Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 39 MENYEMBUNYIKAN PERASAAN


__ADS_3

Menjelang pertengahan bulan mei adalah musim semi di Belanda, pada bulan ini bertepatan dengan ujian semester Raka di Leiden University.


Bunga-bunga tulip sedang bermekaran di kota kincir angin itu.


Raka dan Sarah baru saja berpisah dengan Aldert setelah makan siang yang begitu canggung di centennial restaurant barusan.


"Kalian bisa menginap di rumahku, jika mau...mungkin Sarah mau jalan-jalan dulu di Amsterdam."Tawar Aldert.


"Terimakasih, mungkin lain kali kami tidak akan melewatkan tawaran menarik ini. Hanya saja kami harus mengejar jadwal kereta menuju Leiden siang ini. Ada sedikit tugas semester yang tidak bisa ku abaikan."Tolak Raka dengan halus.


"Apakah benar di Keukenhoff, bunga tulip sedang mekar seperti ceritamu kemarin?" Sarah tergelitik untuk bertanya, karena saat dia mengabarkan kedatangannya ke Belanda, Aldert bercerita tentang sebuah taman tulip dalam berbagai warna sedang mekar di sana, dan janji Aldert mengajaknya untuk melihatnya.


"Natuurlijk! Taman ini akan dibuka sampai akhir bulan ini."Jawab Aldert bersemangat.


Sayangnya Raka sama sekali tidak menunjukkan wajah tertarik.


"Kami akan datang lain kali, untuk hari ini kami langsung ke Leiden."Jawaban itu barang tentu mematahkan semangat Sarah.


Hampir setengah tahun berpisah, sikap Raka tak pernah berubah. Suka semaunya sendiri tanpa memperdulikan perasaan Sarah.


Sepeninggal Aldert, Raka menyetop taksi dan memintanya mengantar mereka berdua menuju stasiun kereta api Amsterdam Central Station.


"Kamu mengurus pekerjaanmu dengan laki-laki bergaya aneh itu?"tiba-tiba Raka bertanga memecah keheningan di dalam taksi.


"Aldert tidak aneh!"Sarah menyahut dengan muka kesal.


"Berpakaian dengan corak bunga seperti itu, bukan hal yang aneh menurutmu?"Wajah acuh itu benar-benar membuat Sarah dongkol melihatnya. Dia bingung sendiri bisa jatuh cinta dengan laki-laki searogan ini.


"Itu style dia dari dulu. Tak masalah bagiku." Sahut Sarah sambil membuang pandangnya ke luar jendela, jengah saat mata mereka sejenak bertemu pandang.


Dada Sarah terasa bergemuruh seperti genderang, begitu aneh saat merasa gugup duduk berdampingan dengan Raka sekarang.


Raka cuma mendengus kecil, sedikit mengejek.


"Dia tidak gay kan?"


Sarah berpaling langsung ke wajah Raka,

__ADS_1


"Kenapa sih kamu tertarik dengan Aldert sebegitunya? Jangan-jangan kamu naksir dia!" Sarah mencibir.


Semua sikap dan pembicaraan yang sudah dirancangnya sebum berangkat, benar-benar tidak bisa diterapkannya saat bertemu Raka.


Dia sudah berjanji menjadi manis saat bertemu, tapi entah mengapa Raka suka sekali membuat nya kesal.


"Yang naksir dia sepertinya kamu."Sahut Raka.


"Kalau aku naksir Aldert, memangnya kenapa?"Tantang Sarah.


"Ya...itu urusanmu! Aku kan cuma bilang, temanmu itu aneh. Tidak usah sewot begitu."


"we hebben onze bestemming bereikt meneer (kita sudah sampai tempat tujuan, tuan)"


Karena perdebatan tak penting itu, mereka tak menyadari taksi sudah berhenti dan mereka sudah sampai stasiun.


Raka dengan wajah agak merah menyodorkan beberapa euro kepada si sopir yang tampak bingung dengan keributan yang dibuat oleh pasangan penumpangnya itu, lalu buru-buru mengucapkan terimakasih dan turun.


Pak sopir yang baik itu menurunkan koper Sarah dari bagasi, saat Sarah menoleh Raka telah berjalan menuju loket tanpa memperdulikan Sarah.


Kereta api jadwal siang dengan tujuan Leiden itu telah tiba, Raka melenggang dengan cuek masuk ke dalam kereta.


Sekarang, dengan acuhnya dia berjalan seolah mereka berdua tidak saling kenal. Sarah menarik koper untuk mencari bangku kosong di dalam gerbong. Tidak terlalu banyak penumpang. Jadi dia bisa meletakkan koper sedikit lebih leluasa.


Tidak berapa lama, kereta melaju dengan kecepatan sedang. Sarah duduk diam di seberang bangku Raka.


"Kamu belum jawab, apa si aneh itu teman bisnis yang mau kamu temui?"tanya Raka tiba-tiba.


Sarah mengangkat wajahnya, ternyata masalah Aldert tadi belum selesai rupanya.


"Ya. Kenapa?"Jawab Sarah sekenanya. Dia tidak punya urusan penting ke Belanda ini selain mendatangi laki-laki ini, tapi sekarang dia heran sendiri orang yang dirindukannya siang malam ini, begitu tak tahu perasaan.


Raka terdiam, dia tidak berbicara lagi.


"Kamu tidak bilang akan menjemputku."Akhirnya Sarah berucap setengah bergumam.


"Karena aku tidak mengabarkan apa-apa, lalu kamu merasa senang si aneh itu menculikmu."Kalimat sinis itu terdengar datar.

__ADS_1


"Aku tidak pernah ke Belanda, ada seorang teman menawarkan untuk menjemputku, apa itu salah?"tanya Sarah sambil menatap kepada Raka. Dan pada saat yang sama Raka pun menatap wajahnya, dengan tatapan sekilas berbeda. Tatapan itu terasa menyimpan sesuatu yang mendebarkan, tidak sedingin biasanya jika mereka bertemu sebelumnya.


"Kalau mama tidak bilang, kamu mengatakan padanya pertama kalinya ke sini, mungkin sekarang aku sedang berada di kampus. Kenapa kamu bodoh sekali, sok datang sendiri begini, kalau terjadi apa-apa padamu bagaimana?"Sejurus raut cemas itu berkelebat di wajah tampan Raka meskipun nadanya ketus.


"Kamu kan sibuk! Terus aku harus bagaimana?"Sarah menyahut dengan wajah masam, di sebut bodoh membuatnya kesal.


"Aku hilang juga tidak penting buatmu...malah membuat bebanmu berkurang. Tidak perlu repot-repot menceraikan..."


Belum sempat kalimat itu selesai tiba-tiba Raka mencondongkan badannya, telunjuk raka menekan bibir Sarah dengan mata tak berkedip. Sekelebat lagi, kecemasan itu lewat, Raka hampir tak bisa mengendalikan dirinya.


Mata Sarah melotot, kemudian berputar melirik ke sekeliling. Beberapa penumpang kereta tampak menatap mereka.


Raka segera menarik tangan dan badannya dengan salah tingkah.


"Kalau kamu kenapa-kenapa, aku harus bilang apa sama mama."Pernyataan yang hanya dalih itu terlontar begitu saja dari bibir Raka.


Sarah hanya menyeringai, selalu saja mengatasnamakan mama untuk segala hal, terlebih untuk membela diri dan menekan Sarah.


"Kalau perlu kuantarkan, kamu bilang saja. Dari pada kamu nyasar tidak jelas, bikin masalah saja."Tambahnya, kemudian dengan acuh membuka ponselnya, seolah sibuk mencari-cari sesuatu.


"Aku tidak mau merepotkanmu, aku bisa belajar sendiri."sahut Sarah sambil merapikan rambut panjangnya.


"Kalau kamu terlalu keras kepala, lupakan saja urusan bisnismu itu! Besok aku akan mengirimmu kembali ke Indonesia."Suara Raka terdengar kesal.


"Memangnya aku barang apa?"Gumam Sarah, tapi Raka sekarang mengacuhkannya.


"Tidak perlu repot-repot mengirimku pulang. Aku akan di sini untuk beberapa hari sampai aku tahu, apa benar kamu memiliki perempuan lain yang telah membuatmu jatuh cinta itu, seperti yang di katakan mama."


Sarah membatin dalam hati.


Mereka berdua duduk di bangku masing-masing, pura-pura sibuk sendiri. Diam-diam saling melirik dan memperhatikan.


Perjalanan sekitar satu jam di dalam kereta itu, mereka bergelut dalam hening, menyembunyikan perasaan mereka masing-masing.



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2