
"Bella, kenapa kamu berdiri di atas kursi seperti itu? Tidak sopan bersikap begitu di depan tamu..."
Diah muncul di depan pintu kamar yang terbuka, berdiri hampir tak di sadari oleh dua orang yang sibuk membuat perjanjian itu.
Kepala Doddy berpaling, tertegun sesaat dan menatap terpana pada Diah tampak begitu anggun dan mempesona dalam balutan gaun floral yang sederhana tetapi saat Diah mengenakan, dia begitu menawan.
Bella langsung turun dengan wajah cemberut menghambur pada sang mama yang sedang menegurnya itu.
"Mama, mama mau pergi?" Tanya Bella sambil memeluk pinggang mamanya.
"Mama akan pergi sebentar dengan om Doddy, Bella akan tinggal dengan tante Adis, ya..." Ucap Diah setengah membujuk.
Diah memang telah meminta adiknya, Adis untuk menginap bersama mereka khusus malam ini. Adis akan menjaga Bella, karena asisten rumah tangga yang membantu di rumahnya hanya bekerja sampai Diah pulang dari kantor. Dia tidak menginap, karena mempunyai keluarga dan rumahnya pun tak jauh dari sekitar apartemen Sarah yang kini di tempati oleh Diah.
"Mama tidak akan lama?" Tanya Bella dengan tingkah imutnya.
"Bella akan tidur menunggu mama."
"Mama tak akan lama, tapi Bella harus tidur kalau tante Adis menyuruh Bella tidur." Diah membungkuk mencium kedua pipi gadis kecilnya itu.
"Mama jangan lama, ya..." Rengeknya sambil menyalami dan mencium tangan Diah, tanda dia mengijinkan mamanya itu pergi.
Bella berbalik ke arah Doddy yang masih terpaku menatap Diah, matanya tak berkedip pada perempuan yang tampak begitu anggun dalam gaun putih bercorak bunga itu.
"Om Doddy..."
Bahkan Doddy tak menyadari Bella sedang melotot padanya, baru dia sadar saat Bella menggoyang-goyangkan tangannya.
"Jaga mama, ya." Ucapnya sambil mengerjapkan matanya.
"Oh, tentu saja. Om Doddy akan menjaga mama Bella dengan segenap jiwa raga." Doddy tersenyum pada Bella, sambil melirik pada Diah yang tampak tersipu.
__ADS_1
"Terimakasih." Bella meraih jemari Doddy dan menyalami serta mencium tangan laki-laki yang tampak rapi dalam balutan hem biru cerah yang membuatnya semakin terlihat mempesona.
Doddy terpana, baru kali ini dia menerima salim dari seorang anak, darahnya terasa menghangat, seketika jiwa kebapakannya seolah muncul ke permukaan. Dia merasa begitu indahnya di perlakukan sehangat itu oleh seorang anak.
"Apakah kita bisa berangkat sekarang?" Tanya Diah memecah senyap yang tiba-tiba antara mereka.
"Oh, sebaiknya memang kita berangkat sekarang." Doddy menepuk lembut kepala Bella, sebagai tanda dia pamit membawa mama dari gadis kecil yang kini mendonggak lucu padanya.
"Adis, kaka pergi dulu ya..." Diah pamit pada adiknya yang keluar dari kamar dan mengambil tangan Bella, gadis kecil itu sempat-sempatnya mengedipkan matanya dengan lucu pada Doddy sambil mengangkat kelingking mungilnya seolah mengingatkan Doddy bahwa mereka berdua terikat perjanjian.
...***...
"Kamu cantik sekali malam ini." Akhirnya Doddy tak tahan untuk tak mengeluarkan kalimat pujian itu yang di tahannya dari tadi.
"Menyetirlah dengan baik. Tidak usah terlalu banyak melirik." Yegur Diah sambil tersenyum rikuh, dia merapikan duduknya menjadi sedikit tegak, perutnya terasa aneh karena ketegangan yang mulai menyerangnya. Diah sangat gugup, sesungguhnya dia tak bisa menyembunyikan perasaan itu yang terpancar jelas dari gerakannya yang kaku dan sedikit gemetar.
"Aku sangat menyukai penampilanmu malam ini." Doddy tersenyum, sekarang matanya lurus ke depan membelah malam.
"Aku sudah menceritakan bahwa aku mencintai seorang perempuan dan aku tak ingin melepaskannya lagi." Jawab Doddy ringan.
"Bukan itu yang kutanyakan." Sahut Diah dengan ragu.
"Maksudmu?"
"Apakah kamu sudah mengatakan dengan jujur latar belakang statusku pada orang tuamu?" Tanya Diah sbil menunduk, tangannya saling meremas.
"Apskah menurutmu, aku orang yang suka menyembunyikan sesuatu?" Doddy balik bertanya.
"Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman nantinya. Jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun nanti jika bertemu, jika mereka sudah tahu...jika aku...jika aku seorang janda." Diah membela diri dengan canggung.
"Ayah dan ibuku sudah tahu tentang itu, ku tidak perlu kuatir." Doddy terkekeh seolah sedang berusaha menenangkan Diah.
"Oh..." Diah tampak sedikit lega.
__ADS_1
"Apa tanggapan mereka tentang itu?"
"Ayah dan ibuku tidak mengatakan apapun saat aku memberitahu mereka jika perempuan yang ku cintai adalah seorang janda." Jawab Doddy dengan santai.
"Mereka tak mengatakan apapun?" Diah mengangkat wajahnya, menatap kepada Doddy yang menyeringai di belakang setiran.
"Ibu hanya bilang, beliau ingin bertemu dengan perempuan yang telah menahlukkan hati putra kesayangannya. Karena itulah dia datang lebih awal dari seharusnya." Ucap Doddy sambil mencuri pandang pada perempuan yang sekarang terpana menatapnya.
"Sepertinya ibuku tak sabar untuk bertemu calon menantunya." Doddy tertawa kecil. Diah terdiam, dia tak tahu apakah harus senang atau harus takut sekarang.
Menurut hati kecilnya sebagai perempuan sungguh ironis jika seorang ibu tak banyak bertanya tentang pasangan sang anak. Apalagi jika mendengar orang yang sedang dekat dengan anaknya itu adalah perempuan yang pernah gagal dalam rumah tangganya dan bahkan mbawa anak dari pernikahan sebelumnya.
Mobil itu berbeluk ke sebuah rumah besar yang tampak terang benderang, pintu pagar itu segera di buka saat Doddy memberi klakson dua kali tanpa jeda.
Rumah keluarga Doddy ini di desain simple dengan gaya klasik modern yang mewah.
Catnya yang putih bersih itu berkilat di antara cahaya lampu, terlihat elegan dan nyaman
Diah menggigit bibirnya sendiri saat mobil Doddy memasuki pekarangan yang cukup luas itu dan berhenti di depan garasi.
"Kita sudah sampai." Tiba-tiba tangan Doddy meraih jemari Diah yang dingin.
"Kita bertemu ayah dan ibuku, tidak hanya sekedar membawamu berkenalan, tetapi memburu restu mereka. Aku sangat ingin menghalalkanmu segera dalam pernikahan." Kata-kata Doddy mengalir hangat. Dan dalam detik berikutnya Doddy menangkupkan tangannya di atas jemari Diah.
"Kita berdua akan meyakinkan mereka." Doddy tersenyum, menarik kedua tangan Diah dan meletakkannya di dadanya, seolah sedang memberikan kekuatan pada Diah melewati degup jantungnya.
"Ikutlah denganku." Doddy mencium jemari Diah yang dingin seperti es itu, sebelum melepasnya dan membukakan pintu mobil, memvawa Diah untuk keluar dari sana.
"Jangan takut, ada aku..."
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full. ...
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...