
"Sally..." Sarah masih tertegun di tempatnya berdiri, tangannya masih memegang lead pencil graphite.
Sally membuka kacamata hitamnya, nampak mata kuyunya yang dulu begitu cantik berbinar kini gelap berkantung.
Dengan acuh, dia menghempaskan pinggulnya di sofa ruangan kerja Sarah dan duduk menyilangkan kakinya seperti seorang nyonya.
Sarah baru saja akan membuka mulutnya lagi tapi dengan kasar Sally menyela,
"Jika kamu ingin bertanya, apakah aku baik-baik saja? Lupakan saja! aku sedang tak butuh basa-basimu. Aku telah cukup sehat untuk mengingat bahwa kakakku sendiri merebut tunanganku!"Suara Sally begitu sinis.
"Aku datang kemari untuk menanyakan kepadamu, kenapa kamu merebut Raka dariku?" Mata Sally seperti menusuk ke arah arah Sarah.
Sarah meletakkan pencil di tangannya lalu mendekat.
"Aku tidak merebut tunanganmu, Sally. Aku menikahinya atas permintaan papa dan mama, karena kamu meninggalkan pernikahanmu sendiri." Sarah menjawab dengan suara bergetar. Dia berusaha menjelaskan.
"Meski aku meninggalkan pernikahanku, bukan berarti kamu merasa berhak untuk menikahinya."Tuding Sally.
"Aku juga sebelumnya tidak menginginkan menggantikan tempatmu Sally. Aku melakukannya karena terpaksa!"Sarah menyahut dengan suara agak tinggi.
Selama ini dia jarang sekali berdebat dengan Sally dan kadang memang dia menghindari ada perselisihan dengan adiknya itu.
Dia mengerti benar posisinya sebagai anak angkat, tidak akan mendapat tempat, baik dia salah maupun benar. Semua tetap berakhir sama, dia tetap salah.
"Jika kamu terpaksa menikahinya, kenapa kamu tidak meminta Raka menceraikanmu sekarang!" Sarah mencibir pada Sarah
Sarah terdiam kemudian lebih mendekat kepada Sally, duduk di seberang adiknya itu sambil berusaha bersikap tenang.
"Apakah kamu ingat, kamu telah meninggalkan Raka karena lari dengan Bram? Kamu tak tahu penderitaan kami berdua saat itu, berusaha menutupi semuanya di depan orang banyak..."
"Jangan coba-coba berusaha menghakimiku!" Sally memotong kalimat Sarah dengan wajah memerah.
"Aku tidak berusaha menghakimimu, Sally...aku hanya mengingatkanmu kembali, supaya tidak melemparkan setiap kesalahan kepada kami berdua Raka..."
__ADS_1
"Kami berdua? Kami...berdua...!" Sally menepuk tangannya seperti seseorang sedang memberi aplaus.
"Luar biasa, kamu menyebut kata-kata itu dengan begitu mesra. Terasa menjijikkan di telingaku, Sarah." Sally membuat bibirnya seperti orang begitu jijik.
Seketika raut wajah Sarah merona, ketenangan yang coba dibangunnya tiba-tiba seperti ambruk.
"Kami sudah menikah dengan sah!" Sarah yang tak pernah sekalipun berteriak kepada adiknya itu, mengeluarkan suara keras. Tapi hari ini dia melakukannya.
"Kalian menikah tanpa dasar cinta! Tidak perlu saling menipu diri lagi. Raka telah menjadi kekasihku lebih dari lima tahun, tak akan semudah itu dia memalingkan hatinya dariku." Sally berdiri dan mencondongkan tubuhnya kepada Sarah yang duduk dengan raut tegang di seberang meja.
"Kamu hanyalah pelampiasan seseorang yang sedang patah hati! Dia tidak mencintaimu, Sarah. Tidak pernah mencintaimu! Aku tahu benar siapa Raka dan bagaimana dia." Sally menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan tatapan begitu meremehkan.
"Kami sudah saling mencintai, Sally. Aku minta maaf harus mengatakan ini." Sergah Sarah.
"Berhentilah bersikap bodoh Sarah! Atau kamu memang benar-benar sudah bodoh! Raka membalaskan dendam dan sakit hatinya padaku dengan berpura-pura mencintaimu! Aku sangat mengenal Raka, dia tidak pernah benar-benar marah untuk setiap kesalahanku. Dia akan segera memaafkanku." Senyum Sally mengembang.
"Sally...!"Sarah mendonggakkan wajahnya yang merah padam. Perasaannya campur aduk tak karuan.
Entah kekuatan dari mana, Sarah berdiri dan menantang wajah adiknya, perbuatan seumur-umur tak pernah dilakukannya sama sekali.
"Jangan menganggap perasaan orang adalah batu, Sally. Semua bisa berubah, di dunia ini tak ada yang tak bisa berubah. Dulu, Raka mungkin menyukaimu bahkan mencintaimu, tapi sebuah kekecewaan tak akan bisa membuat orang tetap berdiri pada tempat yang sama." Sarah berucap dengan nada yang tak bisa di gambarkan.
"Pengkhianatanmu padanya telah membuat perasaannya terkikis, bahkan aku hampir percaya jika sekarang telah habis.
Kamu telah menyia-nyiakan orang yang mencintaimu, jangan timpakan kesalahan kepadaku ketika dia kemudian berpaling darimu."Sarah berdiri sejajar dengan adiknya itu, saling menghujamkan pandangan.
"Aku hanya memintamu mengembalikan Raka kepadaku, tidak usah menceramahiku untuk hal-hal yang tidak perlu!" Air muka yang tak merasa berdosa sedikitpun itu sungguh membuat siapapun merasa geram.
Entah Sally yang berpura-pura lupa atas semua yang telah dilakukannya di masa lalu ataukah dia benar-benar sudah begitu terobsesi dengan Raka sehingga menutup mata untuk setiap dosa yang telah dia perbuat.
"Jangan mengatakan aku yang bodoh, Sally. Sekarang aku melihat kamu yang sedang membodohi dirimu sendiri. Berhentilah bersikap seperti ini. Kamu telah pulang, berusahalah memperbaiki setiap kesalahan yang sudah-sudah."Sarah menurunkan volume suaranya, dia tak pernah se emosi ini pada adiknya sendiri.
"Sarah, aku datang kemari, setelah aku berhari-hari diperlakukan seperti orang gila, di recoki berbagai obat penenang dan dokter sampai psikiater silih berganti! Semua menganggapku tak waras, hanya karena aku meminta apa yang menjadi hakku! Sekarang aku telah merasa cukup menerimanya, aku tak akan diam lagi. Tujuanku kemari, memintamu menceraikan tunanganku!" Sally menunjuk wajah Sarah dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Aku tidak akan menceraikan suamiku!" Sarah menyahut dengan keras tetapi gemetar, wajah Raka berkelebat di kepalanya sesaat.
"Aku tidak pernah menceraikan Raka, jika itu yang kamu ingin dengarkan. Aku dan dia sudah cukup menanggung setiap kesakitan yang telah kamu perbuat pada kami. Suka atau tidak suka, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak bisa mengabulkan permintaanmu, Sally!"Lanjut Sarah sekarang tak lagi ada nada ragu.
"Sarah, mama tak akan memaafkanmu untuk perlakuanmu padaku sekarang ini."Sally menyipitkan matanya begitu mengancam. Matanya berkaca-kaca, entah karena merasa kalah ataupun marah.
"Sudah cukup, Sally...sudah cukup, aku selalu mengalah untuk banyak hal dalam hidupku demi kamu. Aku juga berhak untuk memilih jalanku. Aku berhak untuk bahagia juga."Suara Sarah melemah, dia merasa begitu lelah dan sedih pada saat bersamaan.
"Silahkan kamu bahagia dengan siapapun, tapi ceraikan Raka. Dia memilih kembali kepadaku atau tidak, itu bukan urusanmu. Aku hanya ingin kamu menceraikan tunanganku sekarang juga! Aku tidak bisa hidup membayangkan kamu bersamanya!"Sally mengepalkan jemarinya kuat-kuat, kecemburuan yang membara berkilat di mata yang seperti lingkaran gelap itu.
"Untuk permintaanmu yang satu ini, meskipun kita harus bertengkar, aku tidak akan melakukannya. Jangan pernah merasa kamu berhak atas seseorang setelah kamu mencampaknya. Dia bukan bonekamu, dia bukan mainanmu! Ketika kamu memilih untuk tidak setia pada seseorang, maka jangan pernah berfikir kamu berhak atas dirinya." Sarah mundur beberapa langkah. Wajahnya yang selalu nampak lembut itu, begitu dingin.
"Raka bukan tunanganmu lagi, aku telah menikahinya secara sah. Dan aku tidak akan menceraikannya jika itu karena permintaanmu dan memuaskan keegoisanmu. Aku masih kakakmu, tapi aku bukan Sarah yang dulu lagi, aku tak akan tinggal diam jika kamu ingin merebut apapun lagi dariku."Sarah benar-benar tak pernah bersikap setegas ini pada Sally.
Dulu saat masih kanak-kanak, jika pun Sally merebut bonekanya karena iri dan kemudian merusaknya di depan matanya, dia tidak pernah protes atau mengeluh.
Tapi hari ini, dia berdiri membela dirinya dengan begitu keras.
"Jika kamu sudah mendapatkan jawaban dari apa yang ingin kamu dengar dan ketahui, pulanglah." Sarah beranjak dan membuka pintu ruangannya lebar-lebar.
Mata Sally melotot hampir keluar, tak percaya dengan semua perlakuan Sarah padanya.
Lalu dengan wajah merah padam dia meraih tas kecil yang tadi di tentengnya.
Sebelum dia melewati pintu yang menganga, dia menghentikan langkahnya. Menoleh kepada Sally dengan raut marah dan penuh dendam kemudian berkata dengan nada geram,
"Kamu akan membayar apa yang kamu lakukan padaku hari ini. Aku berjanji, kamu akan membayarnya!"
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu lho🙏...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP🙏☺️...
__ADS_1