Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 136 SEBAIT DO'A UNTUK AYAH


__ADS_3

Selama seminggu, ayah Sarah terbaring koma di ruang ICU.


Kangker telah menyebar ke seluruh tubuhnya di bawa oleh Darah, semua organnya hampir semuanya telah dipenuhi jaringan myeloma.


Penyakit itu telah menyebar sedemikian cepatnya, membuat ayah Sarah menjadi tak berdaya dalam sekejap. Airmata Sarah tak pernah berhenti, menunggu untuk setiap keajaiban yang mungkin terjadi.


Siang dan malam dia selalu berada di samping sang ayah, bahkan untuk makan dia harus di paksakan oleh Raka.


"Sayang, kamu harus tetap kuat menghadapi ini semua...kamu harus makan. Karena jika kamu sakit, maka bagaimana kamu kuat untuk terus bisa mendampingi ayah."


"Aku...aku tak bisa menelan apapun sekarang."


"Sayang, apapun yang terjadi. Kemungkinan terburuk yang terjadi pun tidak mungkin bisa kita sangkal jika harus terjadi. Tapi selalu ada hikmah di balik semua kejadian. Dan Lagi Rae memerlukan mamanya tetap sehat, dia masih perlu ASI mamanya." Raka mengambil sekotak nasi yang baru saja di bawanya.


Sarah menggelengkan kepalanya, betapa tidak sang ayah sudah begitu lama terbaring dengan mata terpejam di ruang Intensive Care Unit, hanya alat-alat medis khusus yang tampak seperti rangkaian kabel ke tubuh ayahnya, alat-alat tersebutlah yang digunakan untuk menunjang fungsi organ yang rusak pada pasien, agar bisa bertahan hidup.


Raka mengambil sendok, dan menyendok nasi ke mulut Sarah.


"Sayang, makanlah...demi ayah." Ucap Raka lembut. Sarah menggeleng, dia sungguh tidak berselera makan sekarang.


"Ayah tidak makan apa-apa. Dia tak pernah bangun hampir seminggu." Tolak Sarah, dia benar-benar merasa begitu frustasi dengan keadaan ayahnya.


Sarah kadang hanya bisa menatap sang ayah dari balik kaca, aturan yang berlaku di ruang ICU berbeda dari kamar rumah sakit biasa. Keluarga dekatpun dalam kondisi tertentu tak bisa masuk. Tapi sedari awal memang hanya Sarah dan Rakalah yang dijinkan untuk masuk ke sana.


Sarah hampir tak tega melihat selang ventilator bisa dimasukkan melalui mulut, hidung atau melalui lubang kecil yang dibuat di tenggorokan, kata dokter alat itu sebagai alat bantu napas yang dipasang pada ayah Sarah karena sepertinya ayah Sarah kesulitan bern dengan kerusakan paru-paru yang parah hingga kesulitan bernapas.


Di samping tempat tidur ayahnya, terdapat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darah.


Kadang detak jantung Sarah terasa berhenti saat mengamati di layar tersebut, terlihat garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung ayahnya yang mengeluarkan suara sesuai detakan jantung ayahnya. Ketika malam, dia selalu hampir tak bisa tidur, dia begitu takut kehilangan bunyi detak jantung itu saat dia sedang terlelap.


"Makanlah demi aku dan Rae...kami tak tahu apa jadinya kami, jika kamu menjadi sakit juga."


Suara Raka terdengar lembut tetapi tegas.

__ADS_1


Sarah terpekur menatap suaminya, mendengar kata-kata itu, dirinya seolah di sadarkan, bahwa dia tidak boleh hanya larut dalam kesedihannya sendiri tanpa memikirkan orang-orang terdekatnya yang juga mencintainya.


Lalu diraihnya pergelangan tangan Raka, mengarahkan sendok itu ke mulutnya yang terbuka gemetar.


"Aku akan makan..." Ucap Sarah setengah berbisik, sambil mengunyah nasi yang masuk ke mulutnya.


"Aku...aku...harus makan." Di ambilnya kotak nasi dari tangan suaminya, lalu menyendok nasi dan mengunyah serta menelannya, meskipun makanan itu hampir tak ada rasanya di lidahnya.


Sarah berusaha tegar sambil terus makan di iringi tatapan Raka yang hampir tak berkedip, tapi air matanya tak bisa di bendung pada suapan ke delapan. Raka mengambil kotak nasi dan sendok dari kedua tangan Sarah, meletakkan ke meja dan memeluk istrinya itu.


Dia tak lagi berbicara. Raka tahu benar, Sarah menangis bukan karena dia begitu lemah. Tapi, karena Sarah telah berusaha kuat dalam waktu yang lama.


"Betapa sakitnya...Sakit sekali rasanya ketika aku sudah melakukan yang terbaik, tapi ternyata ini semua masih tidak cukup. Ini bahkan tak membuat perubahan apa-apa." Sarah terisak.


"Itu karena Tuhan sedang ingin melihat kekuatanmu, Dia membentukmu, menempamu dengan keras, supaya kamu tetap menjadi orang yang kuat."


Kata-kata Raka, berbarengan dengan seorang perawat yang menghampiri mereka.


Keduanya berdiri serentak saat mendengar ucapan perawat muda itu.


"Ada apa?" Tanya Sarah, dengan gugup. Raka menggenggam tangan istrinya yang mendadak dingin sebeku es.


Saat mereka tiba di dalam ruang ICU, ada dua orang dokter spesialis di sana. Ada dokter spesialis tulang yang menangani ayah Sarah dari awal, dokter Pram dan seorang dokter onkologi, dokter spesialis kangker, Dokter Budi.


"Bagaimana keadaan ayah?" Sarah menatap ke tempat tidur, di mana sang ayah terbaring seperti saat dia meninggalkannya tadi. Entah mengapa, Sarah merasa monitor detak jantung itu terlihat tidak beraturan.


Dokter Budi menatap kepada dokter Pram, dia merasa dokter Pram lebih baik dalam berbicara, mengingat dari awal dokter inilah yang selalu mendampingi perawatan Tuan Winarta.


"Ibu Sarah...Bapak sepertinya hari ini lebih drop, ada penurunan kondisi yang kemarin sudah saya sampaikan kemungkinannya kepada ibu." Dokter Pram menghela nafasnya sesaat.


"Kita sudah usahakan yang terbaik, dan bapak Raka juga telah mendengar prognosis pasien dari beberapa dokter yang menangani serta kemungkinan untuk bapak bertahan." Dokter Pram mengarahkan pandangan pada Raka.


"Kita telah juga melakukan tindakan resusitasi, dari riwayat penyakit bapak ini, kita benar-benar mengupayakan yang terbaik yang bisa kita lakukan." Kalimat yang penuh penekanan dan berulang-ulang itu membuat Sarah nanar menatap dokter.

__ADS_1


"Apa lagi yang harus kita lakukan?" Tanya Sarah dengan suara gemetar.


"Sebagai manusia, kita telah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi Tuhanlah yang empunya kehidupan umat manusia. Obat dan semua alat-alat medis hanyalah media, mukjizat Tuhanlah sekarang yang lebih dari semua." Jawab Dokter Pram.


"A...apa...yang harus ku lakukan?" Sarah berdiri dengan gemetar, dia sebenarnya tak perlu bertanya dua kali, dokter Pram telah cukup jelas mengatakannya, tak ada yang bisa di lakukan lagi kecuali berharap dan menunggu keajaiban dari Tuhan.


Raka memegang kedua lengan Sarah, menahan tubuh istrinya itu supaya tidak jatuh.


"Bawalah bapak berdo'a." Dokter Budi kemudian menjawab, laki-laki berwajah lembut itu tersenyum menguatkan.


Raka menuntun Sarah ke kursi di samping tempat tidur ayahnya.


Sarah memegang jemari ayahnya, punggung tangannya terasa hangat.


"Ayah...apakah ayah mendengarku?" Sarah mendekatkan wajahnya pada telinga sang ayah.


"Jika ayah mendengarku...aku ingin...aku ingin membawa ayah berdo'a." Bisiknya dengan suara bergetar.


"Tuhan...Maha pencipta semua kehidupan, Tuhan yang memberikan nafas pada semua mahluk."Dengan terbata Sarah mengucapkan kalimat demi kalimat sambil mengenggam tangan sang ayah.


"Saat ini, kami berdo'a ke hadiratMu, Engkaulah Tuhan yang mengizinkan kesakitan ini dan hanya Engkaulah yang berkuasa menghilangkan penyakit ini. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Engkau. Cabutlah penyakit ini, berikan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri lagi." Airmata Sarah jatuh tak tertahan, di atas tangan ayahnya.


"Tuhan, ambil semua rasa sakit ayahku, angkat semua penyakit ini, jika Engkau berkenan. Cukupkan penderitaannya, Tuhan...Tapi, Semua rencanaMu lah yang terbaik."


Mata ayah Sarah yang terpejam, tubuhnya diam tak bergerak, tapi dua bulir bening jatuh dari sudut matanya.



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...

__ADS_1


__ADS_2