
Selama dua minggu, Doddy tinggal di Jakarta sambil mengurus persiapan umrohnya. Dia tak banyak bicara, bahkan pada orang tuanya.
Doddy kadang menghubungi Diah lewat telpon, tetapi Diah sepertinya menghindar.
"Sebaiknya, kamu mempersiapkan dirimu untuk ke tanah suci."
Dan setelah berhari-hati, Doddy menerima sebuah pesan lewat WA di kirimkan Diah tiga hari sebelumnya, setelah puluhan pesan di tulis Doddy tanpa balasan sama sekali.
"Selamat beribadah umroh, berdo'alah yang terbaik untuk kita di sana. Semoga Allah meridhoimu. Jika kamu kembali dari sana, kita pasti akan bertemu. Dahulukan Allah di atas semua niatmu. Semoga ibadahmu diterima Allah. Barak allah fik."
Hanya itu saja, setelahnya Diah menonaktifkan setiap panggilan Doddy.
...***...
Setelah hampir 12 jam perjalanan dari Jakarta, akhirnya Doddy dan kedua orangtuanya menjejakkan kakinya di Jeddah, Kota Jeddah terletak sekitar 70 kilometer di sebelah baratnya Makkah.
Mereka melakukan umroh bersama beberapa oranglain yang sepertinya di bawah naungan yayasan sang mama, lima pasang suami istri yang membantu mengurus yayasan sosial yang tak mampu, di hadiahkan mama Doddy untuk beribadah umroh bersama mereka secara ekslusif.
Mereka berangkat dengan menyewa sebuah tour umroh eksklusif milik teman sekolah pak Ferdian, dan tentu saja perjalanan itu secara khusus di danai oleh pak Ferdian.
Ustadz dan mutawif yang menyertai mereka juga di tunjuk oleh Pak Ferdian secara khusus, sepertinya umroh kali ini begitu spesial baginya karena Doddy berada di dalam rombongan, sesuai dengan harapan sang mama.
Doddy lebih pendiam, sepanjang perjalanan dari Jedah menuju Medinah, dia tak henti menggenggam sebuah gelang tasbih, memantapkan hati supaya fikiran dan jiwanya hanya di arahkan untuk perjalanan ibadah itu.
Matanya tak henti mengagumi kota dimana makam Rosul itu berada.
__ADS_1
Selama empat hari mereka berada di Medinah, Papa Doddy mengajaknya mengelilingi kota itu, berziarah ke berbagai tempat dari makam Rosul dan sholat di mesjid Quba, mesjid pertama yang bangun nabi.
Mamanya menemaninya berjalan di pasar Kurma yang terletak di pinggir sebuah kebun kurma, dekat dengan mesjid Quba usai shalat dan bercerita tentang pengalaman pertamanya berbelanja di pasar ini bersama papa Doddy.
"Papamu sampai terduduk di beton itu karena kelelahan menungguku menawar sebuah abaya dengan seorang penjualnya. Kamu tahu, nak pedagang itu adalah seorang pria Arab yang hanya bisa berbahasa Indonesia dengan pas-pasan, padahal mama ingin membeli banyak untuk di jadikan oleh-oleh untuk teman-teman nenekmu, mama sampai bingung karena dia berusaha keras meyakinkan bahwa harganya sudah pas." Mama Doddy bercerita sambil menunjuk sebuah beton memanjang di pinggir pasar kurma itu, dengan penuh semangat dia bercerita, sepertinya kenangan itu begitu melekat di ingatannya.
Doddy tersenyum sambil mengarahkan pandangannya pada isi gedung besar yang cukup padat oleh jemaah yang berbelanja. Suasananya riuh dengan teriakan penjual yang bersahutan dengan jemaah yang menawar. Lantainya lengket karena bertebaran biji-biji kurma yang mungkin di cicipi atau di makan oleh para pengunjung. Kendati padat, tapi tidak gerah karena ada pendingin udaranya.
Sekilas Doddy menatap ke satu arah di antara kerumunan itu, matanya mengerjap, pada seorang perempuan dalam dalam pakaian hitam sedang berdiri dan tak sengaja menatap ke arahnya, sejenak dia terpesona, wajah itu begitu familiar di otaknya.
"Kurma Ajwa, kurma Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam, 400 ribu! 400 ribu!"pedagang di depan Doddy yang sepertinya adalah pekerja asal Indonesia membuyarkan fokus pandangan Doddy.
"Diah...?" Doddy mendonggak, berusaha mencari sosok itu di antara kerumunan, tanpa memperdulikan mamanya yang sibuk bercerita.
Doddy memegang dahinya, mengucapkan istiqfar karena begitu memikirkan Diah bahkan dia merasa telah melihat Diah berada di mana-mana.
Sekuat apapun Doddy berusaha menepis bayangan yang menangis sambil mengucapkan permintaan maaf di pelukannya itu, terasa begitu melekat di benaknya.
...***...
Hari kelima, setelah sholat berjamaah di mesjid Nabawi untuk terakhir kalinya, rombongan kecil mereka bertolak Mekkah, sebuah kota suci yang menjadi perjalanan impian dari seorang muslim. Dan Doddy selalu memimpikan berangkat ke sini dengan orang yang dicintainya suatu saat.
Doddy ingin menginjakkan kaki di sini, berjalan-jalan melihat keadaan kotanya yang indah, mengunjungi tempat-tempat suci dan melaksanakan ibadah bersama pasangan halalnya sambil bergandengan tangan, bukankah itu luar biasa.
Doddy menatap kepada orangtuanya yang terlihat begitu bahagia dan mesra, mereka khusuk menikmati perjalanan ibadah itu. Sepertinya tak ada kebahagiaan yang melebihi dari apa yang sedang mereka alami. Cinta keduanya satu sama lain, sungguh membuat Doddy iri, menghabiskan hari tua dengan kebahagiaan seperti itu, siapa yang tak ingin?
__ADS_1
...***...
Doddy meletakkan dada, pipi dan kedua telapak tangannya di Multazam, segala puja puji di lantunkan orang-orang yang juga bergantian memeluk Multazam itu sambil berdo'a sembari beshalawat dan memberi salam kepada Nabi.
Doddy tak pernah merasa seharu ini, memeluk tempat yang selalu menjadi kerinduan setiap orang itu. Setelah mengucapkan beshalawat dan memberi salam kepada Nabi, mengucapkan
do'a yang di anjurkan untuk di lantunkan di depan Multazam, serta mendo'akan kedua orangtuanya, kemudian Doddy berdo'a secara khusus,
"Ya Tuhan, aku memohon ampun kepadamu dari apa-apa yang telah aku lakukan yang tak berkenan, jauhkan aku dari keburukan untuk mengulanginya, dan aku memohon ampun atas apa yang telah Engkau tetapkan namun aku tak melakukannnya, dan aku memohon ampun atas dugaanku terhadap-Mu yang membuat hatiku resah. Dan Tuhan Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dan sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dengan ijin-Mu dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia, dan akhirat. Jika Diah adalah Jodohku yang telah Engkau persiapkan, mudahkanlah perjalanan kami menuju halal-Mu...Tidak seorang pun hamba ya Allah di hadapan kebesaran-Mu, yang berdoa di tempat ini dalam kerendahan memohon ridho-Mu yang maha mengabulkan do'a.”
Airmata itu, tak tertahankan jatuh di pipi Doddy saat bermunajat menyebutkan nama Diah di antara do'anya.
Setelah dia berdo'a, Doddy mundur memberi kesempatan kepada jemaah lain yang ingin berdoa seperti dirinya Barisan depan adalah barisan jemaah Laki-laki dan barisan belakang adalah jemaah perempuan.
Usai berdoa di Multazam, Doddy dan rombongan jemaah yang laki-laki mencari di mana mamanya dan para perempuan dari rombongan kecil mereka, pada saat itulah Doddy terpana pada seseorang yang berdiri di samping mamanya, dalam balutan kain ihram yang putih bersih di gandeng oleh sang mama, dia seperti seorang bidadari yang baru turun di depan pintu Multazam.
(Mohon maaf jika di dalam penyampaian cerita pada bab ini tidak sesuai dengan kerunutan aturan umroh, author lebih fokus ke alur menuju pertemuan Doddy dengan jodohnya, ya🙏😊)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1