Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 195 TERANCAM


__ADS_3

"Sally, jaga sikapmu, jika tidak maka kamu boleh keluar dari sini."Sarah dari tempatnya duduk, menegur pada Sally dengan tajam.


Sally terkesima berpaling pada Sarah yang berada di jajaran kursi komisaris.


Di dalam ruangan ini, jika menilik jabatan, dia bukan apa-apa, jadi mau tidak mau dia menuruti teguran itu, menurunkan tangannya dengan perlahan. Tapi mulutnya yang meruncing kesal itu terarah pada Sarah.


"Jangan melarangku, Sarah! Aku sudah menahan diri dari tadi. Laki-laki sombong ini datang kemari dan membuat tuduhan kepada mamaku." Sally berdiri sambil memukul meja.


Dia benar-benar merasa tidak terima di tegur oleh Sarah apalagi di depan Raka.


Sally sama sekali tidak punya sopan santun. Semua orang mengawasinya tak lepas.


Raka sedari tadi hanya diam menyaksikan drama itu tampak tidak tertarik dengan sikap arogansi yang di tunjukkan oleh Sally, matanya saja yang hampir tak lepas menatap kepada Sarah, istrinya.


Pandangan yang sesungguhnya tak sabar ingin keluar dari ruangan itu, dia gemas ingin menciumi istrinya yang tampak bukan sebagai dirinya ketika dia duduk di kursi komisaris itu.


"Sally..." Suara berat pak Rudiath, memanggil nama Sally, membuat gadis ini mau tidak mau menoleh pada Pak Rudiath. Laki-laki seusia ayahnya itu akhirnya tak bisa menahan kesabarannya, meskipun tetap berusaha menjaga wibawanya.


"Aku tidak sedang bertanya kepadamu jadi duduklah kembali." Pak Rudiath melanjutkan kalimatnya dalam suara datar tapi sekali lagi mau tidak mau membuat Sally duduk kembali dengan raut kesal yang semakin menjadi-jadi.


"Ibu Mytha..." Pak Rudiath mengalihkan pandangannya kepada Mytha yang rahangnya mengatup membesi itu.


"Saya rasa, saya tidak perlu memeriksa dokumen itu hanya untuk membuktikan keasliannya...tetapi saya ingin bertanya langsung kepada anda, apakah yang saya dengar ini benar?"Tanya pak Rudiath, pertanyaan itu terdengar tajam kepada Mytha.


Yang ditanya hanya membeliak tak menjawab, hanya tangannya sedikit gemetar, masih memegang map dokumen yang ada di tangannya itu.

__ADS_1


"Apakah terlalu sulit untuk mengklarifikasi duduk perkara ini? Kita di sini duduk sebagai keluarga, sepantasnya berbicara dengan baik dan terbuka. Apalagi perusahaan ini adalah milik kita bersama, aku membangunnya dari nol bersama mantan suami ibu, pak Wijaya." Psk Rudiath menghela nafasnya sesaat, menatap lekat pada perempuan yang dulu begitu akrab dengan keluarga mereka.


"Tahukah anda, terlepas apapun yang melatar belakangi masalah pribadimu. Tidak pernah dalam pengalaman saya duduk di kursi ini, seseorang menggadaikan saham untuk kepentingan pribadinya tanpa mengkomunikasikan hal ini dengan pemegang saham lain.


Perusahaan ini di bangun oleh saya dan pak Wijaya dengan dasar kekeluargaan dan kepercayaan. Tapi hari ini, anda merusaknya." Pak Rudiath berucap begitu menusuk, meski wajahnya nyaris tanpa emosi.


"Saya selama ini diam, semenjak pak Wijaya mengundurkan diri. Tapi saya tahu, semua tak sama lagi sejak anda duduk si sini. Meskipun saya mendiamkan semua perubahan ini, saya tidak menutup mata atas semua yang terjadi. Anda bukan memberikan kemajuan terhadap perusahaan ini tetapi berusaha menjatuhkannya." Lanjut Pak Rudiath.


Mytha tak bisa menjawab apa-apa, tapi dia membeku dengan wajahnya merah padam.


Pak Rudiath bukan orang yang banyak bicara, pak Rudiath tak pernah mempermasalahkan apapun yang bukan dalam haknya. Tetapi sekarang, Mytha benar-benar keterlaluan menurutnya.


"Saya, sebagai pendiri dari perusahaan ini akan tetap menyambut anda, pak Doddy...karena anda telah menunjukkan autentifikasi keberadaan anda sebagai orang yang berhak atas saham ini, terlepas dari bagaimanapun cara anda bisa berada di sini." Pak Rudiath mengalihkan pandangannya pada Doddy yang duduk diam di tempatnya.



"Dan, karena ini kejadian yang tak biasa, maka saya untuk sementara berkeputusan tidak membawanya dalam rapat dewan direksi. Wajah baru dalam perusahaan mungkin akan sedikit menimbulkan pertanyaan. Setelah pengunduran diri pak Wijaya, cukup banyak wajah baru yang menimbulkan spekulasi dan setidak-tidaknya berpengaruh terhadap kepercayaan pasar meskipun tidak signifikan. Karena itu, kepada pak Doddy untuk sementara saya tidak bisa mengumumkannya pada forum direksi."


Sejenak pak Rudiath menghela nafasnya,


"Apakah anda tidak keberatan pak Doddy?" Tanya pak Rudiath.


"Tentu saja saya tidak keberatan. Karena saya masuk kemari bukan semata-mata karena mengejar hutang piutang bu Mytha. Saya cukup tahu diri jika saya berusaha bergabung. Jadi saya serahkan kebijakan ini kepada anda." Jawab Doddy dengan santai.


"Dan saya, selaku salah satu komisaris, akan mengundang secara khusus anda, pemegang saham baru. Tiga hari lagi kita akan mengadakan rapat intern para pemegang saham, di ruang ini. Saya ingin membahas secara khusus masalah ini, sekaligus membawa pengajuan Sally sebagai perwakilan Ibu Mytha menjadi CEO, apakah bisa di terima. Semua akan di tentukan dengan Rapat Umum Pemegang saham dengan kuorum dan voting supermajority"

__ADS_1


Sally dan mamanya terhenyak, saling pandang. Keputusan itu tentu saja membuat mereka berdua tersudutkan. Jika melakukan voting hanya pada sekelompok pemegang saham, maka rencana mama Sally untuk menyuap beberapa direksi tentu saja tak bisa di jalankan.


Berdasarkan kuorum terbatas yaitu Pemegang saham, maka yang berhak memberikan suara persetujuan atau tidak maka hanya Pak Rudiath, Sarah, Mytha dan pendatang baru Doddy.


Suara Sarah dan pak Rudiath telah sangat meyakinkan tak akan menyetujui duduknya Sally di situ.


Sekarang, hanya suara Doddy yang menentukan, andai itu nanti fifty-fifty maka Mytha bisa berkeras membawanya ke ruang rapat yang lebih besar, yaitu rapat dewan direksi.


Kemungkinan Sally bisa duduk setara dengan Raka, masih bisa diperjuangkan lewat jalan belakang.


Sarah tersenyum simpul, menatap pada mama angkatnya yang duduk membeku di sampingnya. Sally tak bergeming dengan raut tegang, sementara Raka menghela nafasnya begitu tak sabar rapat itu berakhir, mama undur-undur yang bertingkah sok dingin di depannya itu sangat menggodanya.


Rapat kecil hari ini berakhir dengan diluar dugaan Mytha. Dia dan Sally, terancam tak bisa menancapkan kuku di dalam perusahaan yang pernah di pegang papanya dengan saham terbesar di tangannya.


Sekarang mereka harus mengatur rencana supaya paling tidak memenangkan 50 persen suara untuk Sally. Itu harapan terakhir Mytha, dengan saham yang bahkan kurang dari seperempat di perusahaan itu.


Dengan segala cara, dia siap melakukannya, bahkan jika perlu memperdaya Doddy yang telah menghancurkan mukanya di depan forum hari ini.


(Kita triple UP yah, hari ini...🤭🤭 nantikan UPnya sekali lagi...jangan lupa VOTEnya ya, karena di part berikutnya akan lebih seru, lho.🙏😁)



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....

__ADS_1


__ADS_2