
Tidak terasa, usia kehamilan Sarah telah memasuki sembilan bulan, sebentar lagi dia akan sampai pada momen yang di tunggu-tunggu.
Kelahiran buah hati tercinta tinggal menunggu waktunya saja, bahkan Raka tampak lebih tegang dari istrinya. Tidak hanya gugup pada keadaan bayi tapi juga mencemaskan Sarah .
"Persalinan bisa saja terjadi sewaktu-waktu, jadi selain sang ibu waspada, kamu sebagai papanya juga harus lebih siaga, sayang." Pesan mama kepada Raka.
"Yang mau lahiran Sarah tapi kok rasanya aku juga tegangnya bukan main ma, seperti mau lahiran juga." Raka mengeluh, sampai-sampai perutnya sering merasa kram dan mual beberapa hari terakhir setelah mendengar bayinya sudah mendekati jadwalnya untuk brojol.
"Jangan-jangan aku merasakan kontraksi palsu yang di bilang dokter Yogi itu," Alis Raka bertaut lucu.
"Eh, yang hamil siapa? Yang kontraksi siapa? Masa kamu yang kontraksi?" Mama tergelak mendengar keluh kesah sang anak yang tampak resah menunggu kelahiran putra pertamanya ini.
"Itu karena kamu agak tegang dan stres, seharusnya kamu lebih tenang untuk istrimu. Jangan malah kamunya lebih stres dari istrimu. Apalagi, menjelang akhir kehamilan, janin bisa terasa sangat berat sehingga membuat istri sering kali merasa kelelahan. Istri harus lebih di perhatikan, lho." Tegur mama.
"Sudah, ma...Raka siaga 86. Sekarang aku full time di rumah, keluar kecuali penting sekali dan tidak bisa di wakilkan baru ke kantor." Raka membela diri.
"Tapi, Sarah lebih banyak uring-uringan akhir-akhir ini, ma. Kadang ngambeknya itu luar biasa. Salah-salah aku di diemin. Bingung sama maunya apa." Raka menghela nafas.
"Sayang, perempuan menjelang melahirkan memang tingkat stress lebih besar dari biasa, di maklumi saja lah. Senang, kuatir, takut, capek campur aduk seperti gado-gado. Bukan hanya itu, suasana hati istri juga bisa berubah-ubah karena merasa takut dan khawatir untuk menjalani proses persalinan nantinya. Namanya juga baru pengalaman pertama." Mama menurunkan volume suaranya, memberi wejangan kepada sang anak.
Raka manggut-manggut.
"Kalian minggu kemarin ke dokter, kan? Dokter bilang apa?" tanya mama dengan penasaran.
"Iya, bayinya sehat-sehat saja, ma."
Jawaban Raka membuat pias lega di wajah mama.
"Istrimu bagaimana? dia kondisinya fit saja kan?"
"Semua baik-baik saja, kecuali..." Raka celingukan takut Sarah tiba-tiba berada di belakangnya.
"Kecuali, dia sekarang sedikit pemarah dan ngambekan." Bisik Raka kepada mama, sambil celingukan.
Mama tertawa mendengarnya, membuat wajah Raka menjadi masam.
__ADS_1
"Kalau di sentuh sedikit saja kadang melotot sampai matanya itu sebesar kelereng." Calon papa muda ini curhat dengan memelas kepada mama.
"Hush, istri lagi hamil besar begitu, ya harus pengertian lah. Jangan suka minta macam-macam."
"Tapi aku suka sekali dekat-dekat dengannya, baunya itu ma, bikin Raka mabuk kalau tidak dekat-dekat dia. Mungkin bau ibu hamil memang menggoda ya, ma..." Dalih Raka.
"Alaaah...alasanmu saja, dari dulu kamu memang sudah mabuk kepayang duluan sama istrimu itu." Mama tergelak mendengar alasan Raka yang mengada-ngada.
"Tidak ada larangan untuk bermesraan ketika istri sedang hamil. Namun, mungkin saja istrimu kadang moodnya lagi down terus merasa enggan untuk melakukannya, di pahani saja. Itu bawa perut besar, kamu kira enak apa? Tapi kamu harus menghormati dan memahami keadaan ini. Temukan cara lain yang lebih elegan untuk menjaga kemesraan dan menunjukkan kasih sayangmu padanya." Mama terkekeh sambil mengacak-acak rambut anaknya itu dengan kasih sayang.
Raka mungkin sudah dewasa, bahkan sebentar lagi akan mempunyai anak. Tapi untuk beberapa hal dia tak pernah bisa dewasa. Bahkan kadang dia tak malu untuk mencari nasehat dari mamanya.
"Eh, ma...kemarin waktu Raka menemani Sarah ke kelas ibu hamil. Rasanya tidak tega pas di ajari teknik memijat istri untuk mengelola rasa sakitnya dan juga Belajar posisi mendampingi istri yang tepat selama ia melahirkan. Sepertinya melahirkan itu sakitnya akan luar biasa..." Raka berbicara dengan bimbang.
"Itu sudah kodrat wanita, sayang. Ketika melahirkan dia harus merasakan sakit, tapi saat kamu melihat anakmu lahir ke dunia, maka semua rasa sakit itu menjadi sangat sepadan."Mama tersenyum membuyarkan kegelisahan Raka.
"Tapi rasanya tak tega melihat istriku kesakitan nantinya, ma. Ku sarankan dia operasi caesar saja tapi Sarahnya ngeyel, mau melahirkan normal katanya." Raka menghela nafas, wajahnya sedikit kesal.
"Caesar dengan normal, sama-sama punya resiko masing-masing. Tidak ada yang benar-benar nyaman, namanya juga melahirkan. Jika memang kondisi bayi dan istrimu sehat-sehat saja, ya biarlah dia memilih normal saja. Menikmati sakit saat melahirkan itu, menyempurnakan diri istrimu sebagai ibu."
"Tapi, ingat pesan mama, jagalah istrimu karena Sarah akan menjalani bagian yang terberat selama kehamilan, yaitu persalinan. Ia nantinya akan mengalami nyeri, kelelahan, dan menghadapi berbagai resiko persalinan. Oleh karena itu, kurangi beban istri dengan selalu membantu dan mendampinginya menjelang melahirkan. Jangan suka bersikap menjengkelkan apalagi keluyuran tak jelas. Ini sewaktu-waktu brojol, lho!"
"Raka tidak pernah keluyuran, ma..." Sergah Raka dengan lagak protes.
"Jadi ayah itu, tidak sama dengan sebelumnya. Tanggung jawabmu lebih besar, nak. Ingat itu."
"Iya..iya, ma...Raka akan mengingatnya."
...***...
Di penghujung trimester ke-3 kehamilan Sarah, mereka sangat intens memeriksakan kandungan ke dokter Yogi.
"Bayinya sehat, jantung berfungsi dengan benar, paru-paru juga semakin baik dan sudah dapat berfungsi. Semua organ tubuh sudah bekerja dengan baik." Kata Dokter Yogi.
"Jangan heran jika merasakan gerakan-gerakan yang lebih sering dari biasanya pada usia seperti ini. Bayi memang lebih aktif menjelang melahirkan, apalagi ruang di dalam rahim sudan semakin sempit."Tambah dokter tampan itu.
__ADS_1
"Tubuhnya dapat memutar dengan posisi kepala ada dibawah menghadap jalan lahir. Sarah juga akan semakin dekat dengan proses persalinan, jadi siapkan mental dan fisik Sarah sebaik mungkin. Seiring semakin bertambahnya usia kehamilan, posisi bayi juga nantinya akan masuk ke panggul. Ini artinya, bayi siap untuk dilahirkan."
"Dok, ini kira-kira kapan, ya melahirkannya?" Raka bertanya dengan tak sabar.
"Paling lambat, akhir bulan ini."
"Hah, dua minggu lagi?" Raka bertatapan dengan Sarah, antara senang dan tegang.
"Perkiraan tanggal kehamilan, tanggal 24 akhir bulan ini,"
Sekarang detak jantung mereka berpacu lebih cepat dari biasanya. Sebentar lagi mereka bertemu dengan hari yang di tunggu-tunggu.
Memasuki usia kehamilan 38 minggu, ini seharusnya bobot janin telah mencapai hampir 3 kg. Tapi dari hasil USG sepertinya berat badan baby kita ini masih kurang ideal dari usianya." Dokter Yogi mengerutkan keningnya.
"Jadi harus bagaimana, dok?" tanya Sarah dengan kuatir.
"Tenang saja, ini hanya perkiraan sebenarnya, tapi alangkah baiknya makan makanan bergizi lebih banyak lagi, selain vitamin jangan lupa susunya rutin ya, terus bisa lebih banyak konsumsi juice buah, yogurt, telur, kacang-kacangan. Istirahat cukup dan kurangi stres menjelang persalinan."Saran Dokter Yogi.
"Tuh, sayang...pokoknya nanti aku yang suapin kamu makan. Pokoknya, bayiku harus lima kilo pas lahiran."
"Eh, enak saja. Masa bayinya harus lima kilo, aku bisa pingsan mengeluarkannya." Sarah mencubit pinggang suaminya itu dengan cemberut.
Yogi tak bisa menahan tawa melihat Raka yang begitu bersemangat.
Raka dan Sarah benar-benar berusaha mempersiapkan diri untuk kelahiran sang bayi, buah hati mereka, meski sebagai calon orang tua masih minim pengalaman tapi mereka berdua begitu antusias untuk belajar. Mendengarkan pengalaman orang lain dan nasehat dari orang tua itu adalah pendidikan yang sangat berharga.
(Opss...Lahiran sebentar lagi nih, siapa yang mau pertama kali lihat penampakan bayi Sarah dan Raka? Tetap di novel ini, ya😆😆)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1