
"Model terbaru, ma...." Raka menjawab sekenanya, sementara Sarah meletakkan piring di meja dengan wajah merona, mendengar pembicaraan ibu dan anak itu.
"Model terbaru apanya? itu terbalik karena buru-buru pasti!" Mama melengos cuek sambil melangkah menuju ruang makan mini Sarah.
"Tadi Sarah minta cepat-cepat buka pintunya, takutnya mama lama nunggu. Sarah mandinya lama...."Raka beralasan sambil cengengesan. Matanya melirik kepada Sarah di sambut pelototan dari sana supaya tidak memperpanjang pembahasan baju terbalik itu.
Dengan raut bersemburat karena salah tingkah mengingat apa yang di lakukan mereka berdua tadi, Sarah mengambil beberapa piring dari dalam lemari.
Raka segera masuk ke kamar dan memperbaiki kostumnya, dia benar-benar malu.
Saat dia keluar di meja makan sudah duduk mama, Sarah dan Dea menunggunya tiba.
Raka duduk di seberang Sarah, karena itu kursi satu-satunya yang kosong.
"Wah, mama memang top." Raka memandang pada menu yang tersaji di meja. Disana ada steak daging, capcay sayur, sop rolade dan tahu tempe bacem.
Makan malam mereka cukup sederhana untuk ukuran keluarga high class.
Mata Raka berbinar pada tahu tempe bacem yang coklat mengkilat mengundang selera itu.
Sarah menatapnya bingung.
"Stt, sayang...Raka memang dari kecil tidak tahan kalau melihat tahu dan tempe bacem. Itu favoritnya."Mama menyiku lengan Sarah yang tampak melongo menatap sang suami di seberang meja.
Dia baru tahu, Raka ini ternyata sangat suka dengan tempe tahu bacem. Selama ini yang dia kira Raka penggemar masakan eropa karena dia keseringan tinggal di sana.
Itu yang dia tahu, selain menu yang tercatat di otaknya untuk di hindari yaitu menu-menu sebangsa seafood, karena Raka alergi berat dengan makanan tersebut.
Selama ini Raka tak pernah protes dengan semua yang di masaknya.
"Masakan istriku semuanya enak...." Itu jawaban Raka jika ditanya Sarah soal masakannya.
Setelah mengucapkan doa, Raka dengan tak sabaran mengambil satu potongan tahu.
Sarah masih menatap ke arah Raka ketika dengan bahagianya mengunyah tahu bacem itu.
"Ini pasti bukan mama yang bikin..." Raka menaikkan sebelah alisnya.
"Bacemnya mbak Marni ini..."Raka protes kepada mamanya.
"Tapi steaknya mama yang bikin, Sayang." Mama berdalih.
"Kalau bacemnya mbak Marni suka kemanisan, kalau bacemnya mama rasanya pas."
__ADS_1
Mamanya nyengir dengan wajah bangga, mendengar anaknya memuji masakan tangannya.
Sarah melongo, ini manusia memang ajaib, bahkan lidahnya bisa membedakan masakan mamanya dengan orang lain.
"Nanti mama ajarin Sarah bikinnya..."Mama menyendok sup roladenya sambil tersenyum pada Sarah.
"Dea, Mengenai proposal rencana pengembangan bisnis virtual office menjadi co-working space apakah sudah di setujui papa?" Raka bertanya pada asistennya yang sedang lahap menikmati makan malamnya, tampaknya asisten pribadinya itu sedang kelaparan.
"Bapak sih oke saja, semua di serahkannya ke pak Edgar dan Pak Raka untuk eksekusinya kalau memang peluangnya lebih menjanjikan. Cuma..." Kalimat Dea terhenti.
"Cuma apanya?"
"Cuma Pak Wijaya belum belum ada respon."
Sarah berhenti mengunyah makanannya, telinganya berdiri mendengar nama ayahnya di sebut.
"Dokumennya sudah di berikan ke pak Wijaya?"
"Beberapa hari yang lalu sudah saya serahkan ke Bu Dian, asistennya pak Wijaya karena pak Wijaya sudah dua minggu ini tidak datang ke kantor."
"Papa sakit?" Tiba-tiba Sarah menyela, bertanya dengan sedikit gugup.
"Sepertinya ada urusan keluarga, menurut Bu Dian." Dea menyahut.
"Oh...." Raka mengangguk-angguk kepalanya sambil melihat kepada Sarah yang tampak lega.
"Ya...dia bilang apa?"
"Katanya, Pak Wijaya ingin bertemu dengan pak Raka dulu, membahas mengenai pengembangan bisnis ini"
"Lho, semuanya sudah kamu paparkan di dalam dokumen kan?"
"Sudah, Pak...tapi Pak Wijaya sepertinya ingin bertemu dengan pak Raka dulu"
Raka mengernyit dahinya, sepertinya berusaha mempertimbangkan. Dia sedang berusaha menghindari pertemuan dengan keluarga Sarah, sementara perusahaan partner untuk proyek ini sudah beberapa kali menghubungi kejelasan soal kelanjutan rencana ini.
"Bisa di wakilkan Kak Edgar kan? Kak Edgar lebih menguasai soal ini."
"Nanti akan saya konfirmasikan dengan bu Dian." Dea menyahut.
"Kok bukan kamu saja, sayang? Pak Wijaya kan mertuamu juga?" Mama tampak menyelidik tak senang dengan keberatan Raka.
Sarah dan Raka saling bertukar pandang, mama tidak tahu apa-apa tentang urusan Sally ini, jadi mereka bingung untuk menjelaskan.
__ADS_1
Raka merasa kaki Sarah menendang kecil betisnya di bawah meja, seolah-olah memberi isyarat supaya Raka mencari alasan.
"Anu ma, Raka sama Sarah ada rencana mau ke dokter beberapa hari ini?" Raka mencari alasan sambil memandang istrinya di seberang meja.
"Ke dokter? Sarah sakit? Kamu kenapa, sayang?" Mama menoleh pada Sarah dengan cemas.
Sarah terdiam tidak bisa menjawab, alasan Raka yang mendadak dan aneh itu sungguh diluar perkiraannya. Dia bingung sendiri mengenai alasan Raka yang jelas mengada-gada.
"Itu ma...Sarah kan sampai sekarang belum hamil-hamil. Jadi sepertinya kami perlu ke dokter untuk memeriksakan kesuburan. Siapa tahu nanti di suruh therapy biar cepat hamil atau di sarankan istirahat. Yang jaga istriku siapa, ma...? kalau aku keluyuran kemana-mana" Raka menjawab dengan meyakinkan.
"Ooooh, begitu...."Sang mama yang terobsesi dengan proyek cucu kilat ini tersenyum senang, matanya berbinar menatap Sarah sambil meraih tangan sang mantu.
"Iya juga sih. Kalian sudah menikah delapan bulan belum ada tanda-tanda hamil juga, ya? Kalian memang sudah seharusnya memikirkan ke arah sana" Mama menepuk punggung tangan Sarah dengan sayang, sementara Sarah sendiri tersenyum dengan kikuk.
"Mama, bagaimana Sarah bisa cepat hamil, malam pertama saja belum genap dua bulanan ..."Keluh Sarah dalam hati.
"Periksa itu tidak apa-apa sayang, bukan berarti kalian berdua ada penyakitnya atau ada kelainan. Tapi kita mencari kepastian, dokterkan pasti punya saran dan trik biar prosesnya tidak tertunda-tunda. Dokter punya banyak solusi. Percaya sama mama."
Mama menasehati dengan serius, wajahnya nampak begitu bahagia mengucapkan kalimat-kalimat itu.
Sarah melirik kepada Raka yang dengan santainya mengunyah makanannya sambil tersenyum puas penuh kemenangan kepada Sarah.
Sungguh suaminya ini pandai sekali beralasan untuk menyenangkan hati mamanya tapi merepotkan Sarah untuk meladeninya.
"Iya, ma..."Sarah menjawab pendek dengan senyum setengah meringis.
Raka menjulurkan kakinya di bawah meja, mengelus-ngelus betis istrinya sambil menatap Sarah seakan ingin meminta Sarah berterimakasih atas kejeniusannya menyelamatkan keadaan.
Sarah sendiri bingung dengan tatapan Raka dari seberang meja yang sok genit itu.
"Ini, siapa yang menggaruk-garuk kaki mama?" Mama tiba-tiba terlihat agak tegang, tapi tak bisa melebihi tegangnya wajah Raka.
Ternyata, yang di elusnya menggunakan jempol kakinya itu betis sang mama.
Sarah hampir tersedak mendengarnya, sementara Raka menarik kakinya dengan cepat saat mama berusaha melongok ke kolong meja.
Raka menggigit bibir bawahnya, sambil merutuk meja makan Sarah yang kekecilan itu.
Dea dan Sarah menutup mulutnya menahan tawa.
Makan malam bersama mama di apartemen Sarah ini, penuh dengan insiden.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu lho🙏...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP🙏...