Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 137 JANGAN MENANGIS LAGI


__ADS_3

Tuhan, ambil semua rasa sakit ayahku, angkat semua penyakit ini, jika Engkau berkenan. Cukupkan penderitaannya, Tuhan...Tapi, Semua rencanaMu lah yang terbaik."


Mata ayah Sarah yang terpejam, tubuhnya diam tak bergerak, tapi dua bulir bening jatuh dari sudut matanya. Meleleh begitu saja.


"Ayah..." Sarah merasakan jemari sang ayah, bergerak perlahan di dalam genggamannya.


"Ayah meresponku..." Sara mengangkat wajahnya pada Raka yang berada di sampingnya.


Tapi entah mengapa tangan ayahnya yang hangat menjadi terasa semakin dingin.


Tiba-tiba gerakan gelombang di monitor terlihat cepat dan dan menunjukkan aktivisitas tidak normal. Perawat tampak siaga di dekat monitor sementara Dokter Pram mendekati pasien.


Tapi, selang beberapa waktu kemudian, garis di monitor menjadi lemah dan tak lama menjadi garis lurus dengan bunyi yang membuat Sarah segera menangis histeris, dia menyadari ayahnya benar-benar telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.


Tuhan telah mencabut semua sakit penyakit bahkan semua penderitaan ayahnya. Tak ada lagi nyeri, tak ada lagi kesakitan, tak ada lagi air mata. Ayahnya telah kembali ke pelukan Tuhan yang meniupkan nafas padanya. Dia sekarang telah bertemu dengan perempuan yang selalu dicintainya sepanjang hidupnya.


...***...


Hari telah sore beranjak sore, Sarah masih duduk di depan pusara ayahnya, dia tidak lagi menangis tapi matanya tak lepas dari pusara yang tanahnya masih menggunduk merah dan bertabur bunga itu.


Orang-orang dan keluarga yang ikut mengantarkannya ke peristirahatan terakhir telah pulang sejak setengah jam yang lalu.


"Sayang..." Mama Raka menepuk bahu menantunya itu dengan lembut.


"Beliau sudah tenang sekarang, ikhlaskan ayahmu kembali ke haribaan pemilik semua kehidupan, yang terbaik dari semua kesedihan ini bahwa ayahmu tak pernah lagi merasakan penderitaan lagi." Ucap mama dengan lembut.


Sarah menoleh pada mama dan memaksa bibirnya tersenyum.


"Iya, ma. Ayah sudah tidak merasa sakit lagi." Sahutnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Papa dan mama pulang lebih dulu, Rae sendiri dengan suster." Mama berdiri lalu beranjak pergi, tetap membiarkan sejenak menantunya itu tetap berada di sana di depan pusara ayahnya.


Raka mendekat dan mengambil tempat di samping Sarah.


"Sayang, sebaiknya kita pulang..." Raka berucap perlahan.


"Sebentar lagi. Aku masih ingin mengantar ayah untuk terakhir kali." Sarah menyahut.


"Ikhlaskan kepergiannya, maka jalan ayah akan lebih lapang."


"Aku sudah ikhlas, hanya saja madih terasa berat."

__ADS_1


"Mungkin tak banyak yang mengerti tentang apa yang sedang kamu rasakan, tapi aku mengerti seberapa besar kamu terpukul. Mungkin tidak banyak yang bisa mengerti beratnya perpisahan, terutama perpisahan seperti ini. Tapi, do'a adalah yang ayah butuhkan sekarang untuk mengantarnya, bukan air mata"


Sarah menoleh pada Raka, menatap laki-laki yang selalu setia mendampinginya dalam suka dan duka. Dia mengamggukkan kepalanya pada Raka sambil berusaha tersenyum meski terlihat sangat getir.


"Papa bahkan tak datang untuk mengantarkan ayah, dia adalah satu-satunya saudara ayah." Entah mengapa, Sarah merasa sedih papa angkatnya tak pernah muncul lagi setelah mereka mengantarkan ayahnya ke ICU malam itu, saat ayahnya pingsan sambil bersimpuh di kaki kakaknya sendiri.


"Aku telah berusaha mengabarkan kepergian ayah kepada papamu, tapi tidak ada respon. Beliau mungkin perlu waktu setelah mendengar pengakuan ayah."


"Tapi tidak harus selama itu, saat ayah sakitpun papa tak pernah sekalipun menjenguknya."


"Sayang, semua orang memiliki ketebalan hati yang berbeda dalam menyikapi setiap permasalahan. Ada yang dalam sekejap bisa menerima tapi banyak pula yang perlu berhari, berminggu bahkan bertahun hanya untuk bisa mencerna kenyataan pahit yang menimpanya."


Raka mengambil tangan istrinya.


"Ayah pasti mengerti mengapa papamu begitu shock menerimanya."


Sarah mengalihkan pandangannya ke atas pusara ayahnya.


"Apakah papa tidak memaafkan ayah?" tanyanya dengan sedih, seolah ditujukan pada dirinya sendiri.


Raka terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa, karena dia bukanlah orang yang berhak menjawab pertanyaan itu.


"Aku...telah memaafkannya." Sebuah suara berat dan datar terdengar dari belakang mereka berdua.


"Papa..." Sarah berdiri, di ikuti oleh Raka. Wajah dua orang pasangan muda suami istri itu nampak terkejut dengan kehadiran papa angkat Sarah.


"Jangan kuatir, nak...aku telah memaafkan ayahmu, aku telah memaafkan adikku itu, apapun yang telah di lakukannya. Aku telah memaafkannya." Tubuh itu berdiri kaku dengan raut sedih, lelah yang begitu kusut.


"Maafkan papa, nak...membiarkanmu menghadapi sendiri semuanya." Ucap orang tua itu, bergetar. Matanya terlihat cekung seolah bercerita bahwa dia mungkin jarang sekali bisa tidur dengan baik belakangan ini.


Sarah menghambur ke pelukan papanya, tangis yang di tahannya sejak ayahnya diturunkan ke dalam liang lahat itu segera meledak.


"Papa...ayah minta maaf kepada papa...dia benar-benar ingin papa memaafkannya" Ucapnya di sela tangisannya. Sebagai anak, dia sangat ingin perjalanan ayahnya itu tidak di antar dengan dendam dan sakit hati.


"Aku tahu, nak...aku tahu. Dan dia lebih tahu, bahwa aku tak pernah benar-benar marah padanya. Dia sudah tenang sekarang...tidak usah menangis lagi."


Tak ada yang benar-benar bisa meredakan tangis Sarah setelah kesedihan yang di alaminya berhari-hari belakangan ini, tetapi kalimat yang keluar dari mulut papa angkatnya itu seperti hipnotis yang menghentikan air matanya.


"Ijinkan papa berdo'a sebentar untuk adik papa yang nakal ini, dia sekarang sedang menunggu kakaknya yang begitu jahat dan tak perhatian ini untuk mengucapkan selamat jalan padanya."


Papa angkat Sarah melepaskan pelukannya, lalu perlahan berjalan dan bersimpuh di depan pusara adiknya.

__ADS_1


Dia menunduk tak bergeming, hanya air matanya keluar dari sudut matanya yang terpejam.


Raka memeluk Sarah, rasa haru biru bercampur aduk saat mereka menyaksikan bagaimana seorang kakak sedang begitu khusuknya berdo'a kepada adiknya yang telah tiada.


Sepuluh menit kemudian dia berdiri, meski begitu gontai.


Hanya mereka bertiga yang kini berada di pekuburan itu, suasana hening sejenak hanya angin sore yang bertiup sepoi-sepoi, seakan ingin meniupkan ketenangan bagi orang-orang yang terbaring damai dalam peristirahatan panjang mereka yang terakhir.


"Sarah..." Tiba-tiba bibir Papanya itu berucap memecah sunyi, mata papanya seolah memancar begitu lelah sore ini.


"Maafkan papa yang tak pernah datang pada saat ayahmu koma. Papa kira ayahmu bisa bertahan sebentar lagi sampai aku tiba dari Kanada."


"Kanada? Papa ke Kanada?"


"Ayahmu telah mengirim email kepadaku, meminta aku bertemu dengan pengacaranya di sana, yang terjadwal di hari tanggal tiga hari yang lalu."


"Kenapa ayah meminta papa ke sana?"


"Permintaan terakhirnya, ayahmu ingin papa membuat pelimpahan aset-asetnya di Kanada atas namamu. Dan papa sebagai saksi yang mengurus serta menggantikannya untuk melegalkan dokumen itu karena dia tak bisa kembali ke Kanada lagi. Dan papa sudah melakukannya. Membawakan surat wasiat terakhir ayahmu pada pengacaranya."


Sarah tercengang mendengarnya, betapa dia merasa bersalah telah menuduh papanya ini, mengabaikannya dan ayah yang sedang sekarat. Rasa berdosa terasa menyiksa pada kita saat kita tahu, kita telah berburuk sangka pada orang yang ternyata tak melakukan kesalahan apapun pada kita, seperti perkiraan kita.


"Papa..." Sarah terpana menatap orangtua itu, yang selalu berusaha mencintainya dalam ketidakberdayaannya.


"Papa juga sudah mengajukan gugatan cerai pada mamamu..."


Kalimat terakhir itu tidak hanya membuat Sarah begitu terkejut, bahkan Raka pun terkesima mendengarnya.


(Setelah part-part sedih, kita akan berusaha move on ke part-part yang lebih bahagia, yaa😅


author juga tak sanggup menulis perbawangan terlalu banyak😂 Dan bagaimana karma akan meluluh lantakkan hidup Mytha dan sang anak yang manja. Ikuti terus Menikahi Tunangan Adikku, yaaaa💗💗💗💗)





...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all❤️...


__ADS_2