Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 86 HIDUP ADALAH PILIHAN


__ADS_3

"Sayang....bagaimana kalau Dea mengantarmu ke sini?" pertanyaan sedikit putus asa itu, membuat alis Sarah berkerut.


"Hey, sayang...ini belum sehari." Sarah tertawa, melihat Raka yang mendadak bersikap begitu lebay.


"Tapi bagaimana ini? Ragaku di sini tapi hatiku di sana."Keluh Raka.


"Kemarin siang, yang bilang ini cuma sebentar siapa?" Sarah mengingatkan, meski dia sendiri tak bisa mengatakan dia juga seperasaan sekarang dengan sang suami.


"Iya, aku lupa ini cuma sebentar..." Raka terkekeh, menertawakan dirinya sendiri.


"Apa kabar babyku? Dia tidak rewel pagi ini? dia tidak merepotkan mommynya kan?" Raka bertanya kemudian, mengalihkan pembicaraan.


"Merepotkan bagaimana?" Sarah mengernyit dahinya.


"Kamu tidak dibuatnya mual-mual kan pagi ini?"


"Sepertinya tidak ada tanda-tanda mual pagi ini, dia mungkin bertingkah kalau ada papanya." Sarah tertawa.


Raka merengut, mendengar candaan istrinya itu.


"Dia memang anak pintar, menurut sama pesan papanya."


"Memangnya, papanya pesan apa sih?"


"Tidak boleh merepotkan mamanya."


"Terus apa lagi?"


"Tunggu papanya pulang, tidak boleh nakal-nakal."


"Terus apa lagi?"


Raka terdiam sambil menurut sudut bibirnya ke bawah seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Terus...jaga mama, jangan sampai ada laki-laki genit melirik mamanya yang cantik."


Seketika semburat merona di wajah Sarah, pujian tak langsung itu membuat dadanya hangat dan tersipu.


"Eh, kenapa wajah sayangku ini memerah?"


"Papamu memang suka menggombal, nak. Dulu...dia itu jago acting, lho. Jangan-jangan papamu ini lagi acting...." Sarah mengelus perutnya dengan tangan kiri seolah sedang berbicara dg perutnya.


"Eh, ini serius sayang, kamu cantik sekali biarpun baru bangun tidur." Raka menaikkan alisnya dengan serius.


Sarah tersipu mendengarnya.


Memang kadang-kadang seorang istri butuh sedikit pujian atau sanjungan, untuk membuatnya bahagia karena itu membuktikan sang suami memperhatikan dan yang terpenting menambah kepercayaan diri istri.


Pujian yang tidak berlebihan mencerminkan dari hati, tapi jika terlalu berlebihan mungkin ada sesuatu yang ditutupi.


"Sudahlah tidak perlu menggodaku begitu."Sarah cemberut, seolah menolak pujian itu tetapi sesungguhnya hatinya sedang berbunga-bunga.


"Ayo, bangun sayang, mandi dan sarapan. Jangan lupa minum susu." Raka memperingatkan.


"Iya...iya...." Sarah menjawab sembari tersenyum riang pada Raka.

__ADS_1


"Nanti kalau aku sudah sampai leyden, aku telpon lagi."


"Iya...."


"Aku tutup dulu ya."


"Eh, tunggu dulu!" Tiba-tiba Sarah teringat sesuatu tapi kemudian piasnya mendadak ragu untuk meneruskan.


"Apa?"


"Em...."


"Hey, ada apa?"Raka menatap sang istri sambil menunggu Sarah berbicara.


"Aku bertemu seseorang di Bandara tadi siang."


"Siapa?" Dahi Raka seketika berkerut.


"Aku bertemu Bram." Sarah menjawab kemudian.


Sesaat raut wajah Raka menegang, tatapan itu begitu aneh, seolah hal itu cukup menganggunya. Tapi, laki-laki mana yang merasa senang mendengar nama laki-laki yang pernah membuatnya patah hati, karena merampas seseorang darinya bahkan mempermalukannya.


Harga diri seorang laki-laki itu setinggi gunung, dia tak akan rela kehormatannya di robek-robek oleh laki-laki lain dengan begitu rupa.


Ya, Raka benar-benar membenci Bram jika dia harus jujur, orang itu telah membuat harga dirinya sebagai laki-laki benar-benar terluka.


"Dan kamu berbicara padanya?" Pertanyaan Raka terdengar dingin.


"Ya, sebentar."


Raka tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang tidak suka dengan apa yang didengar oleh telinganya itu.


Sarah terdiam kemudian membuang wajahnya sesaat dengan jengah, merasa tidak nyaman.


Dia sadar, dia sekarang bukan orang yang bebas lagi, yang bisa berbuat sesukanya tanpa memperhitungkan perasaan Raka apalagi dengan orang yang terkait silang dengan suaminya itu.


Hanya saja, sebagai seorang kakak Sarah merasa perlu memperingatkan Bram.


"Aku hanya ingin memperingatkannya, supaya menjauhi Sally." Ucap Sarah pelan.


"Bram ataupun Sally, bukan lagi urusan kita. Mereka adalah orang-orang yang punya fikiran untuk diri mereka sendiri. Jangan memberi peluang diri kita untuk terlibat untuk hal-hal yang tidak perlu."


"Tapi, ini bukan soal Bram...ini soal Sally, biar bagaimanapun dia adalah adikku."


"Adik? Adik seperti apa yang tega berusaha menyakiti kakaknya sendiri?"


Sarah terdiam mendengar kalimat Raka yang terasa tajam.


"Aku tahu, hatimu terlalu baik, sayang. Terlalu tulus, sehingga kadang dirimu mengabaikan perasaanmu sendiri untuk orang lain. Itu baik, tapi tidak selamanya baik jika terlalu." Raka berusaha mengubah nada suaranya, melihat wajah Sarah yang seketika muram.


"Sayang, apakah aku salah? Aku minta maaf jika aku salah." Suara Sarah tersendat-sendat.


"Kamu tidak salah sayang, kamu benar telah bertindak benar sesuai nalurimu, tapi sedikit ceroboh jika menganggap itu perlu. Hanya saja, buka matamu lebar-lebar, mereka adalah orang yang sudah dewasa. Tidak perlu mendikte mereka tentang hal salah dan benar." Ucap Raka lembut.


Sarah menganggukkan kepalanya dengan perlahan, dia tidak merasa harus mengucapkan apa-apa.

__ADS_1


Seorang istri memang kadang-kadang pula perlu mendengarkan tidak harus mendebat, jika tidak perlu.


"Sayang, hidup adalah pilihan. Setiap pilihan selalu ada resiko di belakangnya. Mereka telah memilih. Berhentilah menunjukkan jalan saat orang itu sudah membelakangimu, karena dia tak akan melihat lagi arah jarimu."


Sarah terpesona pada suaminya ini, di balik semua sikap manjanya, dia adalah orang yang begitu dewasa.


"Sayang, aku mencintaimu...." Sarah tak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkannya.


Raka menaikkan alisnya tinggi-tinggi, mendengar kalimat itu. Rasanya, ucapan Sarah sedikit tidak nyambung dengan apa yang sedang dibicarakannya.


"Terimakasih sudah mengingatkanku." Sarah tersenyum lebar. Dia tidak perlu marah atau tersinggung, meski dia merasa niatnya baik untuk berbicara pada Bram, tapi tak selalu segala hal baik di mata pasangan kita.


Bertenggang rasa membuat segala sesuatunya lebih baik.


"Sayang, pergilah mandi. Makanlah sesuatu. Anakku sudah lapar. Kalau kita ngobrol sepanjang pagi begini, babyku itu bisa kelaparan." Raka terkekeh.


"Iya, sayangku, aku mau mandi dulu. Tidurlah, di sana belum pagi kan?"


"Okey, see you sayang."


"See you."


"I love you."


"I love you too."


Pagi itu terasa nikmat saat di awali dengan kata-kata cinta yang indah.


...***...


LEIDEN


Tiga hari di Leiden, Raka disibukkan dengan mengurus admistrasi dan daftar ulang awal semester baru.


Berada di kampus bukan lagi hal yang menyenangkan bagi Raka, karena selalu tak sabar untuk pulang ke Apartemennya.


Kalau tidak video call, maka dia akan mengganggu Sarah dengan chat. Yang di ganggupun tidak merasa berkeberatan.


Sore itu, Raka baru saja selesai mandi. Memanaskan semangkok huttspot untuk makan malam, tak sabar bersiap-siap menelpon Sarah.


Saat Ponselnya berbunyi,


"Hallo, Willem? Wat is het?"


"iemand wil je ontmoeten"


Raka mengernyit dahinya sedikit bingung,


"Seseorang ingin bertemu?" Dia mengulang seolah berusaha menerka, siapakah yang ingin bertemu dengannya sesore ini.


(Siapa ya😲😊😊 tunggu episode berikutnya yang bakal seru😆)



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...i love you all❤️...


__ADS_2