Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 184 MENUNGGUMU TIBA


__ADS_3

Pintu itu terbuka perlahan dan Bram menatap terpana pada siapa yang kini berdiri di sana,


Diah berdiri anggun dibalut dress flower dengan motif bunga besar dalam background hitam yang begitu kontras dengan kulit putihnya. Modelnya sederhana tetapi terlihat begitu mencolok saat dikenakan oleh Diah.


Dia layaknya seperti sedang menunggu seseorang.


Yang membuat Bram hampir tak berkedip, istrinya itu bahkan hampir tak dikenalnya.


Rambut panjangnya yang biasa di kuncir seadanya di belakang tengkuk itu tergerai dalam potongan layer modern yang anggun dan modern.


Wajahnya sebening pualam, begitu berkilau dan glowing dalam pantulan cahaya senja yang membias jingga.


Dia berdiri tidak dengan wajah suramnya yang kaku seperti biasa di lihatnya tetapi sebaris senyum menghias bibirnya yang merah muda, begitu manis tanpa beban.


Andai dia tak kenal Diah, maka dia benar-benar tak yakin jika itu adalah Diah, istrinya. Dia terlihat jauh lebih muda dari selama ini dia ingat.


"Kenapa hanya berdiri di sana? Tidakkah mas ingin masuk?" Tanya Diah memecah sunyi begitu tenang dan lugas.


Bram masih tercengang di tempatnya, dia tak pernah terpesona pada Diah seumur hidupnya, tapi hari ini dia bersumpah jika dadanya bergemuruh dengan kencang saat menatap sang istri.



Dengan ragu Bram melangkah, matanya tak lepas memandang pada Diah. Perempuan yang dijadikannya tumbal atas dendam cintanya itu, sungguh benar-benar cantik dan berkharisma.


Hati kecilnya sibuk berbisik, seolah menanyakan dirinya, kemana saja dirinya selama ini sampai tak pernah melihat jika istrinya itu begitu sempurna.


"Aku tahu akhirnya Mas akan datang mencariku. Aku sudah menunggumu, mas dari tadi." Diah tersenyum lebih lebar, senyum itu benar-benar membuat Bram tak bisa mengucapkan dengan kata-kata, bagaimana tidak dia sungguh terkesima melihatnya.


Bertahun-tahun telah lewat dia menutup mata dengan kecantikan istrinya tetapi hari ini dia bahkan tak bisa menolak rasa kagumnya pada perubahan yang terjadi pada diri Diah.


Selama ini, perempuan ini di sibukkan mengurus dua anaknya, merawat anak sulungnya yang sakit hampir separuh usia pernikahan mereka meski kemudian akhirnya meninggal. Dan seumur pernikahan mereka Diah menelan setiap kesakitan yang ditorehkannya entah disengaja ataupun tidak, dengan mentah-mentah tanpa pernah protes apapun.

__ADS_1


Dengan kesengsaraan seperti itu, jangankan merawat tanaman di pekarangan, merawat dirinya pun dia tak punya waktu dan tenaga.


Dan hari ini, Bram mendapat surprise, istrinya itu tampil seperti seorang aktris, hanya dalam kurang sebulan di tinggalkannya setelah pertengkaran pertama dan terdahyat antara mereka tempo hari itu, seingat Bram.


Ketika dia berjarak satu meter dari Diah, istrinya mundur dua langkah memberi jalan untuknya masuk, seolah-olah tak ingin tubuh Bram menyentuhnya, kesan itu benar-benar terasa jelas.


"Bella mana?" tanya Bram berusaha mencairkan ketegangan dan dirinya yang tiba-tiba merasa gugup. Rasanya dia sedang bersama dengan orang asing di dalam rumahnya sendiri.


"Sudah ku antar kerumah neneknya, dari pagi tadi, sementara aku berbenah hari ini." Jawab Diah sambil mengikuti langkah Bram.


"Mas ingin makan? Aku telah memasak banyak hari ini."


Bram sekarang menoleh dengan heran yang tak tertahankan, sikap Diah yang tenang dan santai itu benar-benar memukaunya. Sungguh jauh berbeda dengan sikap Diah selama ini yang selalu menunduk di depannya dengan wajah takut setiap dia mengangkat muka padanya.


"Ada apa denganmu?" Bram berusaha menunjukkan dominansi dengan suara di buat meninggi, tapi yang terdengar keluar adalah nada tanya seperti orang tersedak.


"Apakah ada yang salah?" Diah mengangkat dagunya, bukan kesan pongah yang ditunjukkannya tetapi sikap anggun seperti burung merak. Dia malah terlihat semakin seksi dan mempesona.


"Duduklah, kita akan makan berdua malam ini, seperti dinner para pasangan muda. Mas mungkin sudah sering melakukannya dengan selingkuhan mas itu eh...maksudku kekasih sejati mas itu atau mungkin dengan ratusan perempuan lainnya tapi denganku...? Akh, meski sudah tujuh tahun pernikahan kita, tak pernah sekalipun aku pernah merasakan yang namanya dinner dengan pria setampan mas, yang juga kebetulan adalah suamiku" Diah tertawa kecil seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.


"Aku sungguh sangat penasaran rasanya, walau mungkin memang sekarang masih terlalu sore untuk melakukannya. Tapi setidaknya, suasananya cukup terasa jika kuhidupkan lilin ini." Diah mengambil sebuah pemantik api dan menyalakan sebuah lilin besar di tengah meja dan menyeringai dengan senang ketika lilin itu berpijar.


Bram masih berdiri di tempatnya, menatap kepada Diah yang tak terpengaruh sedikitpun dengan pias Bram yang tegang sendiri.


"Diah..." Bram memanggil nama itu dengan suara parau. Kali pertama dia mendadak gemetar memanggil nama istrinya itu.


"Ya, mas..." Diah menyahut,


"Mengapa sedari tadi mas menatapku seperti melihat setan? Apakah aku sejelek itu?" Diah menaikkan alisnya yang hitam rapih.


"Mas sungguh tak berminat untuk duduk bersamaku?" Diah mendonggakkan wajahnya, seolah

__ADS_1


sedang menunggu Bram duduk di sana menghadap meja makan yang sama di mana aneka menu telah tersedia di depan mereka.



Diah memang adalah isteri yang pintar dalam urusan memanjakan kampung tengah, semua masakan Diah selalu membuat setiap orang tak bisa untuk tidak berdecak.


Sebagai anak sulung dari keluarga sederhana, dia sudah terlatih untuk memasak untuk keluarganya.


Diah tersenyum kecil melihat Bram perlahan menarik kursi di seberangnya. Wajah itu penuh tanya bertabur keraguan, dia begitu hati-hati bahkan nyaris seperti kucing yang sedang waspada.


Seharusnya dia datang tadi meneriaki Diah seperti rencananya, memakinya dan mempertanyakan mengapa dia dengan kurang ajar bekerja tanpa seijinnya, sampai Diah akan menunduk di depannya dan seperti biasanya menyingkir ke dalam kamar putra pertama mereka yang telah tiada dan menangis di sana diam-diam. Setelah itu urusan selesai.


Tapi semua skenario itu seolah menguap begitu saja, Diah yang ada di hadapannya membuatnya tak bisa berkata-kata. Penampilannya saja sanggup membuat Bram kehilangan suaranya.


"Ku ambilkan mas nasi,aku yakin mas tidak makan apa-apa hari ini."


Tebakan sinis itu begitu mengena, seolah dia sangat tahu apa yang sedang di alami oleh Bram sepanjang hari ini dari kemarin sore setelah kedatangan Sally yang mengamuk padanya.


Bram mematung menatap piring yang berisi nasi dan potongan daging rendang kesukaannya. Terlihat menarik tapi seleranya hilang entah kemana.


"Kenapa? Mas tidak lapar? aku masak banyak sekali untuk menyambut mas hari ini. Atau...mas takut, aku akan meracuni mas Bram?"


(Yeay...akhirnya bisa meluluskan permintaan pembaca tersayang untuk Crazy UP hari ini. Senangnyaaaa🤗🤗


Bagaimana kisah kelanjutan Bram dan Diah dalam makan sore yang menegangkan bagi Bram😅 Apa sebenarnya rencana Diah terhadap Bram dalam penyambutan aneh itu? Yuk, tetap di cerita ini🤗 Semoga besok kita bisa crazy UP lagi ya😅🙏


Jangan lupa yang belum VOTE, akak tunggu...😉❤️❤️❤️ hi...hi...maksa banget ya mak othor ini🤭 Tapi itulah hiburan kami penulis, ketika menerima VOTE, like, bunga, dukungan...rasanya Lelah menulis berjam-jam terbayarkan sempurna, ketika karya kami di baca dan di hargai🤗 Eh, mak Othor kok curhat🤣 yang pasti tetap setia baca novel ini yaaaa🙏😅 I love Youuuuu❣️❣️❣️)



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......


__ADS_2