Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 122 PERTEMUAN YANG DINGIN


__ADS_3

Sarah berdiri dengan gugup di depan sebuah Cafe, kakinya mendadak seperti terpaku di halaman bangunan itu.


"Papamu akan menunggumu di meja nomor 5..."Itulah yang katakan Raka ketika mengantarnya tadi.


"Apakah aku akan mengenalnya?" pertanyaan itu terasa begitu aneh ditelinganya sendiri. Bahkan Dia tak menyimpan sepotongpun foto sang ayah.


Tapi tak mengherankan, sejak kecil tidak ada yang menyinggung tentang ayahnya, bahkan papa yang merupakan saudara kandung sang ayah tak sedikitpun pernah membicarakan tentang laki-laki yang telah meninggalkannya sejak dia dilahirkan itu.


"Kamu akan mengenalnya, karena dia adalah ayahmu."


"Sebenarnya apa yang dikatakannya padamu, saat menemuimu hari itu?" tanya Sarah pada Raka, dia sungguh ingin tahu, mengapa ayahnya itu tiba-tiba datang mencarinya setelah sekian tahun.


"Dia akan mengatakan padamu." Raka tersenyum kecil.


"Tapi kamu bisa mengatakan padaku lebih dulu, supaya aku tahu bagaimana aku harus bersikap." Sahut Sarah.


"Tidak, sayang...aku tak mau mencuri momen ayah dan anak yang bertemu setelah sekian lama tak berjumpa." Raka bersikeras menolak untuk menceritakan perihal kenapa ayah Raka menemuinya tempo hari.


"Sayang, jangan membuatku menjadi serba salah" Keluh Sarah.


Dia sudah membesarkan hatinya untuk menemui sang ayah setelah mendengar segala hal yang dikatakan oleh suaminya itu tentang bagaimana menerima dan berdamai dengan masa lalu supaya dia bisa melangkah ke masa depan dengan jiwa yang tenang.


Tapi, tetap saja terasa begitu sulit melakukannya. Tidak semudah membalik telapak tangan untuk berbicara pada orang yang telah membenci keberadaan kita sejak kita baru membuka mata bertemu dunia.


Sarah menoleh ke area parkir, mobil Raka telah lenyap begitu saja.


"Aku hanya mengantarmu ke situ, karena aku ada urusan yang tak bisa di tunda pada jam yang sama. Aku akan menjemputmu dua jam setelahnya." itu yang dikatakan suaminya itu sebelum pergi.


Sarah menarik nafasnya, sekuat tenaga dia melangkah masuk dan mengatakan pada seorang pelayan cafe kalau dia ada janji dengan seseorang di meja nomor 5.


" Iya, bu...anda telah ditunggu dari setengah jam yang lalu." pelayan cafe itu menyahut dengan ramah.


Sarah ditunjukkan sebuah meja yang berada di sudut.


Seseorang berbahu lebar dengan rambut sebagian berwarna keperakan, mengenakan semacam jaket kulit sedang duduk tertunduk dalam posisi duduk membelakangi arah kedatangan Sarah.

__ADS_1


Langkah Sarah seperti pengantin yang sedang berjalan menuju altar, begitu pelan dan terkesan ragu. Dadanya berdegup tak karuan, lebih dari pertama kali menyatakan perasaannya pada Raka.


Sesaat sarah berhenti dibelakang laki-laki yang tak menyadari kedatangannya itu, berusaha mengatur nafasnya yang tiba-tiba mendadak terasa sesak.


Lalu dengan penuh kebesaran hati Sarah menuju kursi diseberang meja cafe yang rendah itu, di mana ada dua kursi sofa kecil bulat diletakkan berhadapan.


laki-laki itu mengangkat wajahnya, dan ini adalah kali pertama Sarah melihat orang yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu.


Sejenak mereka berdua bertatapan, Sarah benar-benar tertegun menatap raut yang berusia mungkin diantara 50-60 tahun itu.


Mata itu hitam, meski tak sehitam bola mata Sarah, rambutnya hitam bercampur putih keperakan menjalar sampai sebagian wajahnya yang tampak tidak bercukur itu. Hidung mancung dengan bibir tipis, sekali lagi tak semirip bibir sarah yang sedikit sensual.


Ada beberapa garis tipis bersusun di dahinya, dan kerutan di sudut-sudut matanya.


Sarah tak bisa berkata-kata melukiskan wajah yang tak sekalipun bisa digambarkannya dalam mimpinya jika dia berusaha merangkai rindu di masa kecilnya bertahun silam.


"Sarah..."Bibirnya terbuka sedikit seolah gumanan, matanya tidak berkedip, lalu tubuh yang masih nampak gagah itu bangun dari duduknya.


Sarah mengangkat wajahnya, seiring dengan tubuh yang berdiri di depannya itu. Dia tinggi dan tak ada yang bisa memungkiri sisa ketampanan masa muda masih begitu lekat padanya.


"Anda ingin bertemu denganku?" Akhirnya ada kalimat yang keluar dari tenggorokannya tapi sebuah pertanyaan yang begitu aneh dan tak lazim.


Dia tak tahu harus memanggil laki-laki di depannya ini dengan siapa, apakah ayah papa atau panggilan lain semacamnya, dan mulutnya begitu saja menyebut "anda" untuk orang yang telah menitiskan darahnya dalam tubuh Sarah.


Desah nafas berat dan ekspersi wajah yang menjadi memerah itu menyambut pertanyaan Sarah. Tapi dia seperti mengerti, anak perempuan ini tak tahu harus bersikap bagaimana padanya, meskipun sekelebat kesedihan dan rasa bersalah menguar di pias wajahnya.


"Ya..."Jemarinya bergerak meremas telapak tangnnya sendiri, seakan ingin menyalami bahkan memeluk tapi dia tak kuasa melakukannya melihat pada wajah cantik yang seperti fotocopi istrinya di masa lalu, begitu datar tanpa ekspresi


"Apa kabar?" Sarah menyorongkan telapak tangannya, menunjukkan niat bersalaman, begitu formal dan kaku. Pertemuan itu begitu dingin dan canggung.


"Baik...bagaimana denganmu?" Ayahnya menjawab dengan suara tak kalah kakunya, kedua telapak tangan yang saling bertaut itu sama-sama dingin.


"Sangat baik..."Jawab Sarah dengan suara yang bergetar.


Entah emosi yang mana yang pantas mereka keluarkan, dua orang ayah dan anak yang tak pernah berjumpa tanpa saling mengenal itu berdiri berhadapan seperti dua orang asing.

__ADS_1


Dengan sedikit isyarat ayah sarah mempersilahkan sarah duduk. Sarah mengikuti, denagn duduk di kusi seberang sang ayah.


Sesaat suasana menjadi hening, mereka hanya saling bertatapan, tak tahu harus memulai dari mana.


"Sarah, terimakasih telah mau datang kemari." Ucap ayahnya dengan suara sedikit parau.


Sarah tak menjawab, dia seolah begitu ingin telinganya tetap merekam setiap suara orang ini. Dadanya semakin terasa sesak, matanya menjadi panas seolah baru saja terkontaminasi uap dari irisan bawang.


"Bukankah, sudah seharusnya aku datang?" Pertanyaan Sarah terdengar gemetar .


"Tidak, bukan begitu, nak..."Ayah Sarah menjadi serba salah.


Mata sarah mengerjap mendengar kata "pnak" yang barusan di dengarnya itu, betapa menyenangkan sekaligus menyakitkan mendengar satu kata itu dari orang yang seharusnya dari dulu menimang dan memanggilnya begitu.


"Aku sama sekali tidak menyalahkanmu, jika telah membenciku. Itu sangat pantas kuterima. Aku telah menelantarkanmu begitu lama."Sang ayah tak bisa menyembunyikan rasa berdosa yang besar di wajahnya yang menua itu.


Sarah tidak menyahut apapun, tapi matanya tak lepas dari laki-laki yang sedang membendung air matanya itu.


"Aku hanya sangat ingin melihatmu, bertahun-tahun terakhir ini aku dihantui bayangan wajah ibumu dan bayi yang dulu kutinggalkan, sampai-sampai rasanya nafasku sesak setiap memikirkanya." Ayah Sarah berucap sambil menundukkan wajahnya, tangannya mengepal sendiri.


"Bahkan aku baru tahu jika bayi yang kutinggalkan 25 tahun yang lalu, bernama Sarah. Sebagai seorang ayah, aku bahkan tak memberimu nama sebelum pergi. Aku sungguh tak layak di panggil ayah." Suaranya terbata-bata, dia merasa hanya berbicara sendiri.


Hening sesaat.


"Kenapa baru sekarang mencariku?" Tiba-tiba Sarah memecah sunyi, dengan nada datar dan tatapan yang begitu tajam, pertanyaan itu menghujam sampai ke ulu hati.


(Terimakasih sudah setia dengan novel author ini🙏 yukkkk.....kasih VOTE, KOMEN dan LIKE plus TIPS seikhlasnya ya...🙏😅 Supaya akak semangat 45 cuss UP episode selanjutnya yang pastinya akak janjikan lebih seru🤗 Lope-lope buat semua reades kesayangan...)



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...

__ADS_1


__ADS_2