
"Andai selamanya mungkin aku tak bisa menyampaikan isi hatiku, tapi semoga lagu ini membuatmu tahu, apapun dirimu, tak ada yang berubah di mataku. Jika memang kita tak mempunyai jodoh di dunia ini, aku berharap di alam surga, Allah mempertemukan kita dengan cara yang berbeda." Bisik Doddy dalam hati.
Cinta memang buta, perasaan itu sungguh buta tak bermata. Meski Diah bukan gadis lagi, Doddy tak pernah melihatnya dalam rupa berbeda dari perempuan yang dulu sanggup membuatnya tak tidur satu malam karena memikirkan akan satu kelompok kerja di lab saat praktikum.
Jika Tuhan memberi kesempatan suatu saat nanti, dan Diah di lepaskan oleh suaminya yang zalim itu, Doddy bahkan tak keberatan berada di sisi perempuan itu.
Perempuan yang baik tidak harus karena dia tak pernah terjamah atau di miliki oleh orang lain, tetapi karena ahlaknya yang patut untuk di cintai dan diperjuangkan.
Doddy merasa Diah adalah perempuan dan istri yang baik, Diah bukan perempuan sembarangan hanya mungkin takdirnya bertemu Bram yang sungguh sial.
Mobil itu berhenti di depan pagar rumah Diah yang setengah terbuka itu, mungkin bik Irah lupa menutupnya.
"Terimakasih sudah mengantarku..." Diah berpaling kepada Doddy dengan sikap rikuh, bersiap akan keluar, tangannya sudah bersiap untuk mendorong pintu mobil.
"Aku akan membukakan pintu untukmu." Doddy hendak keluar, berdiri ketika Diah menahan bahunya dengan gerak reflek tanpa sengaja.
Dengan gugup, Diah melepaskan tangannya dari bahu Doddy, menyadari tatapan laki-laki itu yang terpana sesaat padanya
"Maaf eh Jangan. maksudku tidak perlu membuka pintu untukku, aku bisa sendiri....." Suara tertahan Diah, tergagap dan malu membuatnya Doddy urung beranjak.
"Aku hanya..."
"Aku bisa membukanya sendiri. Tidak enak merepotkan terlalu banyak." Diah menyela cepat sebelum Doddy meneruskan kalimatnya.
"Aku tidak merasa direpotkan, kok." Doddy tersenyum dalam remang.
"Tidak perlu terlalu memanjakanku dengan bersikap begitu, nanti aku jadi ngelunjak." Diah terkekeh seolah mencairkan suasana antara nereka yang berlangsung canggung sepanjang jalan.
"Tidak apa-apa, aku senang jika melihatmu sedikit ngelunjak. Dari pada melihat wajah murung dan dinginmu setiap bertemu." Doddy merasa senang melihat Diah tiba-tiba sedikit cair dalam bersikap, meski seandainya dari tadi Diah lebih responsif mereka bisa ngobrol lebih santai.
"Maafkan sudah membuatmu harus mengantarku." Diah menundukkan wajahnya sesaat sebelum kemudian membuka pintu mobil dan segera keluar, tiba-tiba dia merasa agak enggan segera berpisah, tapi dengan cepat perasaan aneh itu di usirnya.
__ADS_1
Diah menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, dengan keras dia mengingatkan dirinya, supaya tidak boleh bertindak di luar batas kewajaran, suka atau tidak, dia adalah istri seseorang sampai hari ini. Dia belum resmi bercerai, karena itu sebisa mungkin dia mengingatkan dirinya untuk bersikap sopan, sebagai wanita baik-baik dia sungguh tak ingin terlihat murahan.
Menjaga marwahnya sebagai perempuan terhormat harus lebih di kedepankan dari sekedar memuaskan keinginan perasaan yang bisa membuat harga dirinya terkoyak-koyak di hadapan orang banyak.
"Hati-hati di jalan...dan selamat malam...Fajri." Suara Diah terdengar lirih sebelum dia berbalik tergesa menyembunyikan wajahnya yang memerah, ketika menyebutkan nama yang puluhan tahun dulu di sebutkannya pada remaja tanggung culun yang sangat gugup jika mereka duduk berhadapan.
Fajri yang itu akan menunduk dalam-dalam sambil memainkan ujung bolpoint, dia begitu introvert dan pemalu berbanding terbalik dengan Fajri yang di panggilnya Doddy ini, terlihat elegan dan percaya diri.
Doddy terkesima di belakang setiran, tak menyangka Diah memanggil namanya, nama kecilnya yang sedikit orang tahu itu. Rasanya dada Doddy berdesir halus, terasa hangat mengalir hingga ke nadi-nadinya.
Betapa relung rindu itu terisi mendadak oleh getaran, Doddy sempat terdiam tak bergerak. Panggilan itu begitu sangat dirindukannya keluar dari bibir Diah kecil yang kini tampak lebih dewasa dari usianya karena mungkin kerasnya hidup yang di jalaninya.
Diah dengan cepat melangkahkan kaki ke balik pintu pagar, menariknya dan membungkuk hendak menguncinya ketika Doddy memanggil namanya.
"Diah...! Tunggu..." Panggilan itu menahan Diah untuk bergerak lagi, dia yang masih merasa darah naik ke wajahnya setelah menyebut nama Fajri itu mengangkat kepala, menatap kepada Doddy yang sudah keluar dari dalam mobilnya menyusul dirinya.
"Ya..." Dengan ragu, Diah membuka kembali pintu pagar itu.
"Handphonemu..." Doddy mengangkat tangannya, di genggamannya nampak sebuah ponsel yang Diah mengenalnya sebagai ponselnya.
"Ini..."
Diah menyambut uluran tangan Doddy, sejenak kulit tangan mereka bersentuhan, terasa dingin, sedingin malam yang beranjak semakin tinggi itu.
"Terimakasih." Diah mengucapkannya dengan tersipu, di valik cahaya temaram lampu-lampu yang terpancang di dinding tembok pagar itu, mata Doddy berkilat menatap wajah Diah, begitu lekat dan dalam.
"Diah..."
Sebelum Diah menutup kembali pagar, suara Doddy menghentikannya.
"Ya...ada apa?"
__ADS_1
"Bisakah kamu memanggilku sekali lagi." Doddy menelan ludahnya sendiri saat mengucapkan permintaan itu.
"Memanggilmu?" Diah mengerutkan dahinya sedikit bingung.
Doddy tak bergeming di depan Diah, dengan segenap keberaniannya yang seakan menciut dia berdiri tak beranjak di depan pagar di mana Diah terpaku seperyi arca menunggunya melanjutkan kalimatnya.
"Memanggilku dengan nama Fajri..."Ucap Doddy dengan suara parau.
"Oh..." Seketika Diah salah tingkah, tak di sangkanya Doddy memperhatikan apa yang di ucapkannya tadi.
"Memanggil dengan bagaimana...?" Diah menggigit bibirnya.
"Memanggil namaku saja..."Sudah kepalang tanggung, Doddy terpaksa tidak mundur dari permohonan anehnya, yang dia sendiri tak bisa mengendalikan mulut lancangnya.
"Fa...Fajri?" Suara Diah lirih. Tapi terdengar jelas meski terbata, alisnya nampak berkerut saat melafalkannya.
"Terimakasih. Selamat malam, Diah."
Doddy tersenyum sebelum kemudian berbalik pergi, di iringi pandangan mata Diah yang kebingungan.
Setelah menutup pagar, Diah berjalan tergesa hendak membuka pintu, ketika dari sebelahnya, pada kursi teras yang berada di sudut terdengar suara desah nafas berat.
Diah hampir terlonjak karena terkejut, matanya mendapati sesosok tubuh yang duduk di sana mengamati kedatangannya.
"Malam yang menyenangkan..." Nada suara itu begitu berat, sarat rada cemburu yang tak dapat ditutupinya.
"Mas?"
(Akak dah triple UP ya hari ini, terimakasih banyaaaaaaaak buat VOtE, like, komen, kopi, bunga dari semua reders kesayangan, kalian yang terbaik😅😅😅 Nantikan kisah selanjutnya di esok hari. Love you all, dukungan kalian adalah penyemangat othor🙏🥰🥰🥰)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....