinya, itu baik untuk pemulihannya. Dan semakin mungkin kita melakukan perawatan lebih lanjut jika kondisi tubuhnya memungkinkan. Kunci kesehatan bukan hanya bergantung pada obat tetapi pada kebahagiaan, kegembiraan dan semangat pasien sendiri."
Di telinga Sarah itu hpir seperti kalimat menyerah yang di ucapkan secara halus. Ayahnya benar-benar mengalami penyakit yang parah. Dan Sarah sebagai anak merasa sangat tidak berdaya.
"Dokter pernah bilang, bisa di lakukan transplantasi sumsum untuk ini, saya bersedia menjadi donornya. Saya anaknya...anak kandungnya..."Sarah berkata dengan raut memohon di depan dokter Pram.
"Kita usahakan secara bertahap bu, ya...untuk transplantasi sumsum tulang ini adalah prosedur penggantian sel-sel abnormal yang ada di sumsum tulang dengan sel-sel sumsum tulang sehat, memang bisa di ambil dari Sel stem cell pasien atau stem cell donor. Tapi tetap akan kita lihat kecocokannya dan juga kondisi pasien yang akan menerima transplantasi. Ibu, kami harap bersabar dulu..."
"Apakah ayahku akan baik-baik saja?"
Dokter Pram terdiam, dia seperti begitu selektif memilih kata-kata.
"Kita usahakan bersama."
__ADS_1
"Berapa waktu ayahku?" Suara Sarah begitu gemetar, itulah pertanyaan yang sesungguhnya, yang ingin di tanyakan walaupun kebenaran jawaban yang mungkin harus di dengarnya, dia sendiri hampir tak punya keberanian mendengarkan.
Dokter Pram menghela nafasnya dan menatap Raka dan Sarah secara bergantian.
Dia sungguh tak ingin menghancurkan hati orang lain tapi memberi harapan kosong tentu saja menjadi tidak adil untuk orang yang sedang berharap banyak.
Raka memegang tangan Sarah sepanjang dokter Pram membacakan foto hasil CT SCAN dan menjelaskan dengan begitu rinci. Mendengar hal sesulit ini bukan hal yang remeh, karena yang mendengar pasti merasa dia hidup tapi hatinya hancur.
"Waktu kita tak banyak..." Ucap Dokter Pram akhirnya.
"Tapi kita bisa membuat waktu yang tak banyak itu menjadi berarti jika kita bisa selalu menghibur dan menguatkannya. Berada di sampingnya dan membuatnya hanya memikirkan hal yang menyenangkan akan membuatnya lebih baik."
Sarah dan Raka tahu, kalimat terakhir itu adalah vonis bahwa ayah Sarah hanya punya sedikit waktu.
"Aku takut..." Sarah menangis entah untuk kali keberapa di dada Raka.
Raka menepuk bahu sang istri dengan lembut, pelukan itu begitu hangat.
"Kenapa semua harus terjadi pada aku dan ayah...?" Sarah terisak. Dia tahu usia ayahnya tak akan lama.
Raka membimbing Sarah duduk di sebuah kursi di sudut ruangan. Dia tidak ingin kembali ke ruangan ayah Sarah dengan membawa Sarah dalam keadaan begitu hancur dan sedih.
"Aku tak akan bilang jangan takut untuk sekarang, karena situasinya sungguh tak mudah. Aku tak bisa bohong merasakan perasaan yang sama. Tapi setidaknya, untuk saat ini kita bisa saling menguatkan." Bisik Raka di telinga Sarah.
"Kenapa semua hal buruk semuanya terjadi menimpaku? Apakah dosa dan salahku?" Sarah menggigit bibirnya yang pucat gemetar.
"Sayang, dengarkan aku..." Raka memegang tangan istrinya itu dengan lembut.
"Kadang hidup terasa sangat tidak adil pada kita, tapi jangan membuat kita mempertanyakan Tuhan untuk setiap hal yang kita alami entah itu musibah atau kecelakaan. Bukan...bukan karena kita bersalah atau jahat tapi karena kadang kala hal burukpun terjadi pada orang baik."
__ADS_1
"Tapi...aku bahkan tak boleh merasa bahagia sebentar saja. Aku baru bertemu ayah, tapi kenapa Tuhan seolah ingin merenggutnya dengan cepat dariku?" Sarah memejam matanya, rasa sakit itu meruah dalam dadanya yang sesak. Berusaha menahan tangisnya.
"Tidak mengapa kamu kecewa, sayang...tidak salah jika kamu ingin menangis dan bersedih. Menangis saja, tidak apa-apa." Raka merengkuh bahu Sarah.
Ya, Sarah sedang merasa berada di titik terendah dalam hidupnya, tantangan hidup yang diterimanya begitu keras, menghantamnya bertubi-tubi. Hidupnya seolah berkejaran dengan air mata dalam beberapa hari terakhir.
"Sayang, mama pernah bilang, permasalahan demi permasalahan yang mungkin harus kita terima dalam hidup bukanlah sebuah hukuman tetapi pembelajaran. Kamu akan menemukan pelajaran di setiap ujian yang harus kamu lewati."
"Tapi ini sakit sekali, ini berat sekali..."
Setabah-tabahnya orang, sekuat-kuatnya manusia akan merasa takut terhadap kehilangan yang nyata di depan mata.
"Kehilangan orang satu-satunya yang kamu harapkan bertemu setelah sekian tahun, ketika kamu berhasil menemukannya dan ternyata kamu tak di beri waktu untuk sedikit lebih lama, itu terasa sangat sakit..." Bisik Sarah sambil meremas telapak tangan Raka.
"Sayang, percayalah...apapun yang terjadi nanti, itulah yang terbaik yang harus terjadi. Kamu harus kuat dalam setiap situasi sulit, karena jalan tak selamanya berlobang, ada masanya bertemu tempat yang rata. Cobaan ini akan segera kita lewati. Kuatkan hatimu, sayang. Ada aku, ada Rae, ada mama dan papa. Kita akan melewatinya bersama-sama, kamu tidak sendirian sayang."
Sarah menghapus sendiri air matanya, dia merasa hatinya menggelayar mendengar kekuatan yang di berikan oleh suaminya itu.
Tuhan selalu punya rencana, berbaik sangkalah kepada-Nya supaya kita dikuatkan. Tuhan maha tahu, Dia yang memegang kekuasaan, tak ada yang mustahil saat dia berkehendak. Dan setiap hal yang tergambar di depan mata, mungkin membuat kita takut tapi percayalah, kita akan memiliki kekuatan saat benar-benar berhadapan dengan titik itu. Memang tidak mudah tapi hadapilah dengan berani.
(Mak othor rencana double UP ya hari ini...ingin segera melewati part yang sedih dan bertemu lagi dengan part-part bahagia🥺 Tetap bersama Raka dan Sarah, yaaaaa🙏🥲 kita bersama-sama belajar menjadi kekuatan bagi pasangan kita dari kisah cinta mereka 💗💗)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1