Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 105 MENYEMBUHKAN LUKA DENGAN CINTA


__ADS_3

Sarah memandang dengan melongo, semua pakaian bayi yang kini berada di lantai ruang keluarga, saat jasa pengantaran telah mengantar semua belanjaan mereka selama berjam-jam di mall siang tadi.


Dan yang paling membuatnya lebih takjub, rasanya hampir setengah dari isi toko baby fashion telah berpindah ke depan matanya.


"Sayang, ternyata sebanyak ini." Sarah menoleh pada Raka yang tersenyum riang, sementara mama begitu antusias melihat berbagai pakaian baby newborn yang ada di tangannya.


"Ya, sebenarnya agak terlalu banyak, karena pakaian newborn itu cepat sekali tak muat. Bayi pada bulan-bulan pertama sangat cepat menjadi besar." Kata mama menimpali.


"Akh, biar saja, ma. Biar anakku berganti baju sejam sekali." Raka berkelakar dengan sumringah. Sang mama hanya geleng-geleng kepala sambil menatap sang anak yang begitu bahagia.


"Suamimu ini antusias sekali, sayang." Ucapnya pada Sarah yang hanya tersipu dari tempat duduknya.


"Sarah sudah capek memilih-milih tadi di mall, dia masih saja semangat empat lima."


"Ya, Raka memang begitu." Mama terkekeh geli mendengarnya.


"Coba lihat, ini lucu sekali." Mama menunjukkan sebuah baju baby jumper berwarna biru dengan motif bergaris hitam putih dengan kepala honey bee di dadanya.


"Itu pilihanku, ma.keren, kan?" Sahut Raka dengan senyum bangga.


"Iya, ini baju separuhnya, warna hitam, putih sama warna navy saja...warnanya monokrom begini." Mama mengerutkan keningnya.


"Begitulah, ma...Raka suka ngambil yang warna favoritnya semua. Aku cuma kebagian sedikit." Sarah merengut, sambil meletakkan sweater mungil di tangannya kembali ke tempatnya.


"Ya, tidak harus semuanya modelnya kamu semua, sayang...Sarah juga ibunya, masa kamu borong semua warna kesukaanmu."


"Kan, untuk anakku?" Raka nyengir pada Sarah.


"Tapi anakku juga, kan?" Sarah cemberut, sambil meletakkan sebuah sweater rajut mungil berwarna coklat di atas pangkuannya, sweater itu sudah membuatnya jatuh cinta saat pertama melihatnya..


"Ini cucuku juga, kan?" Mama menambahkan dengan raut masam.


Mereka saling berpandangan sesaat lalu tertawa bersamaan, merasa lucu dengan sikap mereka sendiri.


"Besok, ku antar lagi kamu belanja, sayang..." Raka menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi dan memeluknya dari belakang.


"Lain kali saja sayang, ini belum tujuh bulan. Tidak usah terburu-buru." Sarah menepuk pipi Raka dengan lembut, dia sudah meletakkan dagunya dengan manja di bahu Sarah.


"Sayang, kalau beli baju lagi, jangan banyak-banyak yang model romper atau tshirt begini, untuk newborn baby, lebih baik gunakan baju terusan yang bermodel piyama karena bayi lebih banyak tidur atau baju terusan yang bermodel kancing di depan. Baju bayi model begitu lebih mudah untuk dikenakan pada bayi." Kata mama memberikan wejangan kepada dua calon orangtua yang rempong sekali mempersiapkan kelahiran bayi mereka.

__ADS_1


Sarah dan Raka manggut-manggut, saling melirik.


"Bayi baru lahir itu, kepalanya masih belum dalam keadaan sempurna sehingga menekan risiko hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik memakai pakaian yang aman saja." Tambah mama dengan bersemangat.


Sarah dan Raka menikmati ocehan mama, sambil bersama bi Asih di bantu seorang pelayan yang khusus menangani pakaian mereka, membereskan semua pakaian yang baru di beli itu untuk di bawa ke binatu, mama suka segala sesuatu siap pada waktu nanti di gunakan.


"Awal bulan depan kita laksanakan tujuh bulanan Sarah di mana?" tanya mama mengganti topik.


"Bagaimana kalau di rumah saja, undang kerabat dekat saja, ma." Tawar Sarah.


" Aku mau di ballroom hotel kita yang baru itu saja, ma." Raka menukas.


"Aku sudah mempertimbangkan menggunakan jasa EO yang terbaik di kota ini." Tambahnya.


"Aku mau anakku tahu, daddy nya ini tak sabar lagi bertemu dengannya." Raka mengelus-ngelus perut Sarah yang menonjol itu.


"Terserah kalian saja, mama maunya yang terbaik saja untuk calon cucu mama. Mau meriah atau sederhana, yang penting adalah do'anya. " sahut mama.


Sarah hanya mengerling manja pada suaminya itu, dia tahu Raka jika sudah merencanakan akan melaksanakannya dengan detil. Sarah tak mau mengeluarkan energi untuk berdebat dengannya.


"Kita mengundang siapa saja ya kira-kira, ma?" tanya Raka pada mama.


Raka dan Sarah saling pandang sesaat.


"Temanku tidak banyak, jadi aku tidak terlalu banyak list undangan." Sarah tertawa kecil melihat dahi suaminya yang berkerut seperti sedang berfikir keras


"Kolega bisnis perlu tidak, ma?" Tanya Raka lagi.


"Terserah kamu sama papamu lah, yang mana yang kalian anggap perlu."


"Om wijaya sekeluarga kita undang juga?" Tanya Raka lagi dengan wajah penuh keraguan.


Sarah mengangkat wajahnya mendengar nama papa angkatnya di sebut.


"Ya, pastilah. Bagaimanapun mereka tetap adalah mertuamu. Orangtua Sarah dan kakek nenek calon anakmu." Jawab sang mama sambil menatap Raka, menelisik kebimbangan di raut wajah putranya itu.


"Tapi..." Raka terlihat sedikit keberatan, mengingat bagaimana cara keluarga Sarah memperlakukan istrinya itu. Apalagi mengingat Sally yang selalu berusaha membuat masalah, rasanya menjadi semakin tidak sreg saja.


Sarah tidak berbicara, tapi dia merasa ketidak hadiran dan kehadiran orang tuanya tetap saja membuatnya berada dalam dilema.

__ADS_1


"Sayang..." Mama menatap lurus pada pasangan yang kini tampak begitu bimbang.


"Setiap luka mungkin tidak mudah sembuh, bahkan jikapun menjadi sembuh memang selalu meninggalkan bekas. Tak ada yang sama, saat kaca menjadi retak. Dia tak lagi bagus dan baik-baik saja." Suara mama begitu tenang dan lembut.


"Tapi, kata maaf selalu bisa membuat sesuatu yang tidak baik-baik saja itu bisa menjadi hal yang baik meskipun dalam situasi seburuk apapun. Orangtua tetap orangtua, keluarga tetap keluarga, tak ada yang bisa membuatnya terputus dengan kita, meskipun sebesar apa kekeliruan yang merenggangkannya." mama tersenyum lebar.


"Hormatilah mereka dengan seharusnya anak-anak melakukannya, berlakulah sebaik-baiknya sehingga meskipun nanti kamu di balas lagi dengan keburukan maka kamu tak akan membuat hatimu tercemar dengan kebencian." Tarikan nafas dari perempuan bijak itu membuat Sarah tak berkedip.


"Kesalahan akan selalu bisa diperbaiki, tetapi jika kejahatan kalian balas dengan perlakuan yang sama, maka kalian tak akan berbeda dari mereka. Jadilah setingkat lebih baik, maka kalian akan di pandang seribu kali lebih baik. Tak akan ada yang berubah jika kita tidak berusaha memperbaiki hal yang salah. Karena itu, tetaplah kalian di sisi yang baik...maka suatu saat, apapun yang terjadi, kalian tetap menang sebagai orang baik."


Dua bulir bening jatuh di sudut mata Sarah, betapa damainya saat orangtua ini berbicara. Semua rasa marah dan dendam seperti menguap di udara bahkan hilang.


Mama mengalihkan pandangannya kepada Raka yang terpekur tak bersuara,


"Mama tahu, Sarah menyimpan luka untuk semua yang telah dia terima, tapi cintamu akan menguatkannya, sayang. Sehingga dia akan sembuh tanpa harus dengan kata penyesalan dari orangtuanya dan dari adiknya, tetapi karena rasa syukur memilikimu dalam hidupnya. Seorang suami jadilah pemimpin, imam dan penenang bagi istrinya. Karena itu, buatlah keputusan tidak semata hanya karena kamu membela perasaannya tapi juga karena kamu ingin memperbaiki hatinya yang sedang hancur." Begitu tajam dan dalam kata-kata itu di tujukan kepada Raka.


"Undanglah mereka dengan baik-baik, jika mereka tak datang, maka setidaknya kalian tetap berusaha bersikap baik.


Bukankah mama selalu mengatakan padamu, setiap masalah harus di hadapi, bukan di hindari. Tak ada yang benar-benar selesai, jika kita terus berlari darinya." Mama tersenyum lebar, mata itu berkilat dengan tenang.


Sarah menganggukkan kepalanya dan menunduk dengan dalam. Rasa haru biru menyentuh relung hatinya terdalam.


Sebuah pelukan kuat mendekapnya.


"Sayang, kita akan melewati semua badai bersama-sama." Bisik Raka lirih.


(Terimakasih buat semua readers kesayangan, otewe tujuh bulanan bumil ya🤗🤗


Kalian semua di undang untuk hadir sama Sarah dan Raka, jangan lupa absen ya di episode berikutnya🙏😅😅 Lope2 buat semuanyaaaa....)



oh, iya...ini Egi, mantan termanis dan terjahat Sarah pamit😅 Dia minta fotonya mejeng bentar habisnya cuma cameo di satu part saja🤭Jangan ada yang jatuh cinta, ya...entar di jambak Tania😆


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...

__ADS_1


__ADS_2