Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 38 SEBUAH KEJUTAN


__ADS_3

Saat tiba di Bandar udara internasional Schipol hari telah menjelang siang, setelah 18 jam Sarah berada di dalam pesawat. Karena


tidak ada penerbangan langsung ke Leiden, jadi harus transit di Amsterdam.


Sarah dengan agak gugup menjejakkan kaki dari area kedatangan. Ada rasa sedih, Raka tak punya waktu untuk menjemputnya. Hanya bermodal nekad saja dia datang ke kota belanda ini.


Dan sungguh anehnya dia begitu berani melakukannya hanya untuk menyusul seseorang yang belum tentu juga menyukainya.


Sarah sudah mengatakan kepada mama sebelum berangkat kemarin dia hanya sampai Amsterdam, ada seorang teman yang akan menunggunya di bandara Amsterdam, seorang sahabat lama, Aldert yang di kenalnya sebagai salah satu perancang busana saat ada event internasional di Jakarta beberapa tahun yang lalu dan mereka masih berhubungan baik lewat Surel serta kerap berbagi informasi tentang desain.


Aldert orang Indo belanda, ayahnya belanda tapi ibunya asli orang sunda.


Tinggal di Amsterdam, beberapa kali meminta Sarah berkunjung dan sekarang mungkin waktu yang tepat.


Sarah juga merasa tak perlu tergesa-gesa untuk menemui Raka, jadi dia bisa jalan-jalan dulu sambil merancang apa yang di lakukannya di Leiden nanti saat bersama Raka. Dan lagi beberapa hari yang lalu, Raka bilang sedang sibuk dengan ujiannya, ada masih sedikit tersisa remah kecewa, kedatangannya tidak terlalu penting untuk Raka.


"Sarah, Hoe gaat het met je..." Seseorang mengejutkannya dari belakang saat Sarah sibuk merogoh ponselnya dari tasnya sambil menarik kopernya.


"Hai, Aldert..." Sarah menyambut pelukan temannya itu, seorang laki-laki tampan sebenarnya cuma dia manis sekali dengan penampilan yang agak nyentrik.


"Kamu tidak perlu berbahasa belanda denganku, aku tidak terlalu faham. Kecuali ngobrol sambil buka kamus!" Sarah merengut pada Aldert.


"Ya...ya...ya...Sorry, beb." Aldert mengacak rambut Sarah.


"Lama tidak ketemu ya...kamu tambah langsing saja." Aldert mengambil gagang koper Sarah dengan sumringah.


"Kemarin pagi kan kita sudah ketemuan lewat video call"


"Itu lewat telpon, beb! Kan kita ketemu terakhir dua tahun lalu di Jakarta, itu saja."


"Masa aku tambah langsing? tambah kurus iya!" Sarah manyun, disambut tawa Aldert, tubuhnya sangat bagus sepertinya dia aktif ngegym, tingginya kalau di lihat-lihat mungkin lebih tinggi sedikit dari Raka.


"Kamu bisa mengenalku di antara orang sebanyak ini? kok bisa, ya?" tanya Sarah dengan heran.

__ADS_1


"Aku malah mau cari kontak kamu mau nelpon tadi, takutnya kita susah ketemu" Lanjut Sarah sambil melenggang, sekarang dia lega tidak akan nyasar di kota asing seperti ini.


"Aku sudah dua jam lho nongkrong di ruang tunggu kedatangan ini, demi kamu. Masa aku bisa melewatkan kamu begitu saja." Aldert merangkul leher Sarah.


"Hush...aku kan bilang aku sudah menikah kan?" Sarah melepaskan tangan Aldert dengan wajah melotot.


"Iya, beb...kamu jahat tidak kirim undangan untukku. Kalau di undang, aku rela terbang dari Amsterdam ke Surabaya."


"Mendadak acaranya, jadi lupa semuanya...!" dalih Sarah, sambil berjalan mengiringi Aldert keluar dari area ruang tunggu kedatangan.


"Kebelet banget kamu kawin ya, beb?" Aldert tertawa menggoda Sarah membuat beberapa orang menoleh pada mereka. Sarah pura-pura tidak mendengarnya.


"Kamu nginap di rumahku ya hari ini...besok kamu lanjut ke Leiden, aku yang ngantar kamu kepada suamimu yang super sibuk itu, sampai istrinya sendiri dibiarkan kelayapan begini" Tawar Aldert, dia sudah tahu Sarah memang tujuannya ke Leiden menemui suaminya.


"Iya, bolehlah...lumayan tidak perlu bayar hotel kan?" Sarah menerima dengan senang hati, setidaknya Raka akan sedikit kuatir jika belum tiba sesuai perkiraannya.


Si suami berhati dingin itu mungkin perlu sedikit shock therapy, biar mamanya ngamuk-ngamuk dulu kalau anaknya itu ketahuan membiarkan menantunya ini kesasar tidak jelas.


"Ayok...ku traktir kamu anggur dan makan siang di Bowerry restaurant di dekat sini. Makanannya enak-enak tidak kalah dengan Jakarta." Aldert menarik tangan Sarah hendak membuatnya bergegas, ketika tiba-tiba seseorang menahan gagang koper Sarah yang sedang di seret Aldert.


"Sorry dat ik stoor (maaf sudah merepotkan)..." Ucapnya dengan sopan.


"Perkenalkan, saya Raka suami dari Sarah. Terimakasih sudah bersedia menemani istri saya sampai saya datang."


Aldert dan Sarah saling pandang dengan rasa terkejut yang sama.


"Raka?" Sarah terpana, kenapa tanpa di sangka-sangka dia bertemu dengan laki-laki ini di pintu keluar ruang tunggu kedatangan bandara.


Bukankah dia sudah di beritahu Raka tak bisa menjemputnya, Sarah sendiri cuma kirim pesan lewat email, screenshoot tiketnya dan sudah meninggalkan tambahan pesan, mungkin bermalam di amsterdam dulu, biar tidak menganggu ujian Raka.


Sekarang si lelaki ini, dengan wajah dingin yang tanpa dosa berdiri di depannya, bahkan tak memberi kabar sama sekali jika menjemputnya.


"Oh, het is goed broer (oh, tidak apa-apa, brother)" Sahut Aldert dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Sayang, maaf aku terlambat tidak bisa tepat waktu, keretaku baru saja tiba." Raka mencium kening Sarah di depan Aldert dengan wajah sok manis yang luar biasa, sebelum sempat Sarah tersadar dari rasa terkejutnya.


Andai saja Sarah tidak tahu kepiawaian Raka dalam bersandiwara tentu saja dia akan merasa bahagia luar biasa jika perhatian dan rasa sayang Raka itu benar-benar dilakukannya dari hati.


Sayangnya, dia tahu benar, laki-laki ini sangat pandai berakting di depan orang, membuat Sarah mati kutu seperti orang bego.


Raka melepaskan genggaman tangannya dari pegelangan Sarah lalu menjulurkannya kepada Aldert.


"Namaku Raka." Lanjutnya dengan lugas.


"Oh, perkenalkan namaku Aldert, aku teman lama Sarah, sesama desainer. Aku tinggal di sini." Sahut Aldert dengan sedikit salah tingkah.


Bagaimana tidak, dia sudah kepergok menggandeng istri orang dengan sembarangan. Tentu saja dia merasa tidak enak dan malu.


"Sebagai ucapan terimakasih apakah boleh saya menawarkan untuk makan siang bersama?"


Tawar Raka dengan sopan.


"Natuurlijk met plezier (Tentu saja dengan senang hati)" Aldert menerima dengan senyum lebar. Dia merasa lega dengan keramahan suami temannya ini dan sama sekali tidak mempermasalahkan kekurang ajaran yang sempat di lakukannya tadi.


"Oke sayang, kita akan makan di Centennial, kamu akan suka shasimi dan rundercarpaccionya..." Raka mendorong koper Sarah sambil mengenggam tangan gadis itu, yang masih kebingungan.


Dengan sedikit memasang wajah masam Sarah mencuri pandang kepada wajah acuh Raka, betapa sulit mengungkapkan dengan kata-kata rasa kerinduan di dalam hatinya dan rasa puas yang menyusup bertemu dengan orang ini.


Meskipun dia sama sekali tak yakin dengan hati Raka sendiri karena tak bisa di tebak seperti apa.


Laki-laki ini memang benar-benar ajaib, suka sekali membuat kejutan dan paling bisa mengacaukan rencananya dalam sekejap.



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2